Ibu
.
Ini tulisan ku tentang seorang wanita
Tidak cantik tidak pula pandai merias diri
Selalu serius, tidak pernah bisa diajak bercanda
Tapi sungguh dia wanita mandiri
.
Gemar melukis, memainkan warna
Katanya itu jati diri
Selalu terdiam tak banyak bicara
Meski kalau marah lepas kendali
.
Tapi hari itu kulihat dunianya luluh lantah
Si wanita mandiri tak kuat lagi berdiri
Ku berikan bahuku untuk bersandarnya
Dia menangis menjadi jadi
.
Ibu...Kusebut namanya
Si wanita tangguh yang suka menyendiri
Yang terluka karena kehilangan
Mengusap airmatanya, lalu bangkit berdiri
.
Ibu...Aku tahu engkau berpura pura
Mencoba tetap kuat meski tersakiti
Ibu..Terimakasih untuk segalanya
Dari aku si anak laki - laki
-Kidung-
Begitu kira - kira yang anak ku tulis saat ujian praktek bahasa Indonesia nya. Dia menulis puisi tentang sudut pandang nya terhadapku. Aku tersenyum, dia bertanya, Ibu suka puisi aku? Aku jawab Iya..Ibu suka. Dia pun kembali membaca lantang puisi nya di depan ku. Puisi yang sama, yang membuat aku merasa tidak merasa sendiri. Semenjak kepergian Ibu, aku masih menata hati, mencoba ikhlas menerima kenyataan. Aku tak ingin bercerita banyak mengenai kehilangan ku, itu sudah membuat ku cukup sakit. Aku hanya ingin bercerita betapa hebatnya anakku. Karena ini perjalanan kami, Kidung's Journey.