Oke, kali ini aku mau cerita pengalamanku saat perjalanan besar saat aku kelas 8. Kali ini aku ingin cerita tentang Toko Tenun Ridaka.
Toko Tenun Ridaka yang berada di Jalan H Agus Salim Klego VI No 4 Pekalongan yang kira-kira memiliki luas 1200 meter kubik dan dikelola oleh Pak Nazie Abdul Kadir, seorang penerus generasi kedua, ayahnya bernama Dra Thuraya Abdul Kadir. Dan tempat tenun ini sudah ada sejak 1940. Di dalam tempat ini ada toko hasil tenun dari para pengrajin yang membuat kain dan ada tempat pembikinan kain itu sendiri. Tempatnya sudah dari dahulu, tetapi di renovasi seperti dahulu di tempat bikin kain belum pakai tegel lantainya, masih tanah tapi sekarang dipasang. Lalu atap juga ditambal terus menerus.
Dahulu, ayah dari Pak Nazie melihat bahwa eceng gondok di sungai yang pemerintah taruh agar tidak ada limbah lagi tapi berdampak buruk bagi ekosistem dan jadinya dibuang. Menurutnya, masalah ini tidak baik. Lalu dari itu ia berpikir, apa yang bisa dibuat dari eceng gondok. Sampai ia terpikir, kenapa tidak dijadikan bahan tekstil saja. Dari saat itu, jadi produksi bahan tekstil dari eceng gondok, dan bukan hanya eceng gondok tetapi pelepah pisang juga ada. Dan sekarang bahan tekstil dari pelepah pisang ini selalu dipesan oleh perusahaan dari Jepang.
Bahan tekstil alam yang digunakan ada banyak, seperti akar wangi, pelepah pisang, jut/agel/benang goni, sutra, katun dari nanas, serat lidah mertua, sisal dan eceng gondok. Tapi juga ada bahan tekstil yang sintetis, sesuai pesanan saja, bisa sintetis dan bisa bahan alam.
Pewarna juga, ada yang alam ada yang sintetis. Tapi yang alam jauh lebih mahal dan lebih lama untuk dipakai. Jadi pembeli kebanyakan memakai pewarna sintetis.
Sekarang, membuat tekstil kebanyakan sesuai pesanan dari pelanggan, ada yang dari Italia, dari Jepang dan dari Amerika. Hasil dijual sebesar 60% keluar negara dan 40% di Indonesia. Biasanya pembeli memakai tekstil untuk barang interior dan barang-barang hotel.