AES04 Tidak perlu selalu terburu-buru berkejaran dengan waktu.
Lulu
Wednesday May 20 2026, 11:31 PM
AES04 Tidak perlu selalu terburu-buru berkejaran dengan waktu.

"Itu adalah Zahir," ungkap Kak Mamat.

Aku belum mengerti betul arti makna kata itu. Yang aku tahu, Zahir didefinisikan sebagai sesuatu yang nyata atau jelas (Kata mbah google) hehe. Namun, aku memilih membiarkan diriku memproses maknanya perlahan-lahan.

Setelah mendengar cerita kak Mamat tentang sebuah kejadian pagi yang menyentuh hati. Aku jadi refleksi diri, betapa banyak kebaikan yang nampak, namun sering kali kita lewatkan begitu saja karena dianggap biasa. Padahal, kebaikan kecil kerap menciptakan hal-hal baik lain yang tidak terduga. Aku pun sering kali lupa, atau beberapa kali terlambat menyadari momen-momen yang ternyata berbuah kebaikan bagi diriku sendiri.

Di kala akhir pekan yang panjang beberapa waktu lalu, aku sebenarnya berencana menyelesaikan beberapa urusan. Namun, entah mengapa, hari itu aku justru ingin berjeda di rumah. Sempat aku berpikir, “Ah nggak apa-apa kali ya, tapi kaya banyak yang perlu dikerjain gitu.” Siapa sangka, di balik keputusan untuk rehat itu, ada pesan Tuhan yang dititipkan untukku. Hari itu aku memesan jasa pengiriman instan untuk mengambil makanan di rumah temanku. Butuh waktu lama hingga akhirnya aku mendapatkan seorang pengemudi.

"Teh, maaf ya lama. Punten pisan macet," ujarnya.

Membaca pesan itu, aku hanya tersenyum. Tak apa, pikirku, lagipula aku kan tidak sedang buru-buru.

"Teh maaf ya agak lama agak macet” tulisnya lagi, kali ini sembari mengirimkan foto kondisi jalanan.

Mungkin bapak itu merasa tidak enak hati. Aku juga sangat menghargai usahanya untuk tetap berkomunikasi di tengah kemacetan kabupaten ini.

"Enggak apa-apa Pak. Tenang aja, nggak lagi buru-buru sayanya juga. Santai aja Pak," Ujarku.

Akhirnya, pengemudi itu tiba di rumah. “Teh, punten saya jadi malu. Jadi ga enak saya lama banget. Terima kasih ya, Teh, ini pesanan pertama hari ini. Terima kasih banyak," ujar sang Bapak. Aku memandangi senyumnya yang merekah lebar sembari membuka jas hujan. Seketika aku terdiam. Ada kehangatan yang terasa dalam tubuhku, aku senang.

Singkat cerita, aku meminta nomor kontak bapak tersebut kepada temanku. Dari awal, aku memang berniat membagikan sedikit rezeki kepada pengemudi yang menerima pesananku. Aku merasa tidak enak hati membayangkan mereka harus bekerja di akhir pekan yang padat ini. Macet sekli! Saat menjelang malam, temanku mengirimkan sebuah pesan terusan dari beliau: "Punten, sampaikan ke Teh Lusi, alhamdulillah nuhun pisan. Jazakallah khairan..." Beliau mendoakan kesehatan serta keberkahanku, bahkan ia berharap agar langkah-langkah hidupku selalu dipermudah. Baik sekali! #Terharu

Ingatanku lalu melompat ke momen saat aku berkunjung ke Solo. Setiap kali mendatangi kota lain, aku selalu berniat untuk membeli koran lokal edisi hari itu, ya sebagai oleh-oleh untuk diriku sendiri! Kenang-kenangan! Saat sedang makan di sekitar Pasar Gede, aku membeli satu koran dan sebuah Majalah Bobo dari seorang Bapak berkaus biru. Interaksi kami berlangsung sangat singkat. Satu-satunya ucapan beliau yang kuingat hanya, "Makasih, Mbak. Saya beli makan dulu ya."

Riuhnya suasana pasar membuatku melupakan kejadian singkat itu. Namun, kata temanku, “Bapaknya senyum!” Rasa penasaran itu terjawab saat di perjalanan pulang, temanku menunjukkan sebuah rekaman video ketika aku membeli koran tersebut (Dia merekamku diam-diam). Di video itu, aku bisa melihat dengan jelas senyumannya!

Sepanjang jalan pulang, kami merasa tenang dan bahagia. “Kayanya karena Bapak tadi seneng kali ya!” samar-samar suara terdengar di telinga. "Kapan-kapan balik lagi yu!" Ungkap seorang teman.

Saat kilas balik mengenang semua kejadian ini, aku baru tersadar: hal-hal sederhana selalu menyimpan makna yang besar. Sesuatu yang tak kita duga, ternyata dapat membangunkan kesadaran orang lain. Sesuatu yang bahkan tidak kita sadari, justru disyukuri oleh orang lain. Seketika air mataku menetes, namun hatiku terasa begitu tenang. Mungkin, ini cara Tuhan membalas doa-doaku; dengan mengirimkannya kembali melalui do’a orang-orang yang bertemu denganku. Momen-momen ini menjadi pengingat berharga bagiku untuk berani berjeda, dan tidak perlu selalu terburu-buru berkejaran dengan waktu.

You May Also Like