Saya terkadang iri kepada kedua anak saya, Tara & Yasha. Mereka berdua selalu punya partner untuk berpetualang. Tahun-tahun pandemi pun terlalui begitu saja bagi mereka. Sedikit kehilangan ruang gerak, namun ruang imajinasi mereka begitu luas. Hanya dua atau tiga kali selama pandemi, saya mendengar ucapan "bosan" dari mulut mungil mereka. Sisanya... "aku sibuk sekali...".
Tara & Yasha memang "terpaksa" harus mandiri sejak usia dini. Sejak usia 1 tahun mereka sudah belajar menciptakan hiburan untuk dirinya sendiri. Dengan keterbatasan orang tua selama 7 tahun pertama ini, mereka tetap menemukan dunia riang mereka sendiri. Mereka beruntung tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk punya kawan bermain yang bisa mengimbangi cara mereka menikmati hari-hari mereka.
Momen mengenal kelompok belajar (playgroup) merupakan momen yang emosional bagi saya. Awalnya sangat sulit mempercayakan anak-anak pada otoritas di sekolah. Tapi lagi-lagi mereka berhasil melalui fase ini. Di awal semester saya harus menemani mereka di depan kelas, namun belum 1 tahun berlalu, si cantik sudah tegap melangkah mandiri masuk ke dalam kelas dengan percaya diri. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih pada kakak yang senantiasa tulus mengiringi langkah mereka setiap hari dalam melewati lorong menuju kelas sepanjang jenjang ini.
Memasuki jenjang TK-SD1, mereka membangun keterampilan craft mereka secara mandiri. Di sela-sela sekolah online yang membuat jenuh, mereka mengembangkan hobi mereka. Pikir-pikir ini mungkin cara mereka mengimbangi rutinitas mereka agar hari-hari mereka tetap seru.
Belanja rutin 1 rim HVS adalah salah satu cara yang biasa kami lakukan untuk mendukung mereka mengekspresikan dirinya. Sejak jenjang SD1, saya menemukan (atau baru memperhatikan yah bu? ) mereka meciptakan karya & permainan dengan bahan dasar kertas. Kertas HVS, Kertas bekas, kertas warna, terkadang potongan kain perca, lem & gunting yang berserakan di meja & seluruh permukaan karpet, adalah penanda daerah teritori mereka dalam berkreatifitas.
Jika pada umumnya orang akan secara otomatis akan menggambar jika disodori perlengkapan menggambar & kertas kosong, berbeda dengan Tara & Yasha. Mereka tidak hanya membuat berlembar-lembar versi karakter imajinasi, tapi mereka juga menemukan cara bermain dengan memanfaatkan perlengkapan seadanya dirumah. Membuat boneka (dari sisa guntingan) kertas, permainan bertukar lembar quiz, membuat komik -lengkap dengan teknik menjilid kreasi mereka sendiri, wayang 2D dan 3D, mendesain baju kertas, dan masi banyak lagi. (kita bahas secara khusus ditulisan lain ya!)
Semakin mereka bertumbuh, saya merasa banyak tertinggal dari mereka. Jika sejak bayi, mereka bermain apa yang saya mainkan. Seiring bertambahnya usia, Tara & Yasha mulai menciptakan permainan atau menjalankan kesenangan mereka TANPA SAYA! Biasanya pada beberapa detik saya tercengang dan bicara dalam hati " Koq bisa ya? Perasaan saya gak pernah ngajarin.." Itulah salah satu keajaiban anak!
Kadang saat lelah & kurang kesadaran diri, saya merasa "ini teh anak siapa sih?" akakakakakakk... Bukan Asing. Namun saya seperti menemukan hal baru dari perkembangan kepribadian mereka.
Banyak hal mengejutkan yang muncul di usia mereka kali ini. Sudah tidak ada lagi anak "oke mama" seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka mulai mempertahankan aturan yang diterapkan. Mereka mulai menyadari & membandingkan kehidupan mereka dengan kawan sekitarnya. Muncul juga banyak sanggahan frontal atas banyak instruksi. Namun banyak juga hal-hal baru yang luar biasa yang hanya bisa mereka capai di usia sekarang. Mereka membuka diri pada hal-hal baru di sekitarnya.
Satu persatu pengaruh & perilaku teman bermainnya mereka bawa pulang ke rumah, dan hampir semuanya tidak bisa saya approve. Penggunaan bahasa yang tidak pantas untuk anak seusianya, kebiasaan yang tidak diterapkan pada keluarga kami, pemahaman baru yang mereka terjemahkan oleh nalar mereka, dan masih banyak lagi. Selalu ada cerita mengejutkan dan menggemaskan yang berbeda setiap hari. Hal itu kini telah mewarnai hari-hari mereka belajar di sekolah. Sebagian saya dengan dari mulut mereka, sebagian saya dengar dari kakak fasilitator di kelas mereka.
Tidak terasa 7 tahun pertama kehidupan mereka terlewati begitu saja saat pandemi berlangsung. Kini Tara & Yasha berusia 8 tahun. Pertemuan kembali dengan kawan-kawan seusianya terasa sangat emosional. Dipenuhi evoria dan hal-hal tak terduga. Hanya membutuhkan waktu sebentar bagi mereka dan teman sekelasnya untuk membangun kelekatan dengan kawan-kawan bermainnya. Istilah "Bestie" dan " Bestfriend" muncul di keseharian mereka & menjadi bagian dari catatan harian kakak fasilitator.
Jenjang SD2 merupakan peralihan mereka membaca buku bacaan penuh illustrasi dengan kalimat bacaan yang pendek, ke buku bacaan yang memiliki kalimat cerita lebih panjang, dan terkadang tidak dilengkapi dengan illustrasi pada setiap halamannya. Jenjang dimana saya mulai mendengar mereka punya gosip di lingkungan pertemanannya disekolah. Era dimana segala sesuatu tentang elsa - anna sudah mulai ditinggalkan, kemudian tergantikan oleh meriahnya adrenalin korean girls group, Blackpink.
Suatu hari saya membawakan buku bacaan buku baru. Mereka senang sekali membuka-buka halamannya. Mereka membukanya secara random, dan menikmati halaman mana yang terbuka hari ini. Kadang saya menemukan mereka tertawa-tara sendiri. Biasanya kalau menemukan tulisan yang menggelitik mereka akan berkata " Mama, coba dengerin cerita ini ni..", seperti saat mereka membaca cerita yang berjudul "Ngupil". HAhahaaha memang kocak! Tapi tolong ya nak... jangan kamu praktekan ya apa yang ada di tulisan. ♀️
Hal menarik, mereka juga menciptakan permainan dari sebuah bacaan. Mereka berdua bermain dengan alur cerita buku. Membahas, menertawakan, memainkan permaian "ayo lanjutkan ceritaku", atau sekedar mengometari illutrasi pada buku bacaan. Terkadang saya menemukan mereka sedang membahas apa yang mereka dapatkan dari bacaan mereka. Seperti suatu sore ketika saya tiba-tiba ditodong pertanyaan saat memasuki area bemain mereka :
" Mama, emangnya kapan sih orang mulai pacaran? "
" Emangnya kenapa ?" Kutanya. Akhirnya dengan berusaha nampak tenang, saya bertanya balik "Kamu tau pacaran itu apa?"
Mereka menggelengkan kepala mereka.
" Mestinya sih pacaran itu untuk menikah. Seperti uncle kamu, mereka punya pasangan untuk nantinya menikah. Dan untuk menikah itu kita harus sudah menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Bayar listrik sendiri, masak nasi sendiri, jaga kesehatan sendiri, dan masih banyak lagi " Hehehehee pokonya aku berbagai tanggung jawab orang dewasa yang tampak sulit & membosanka dimata mereka.
" Menurut kalian, kalian sudah bisa bertanggung jawab pada hal-hal yang dilakukan orang dewasa belum?"
" Sudah bisa membersihkan rumah sendiri belum? Sudah bisa menjaga kesehatan sendiri belum? Sudah bekerja mencari nafkah sendiri belum?", aku tambahkan pertanyaan agar semakin ekstrem. Walau tanpa sadar, semakin banyak contoh, semakin saya mempertanyakan apakah diri saya seorang yang dewasa.
Lagi-lagi mereka merespon dengan menggeleng-gelengkan kepala mereka.
" Selama kalian masih anak-anak.. kalian nikmati saja masa kanak-kanak... Biar hal-hal yang dikerjakan saat sudah dewasa, kamu lakukan dimasa dewasa saja. Betul? Ngapain pusing-pusing.. kenyang-kenyangin main aja semasa kecil " Saya membuatkan mereka kesimpulan ahahahahhaa
"Menurut Tara & Yasha, kapan mulai orang pacaran? "
" Di buku Meps, (katanya usia 15 tahun"
APA?? Coba sini mama liat apa yang kamu baca....
ya Ampun, ternyata isi bacaannya ada percakapan mengenai pacar!
Saya pikir diantara teman-teman SD2 nya ada yang mulai pacaran, atau mereka sudah mulai menandai kawannya sebagai pacar. Hahahahaa rupanya mereka sedang mendiskusikan isi bacaan!
" Iya sayang... pemikiran orang khan beda-beda. Ada yang percaya sudah bisa berpacaran di usia 15 tahun, ada yang di usia uncle. Menurut kamu kalo pacaran sekarang ngapain ajah?"
" Jajan bareng, duduk bareng, main bareng" begitu kata mereka.
" itu sih uda kamu lakukan bareng Bestie, betul?" Ujar saya.
" Iya juga yaa.. " raut wajah mereka tampak sedang memproses pemikiran yang saya input Kita lihat saja sampai kapan pemikirian itu akan diterima & bertahan dipegang oleh mereka.
.
.
.
.
" Ya udah aku main ama bestie aja, ma.. ". Mama pun tersenyum penuh makna tersembunyi
.
.
Sekian.
*** From Original Blog : https://lokalikumamakuri.wordpress.com/2023/02/22/mama-kapan-kita-mulai-pacaran/?preview_id=780&preview_nonce=1763fb8b59&preview=true
Ucing!! ❤️❤️❤️ ka @irvanny-mertanti
Atau Ka @tesaputripermatasari juga bole
Aku uda tepain yah @wulan-bubuy @aileenlais aku uda lanjutkan yaa..
Asiiiik banget nih ceritanya, tapi beberapa gambar ternyata terlalu besar untuk dilihat di hp. Jadi nanti harus kubaca ulang di laptop. 🤭
Taraaa, Yashaaa.. duh asik banget baca cerita hari-hari mereka 🤩
Tante Bubuyy ❤️
Hahahaha... Saya ngalami juga. Saat TK Kano punya bestie namanya Claire. Ketika pulang dijemput bapaknya yang pendiam dan pemalu Claire, teriak," Bye Kanoooo. I love youuu!" Kano jawab dari kejauhan," Bye Claire.. I love you too..." Saya lihat Bapaknya tertunduk wajahnya merah sekali, sementara guru-guru dan orang tua murid lainnya yang mendengar tertawa terbahak-bahak.
Astagaaa TK yaa oom Joo