Merayakan Koran Akhir Pekan
adhmsm
Saturday July 26 2025, 8:23 AM
Merayakan Koran Akhir Pekan

Ketika masih menjadi mahasiswa yang berkutat dengan persastraan, saya bersama teman-teman senasib-sepenanggungan selalu rajin bangun pagi pada akhir pekan cuma untuk berburu koran di loper-loper pinggir jalan. Alasan utama kami berburu koran adalah mengecek, barangkali karya yang pernah kami kirimkan nyangkut di koran-koran tertentu. Sebagai konteks, akhir pekan adalah hari ketika banyak koran menayangkan kolom karya sastra.

Tentu saja kami lebih banyak kecewa daripada bahagia, sebab karya kami sesekali saja dimuat. Bagaimana tidak berkubang dalam perasaan kecewa dan bahagia, selain untuk prestise, suatu hal yang bisa saling kami sombongkan, saat itu kami mengandalkan honorarium atas pemuatan karya untuk menyambung hidup. Memang, saat itu kami tergolong "Makinwa" (Mahasiswa miskin dan watir). Beberapa koran tidak mengabarkan kepada kami sebelumnya apakah karya-karya sastra kami akan dimuat atau tidak. Sementara, pada beberapa koran, kami harus mendatangi kantor koran untuk meminta honorarium secara langsung ketika karya kami dimuat. Maka, ketika kami tidak tahu apakah karya kami dimuat, hangus sudah kesombongan dan honorarium kami sekaligus.

Saya masih ingat pemuatan karya pertama, yakni tiga puisi di koran Indopos pada tahun 2014. Pada satu akhir pekan di tahun 2014, seorang senior mengirimkan pesan kepada saya, memberi tahu kalau karya saya dimuat. Dari ketiga puisi tersebut, satu puisi saya dedikasikan secara khusus kepada seseorang yang saat ini menjadi istri saya, sementara untuk dua puisi lainnya saya lupa menuliskannya untuk siapa. Berikut salah satu puisinya:

Berbenah

-Da

 

bibirmu adalah seorang ibu

yang rapi menyembunyikan luka

dan aku serupa rindu seorang anak,

tersesat dalam asing kota

 

dan kita berbenah:

aku mencari alamat

pada sebuah kepura-puraanmu;

sementara kau sibuk menunggu,

                     menanamkan sebab

pada sembab matamu

 

2014

Lebih dari sepuluh tahun semenjak karya pertama saya dimuat, sekarang, masa ketika koran menjadi media massa yang populer pun kian redup, satu alasannya disebabkan oleh media online yang makin berjamuran. Dampaknya, oplah penjualan koran berkurang, beberapa media koran tidak lagi memberikan honorarium untuk karya yang dimuat, bahkan beberapa koran pun harus bangkrut. Salah satunya, koran Indopos, media yang memuat karya pertama saya pun sudah lama tidak beroperasi. Beberapa kali saya mendapat pesan jawaban ketika hendak menanyakan honorarium kepada karyawan di koran tertentu, "Maaf, Kang. Saya sudah tidak bekerja di koran itu." Entah karena efisiensi besar-besaran yang marak belakangan atau apa pun itu. Namun di tengah gonjang-ganjing senjakala koran, satu media koran yang legendaris di Bandung, yakni Harian Pikiran Rakyat, saat ini masih bergulir, dengan besaran honorarium yang masih sama seperti dulu. Keren sekali, Pikiran Rakyat!

Sampai saat ini, kebiasaan untuk mengecek koran, khususnya pada akhir pekan, masih saya lakukan. Meskipun saat ini saya tidak hanya mengirimkan karya sastra, melainkan karya berupa ilustrasi. Hanya saja, saat ini loper koran semakin jarang ditemukan. Saya perlu mencari ke sana-sini lebih dulu, sebelum akhirnya menemukan Bapak Penjual Koran yang sedang membaca koran jualannya sendiri di pojokan ruko yang bukan miliknya.

Sebagai upaya mengapresiasi media koran dan para penjualnya, mari kita ramaikan dan rayakan lagi koran-koran dengan membelinya, dengan membacanya!

2025