Aku nggak tahu kapan persisnya aku mulai jatuh cinta sama metafora. Tapi yang jelas, aku sering banget pakai ini di puisi-puisi yang kutulis. Metafora itu kayak bumbu micin di makanan, kita nggak sadar dia ada tapi kalau nggak dipakai rasanya jadi hambar.
Misalnya kalau aku lagi nulis puisi tentang hujan, aku nggak akan bilang “Hujan turun deras.” Nggak seru lebih baik aku tulis, “Hujan adalah tangisan langit yang lelah menyembunyikan luka.” Nah keren kan? Padahal intinya tetap sama: hujan turun deras. Tapi metafora bikin itu terdengar seperti perasaan dan siapa sih yang nggak suka perasaan?
Masalahnya gara-gara terlalu suka metafora, aku kadang suka kebablasan. Contohnya waktu aku bilang ke temen “Hidup kita tuh kayak layangan putus, cuma nunggu angin kencang buat jatuh.” Eh dia malah nangis karena lagi galau sama pacarnya. Padahal aku cuma mau ngomong kalau kita lagi nggak punya uang buat makan siang.
Aku juga punya kebiasaan aneh: suka meta berharap. Apa itu meta berharap? Itu ketika aku pakai metafora untuk mengutarakan sesuatu yang aku harap bisa terjadi. Contohnya, waktu aku bilang ke teman yang kusuka “Kamu tuh kayak bulan di malam hari, jauh tapi bikin aku nggak bisa berhenti lihat.” Dia cuma ketawa kecil dan ya, harapan pupus di situ juga buat merayunya.
Tapi serius metafora itu keren banget kalau dipakai di puisi. Ia membuat hal sederhana jadi terdengar istimewa. Misalnya, aku pernah nulis: “Kopi hitam adalah malam tanpa bintang, pahitnya mengingatkan aku pada jarak antara kita.” Padahal aku lagi ngomongin kopi sachet yang kelupaan dikasih gula. Tapi dengan metafora, tiba-tiba itu jadi puisi penuh makna.
Kadang aku mikir, apa metafora juga bagian dari kita yang nggak mau bilang sesuatu secara langsung? Semacam kode halus yang diharapkan orang lain bisa paham. Tapi itu kan seperti berharap hujan turun cuma karena kita mendung di dalam hati. Meta banget ya.
Jadi kalau kalian suka metafora seperti aku, ingat satu hal: pakai secukupnya jangan sampai setiap percakapan sehari-hari malah jadi teka-teki. Karena meskipun metafora bisa membuat hidup lebih puitis, ada kalanya kita juga harus jujur apa adanya. Tapi kalau untuk puisi? Gas terus metaforanya! Karena siapa tahu, dari satu metafora, kita bisa mengubah harapan jadi kenyataan. Atau kalau nggak, setidaknya jadi postingan Instagram yang dapat banyak like.