Ada sebuah diskusi seru saat pillow talk barusan. Tentu saja berawal dari cerita 1001 kecerewetan Seira.
Sebetulnya dia sudah tidur sebelum aku masuk kamar terlelap bahkan bibirnya sedikit terbuka hahaha lucu sekali, dalam hatiku yah hari ini reporternya sudah tertidur aku ketinggalan ceritanya. Bagai mendapat telepati nirkabel kemudian dia membuka mata besarnya. “Ibu sudah pulang!” Wah wah capek ku tiba-tiba menguap melihat senyum cerianya walau matanya tidak bisa berbohong, dia mengantuk.
Sambil mengumpulkan nyawa yang melayang-layang aku ijin untuk mandi sebentar, lalu kulihat dia sudah bersemangat untuk menceritakan kisah serunya.
Satu pernyataan terucap dengan wajah setengah bingung. “Kata kakak kertas itu bangun datar!” Aku menjawab dengan yakin, “Menurut ibu sih bangun ruang karena kertas memiliki ketebalan.”
Panjang kali lebar kujelaskan bahwa setiap benda yang ada di dunia ini adalah bangun ruang karena sesuai definisinya yaitu memiliki panjang, lebar dan tinggi.
Mulai mengantuk karena mendapat kuliah dadakan kemudian dia pamit, “Aku ngantuk bu, besok aja lagi.” Tak sampai semenit dia sudah hilang tak bersuara, begitulah resep obat tidur paling ampuh, belajar mana dadakan lagi.
Penasaran, aku mencari lagi referensi lain. Mana yang benar kertas adalah bangun datar atau bangun ruang? Jangan sampai aku keliru menanamkan benih yang sedang subur-suburnya itu, salah-salah dia bisa kehilangan kepercayaan padaku untuk bertanya sesuatu.
Setelah dicari lebih dalam ternyata tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Kami memandang dari perspektif yang berbeda. Sei anak 8 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SD diberi pemahaman secara geometri matematika dasar sebatas.. kelas 3 SD, sedangkan aku ibu-ibu yang usia dan pendidikan lebih dari pemahamannya saat ini menilai pernyataan tadi dari sisi studi lain, duh aku sampai tertawa sendiri.
Sei sedang belajar konsep dasar, jelas kakak memberi tahu bahwa kertas adalah suatu bangun datar. Bagaimana bisa aku malah memberikan pemahaman ‘lompat tangga’ begitu. Aku membuat dia bingung dengan konsep pelajaran fisika dan teknik! Ibarat dia sedang membuat pondasi aku malah menawarkan untuk memasang keramik. Belum saatnya hahaha
Tapi aku bersyukur dia tidur duluan, aku jadi punya waktu untuk mencari lebih banyak dan memahami konteks studi anak seusianya. Besok akan kulanjutkan diskusi yang tertunda tadi, akan kujelaskan untuk sekarang pemahamanmu mengenai kertas sebagai bangun datar itu sudah cukup dan benar.
Sebagai orang tua yang terbuka (sulit untuk tidak menginterupsi tapi aku sedang berusaha), kita harus membuka ruang diskusi yang nyaman untuk anak, bukan begitu? Banyak celetukan-celetukan kecil yang sebenarnya membuka peluang untuk belajar. Benar salah urusan belakangan, mau atau tidaknya mendengarkan dan menerima pendapat menurut pandangannya yang penting. Membuat mereka merasa nyaman dan dihargai orang tuanya. Bonusnya kita menjadi orang yang bisa mereka percaya, tempat mereka bercerita, bukan orang lain di luar sana.
Banyak sekali yang aku pelajari dari mendampingi belajar anak cerewet itu setiap hari. Ternyata kami adalah sesama siswa, selamanya siswa tidak kurang tidak lebih.