Jika ada pertanyaan-pertanyaan "tidak umum", pikiran langsung mengerucut pada sebuah nama, @leoamurist Meski bagiku Kak Leo tak pernah memberi jawaban pasti, sebagaimana diharapkan setiap orang yang bertanya, tetapi di situlah candunya. Jawaban, kalimat-kalimat, tulisan-tulisan Kak Leo selalu menggugah hasrat untuk menelaah lebih dalam. Pada satu titik, sempat terpikirkan, mengapa aku "tidak bisa" sepeka atau sedalam itu menguliti "resah" di dalam diri. Apa mungkin karena ada kecenderungan untuk perasaan-perasaan "ah, tak apa masih aman." Atau seperti tulisan Kak Leo yang ini Stagnan Adalah Keniscayaan Kalau ... yang di dalamnya kutemukan kalimat-kalimat yang menggelitik dan mengusik. Misalnya, "Bebaskan diri dengan menghayati (mengerjakan) kemungkinan, peluang, dan sebab akibat ruang diri sendiri. Kalau mampu. Yak, karena tidak pernah ada yang namanya kemauan dan hanya ada kemampuan. Toh, kemampuan pertama adalah mampu untuk mau."
Kak Leo dalam tulisan dengan judul yang sama (di atas) menyinggung penundaan aktif (active procrastication). Sementara penundaan pasif masih saja kulakukan, tepat ketika membaca bagian bentuk penundaan aktif itu, saraf tawaku langsung disentil. Lebih lucu lagi ketika kutemukan bahwa penundaan aktif ini kulakukan juga dengan penuh kesadaran. Termasuk memilih untuk stagnan pada hal-hal tertentu. Selain karena alasan nyaman dan aman, maupun kehendak diri untuk tetap berada pada porsi "kecil" dalam hidup. Oleh karenanya, kurasa ini bisa menjadi topik menyenangkan untuk diskusi-diskusi sore. Seperti yang seingatku dulu sering dilakukan kakak-kakak sepulang sekolah di hari-hari tertentu. Rindu juga nih, sama para jagoan diskusi seperti Kak @jeremia-manurung dan Kak @maulrest yang selalu menyenangkan perspektif dan suasananya. Kak @asep-ramdan juga seru nih, atau semoga Kak Leo sering-sering "bolos" pulang duluan untuk buka-buka diskusi tak formal. hehehe
😂 fotonya kayak cover album musik 90an
Hayu atuh gaskeun diskusi sore di Jatinangor