(Hahahahahah maaf judulnya panjang teuing habis bingung cari judul )
Jadi ceritanya beberapa bulan lalu, saya sedang bosan dengan drama korea dan butuh tontonan baru. Setelah browsing di Netflix, akhirnya ada satu drama Jepang yang pemeran utamanya familiar, Ikuta Toma. Akhirnya drama itu saya klik dan saya tonton.
Ceritanya tentang seorang Bapak bernama Keisuke yang punya pekerjaan sebagai penulis skenario. Sebelum ia menjadi penulis skenario, Keisuke bekerja sebagai agen real estate. Dari situ ia bertemu dengan seorang perempuan single parent beranak satu yang kemudian menjadi istrinya. Awalnya Keisuke bisa menghidupi keluarganya dari penjualan real estate, tapi jauh di dalam dirinya, ia masih ingin mengejar cita-citanya menjadi penulis skenario. Apalagi saat melihat istrinya yang ternyata berhasil menjadi penulis novel. Akhirnya ia pun memberanikan diri resign dari tempat kerjanya dan menjadi penulis skenario. Keisuke sempat memenangkan kontes penulisan skenario, tapi hal tersebut tidak serta-merta membuatnya dilirik sebagai penulis skenario yang diperhitungkan. Keisuke lebih banyak menjadi penulis skenario cadangan dan biasanya hanya mengisi beberapa episode saja. Di episode pertama, Keisuke juga diceritakan sudah 3 bulan menganggur sehingga ia malah terlihat seperti Bapak Rumah Tangga dibanding penulis skenario.
Namun tiba-tiba Keisuke mendapat telepon dari salah stasiun tv. Mereka meminta Keisuke menjadi penulis skenario utama dari drama yang akan mereka produksi. Ada kendala dalam tim mereka yang membuat mereka perlu segera mencari penulis skenario. Masalahnya di musim itu, banyak penulis skenario yang biasa dipekerjakan sudah menangani proyek lain. Alhasil Keisuke yang saat itu menganggur menjadi pilihan para tim produksi.
Keisuke yang tidak terbiasa menjadi penulis utama, merasa tidak yakin dengan kemampuannya. Namun mulai muncul ide-ide cerita menarik di kepalanya. Di hari pertama penulisan skenario, Keisuke berhasil menyelesaikan naskah awal sesuai arahan dari tim produksi: pemeran utama menjadi detektif macho yang kalau bisa di drama tersebut tidak ada karakter perempuannya. Namun saat ia menyerahkan naskah tersebut kepada tim, mereka berkata naskah itu tidak bisa dipakai karena pemeran utama ingin berperan dalam drama yang banyak karakter perempuannya. Naskah pun harus direvisi, yang sesuai arahan tim, menjadi drama sekolah, dimana pemeran utama berperan sebagai guru yang keren. Namun kemudian naskah itu harus direvisi lagi karena pemeran utama ingin berperan sebagai vampir (Beneran kocak banget ini. Akhirnya ide cerita skenarionya jadi aneh banget tapi orang-orang malah jadi suka ).
Yang menarik di sini adalah proses Keisuke dalam membuat skenario tersebut. Bisa dibilang, setiap episodenya Keisuke dihadapkan pada tantangan, bukan hanya karena ide absurd dan terus berubah dari tim dan pemeran utama, tapi juga karena persaingan dengan penulis skenario lain dan masalah lain yang tak kalah bikin stres.
Namun, terutama untuk beberapa episode awal, ada masalah mendasar yang Keisuke hadapi dalam menulis skenario ini, yaitu merasa cemas dan terus menerus mengkritik diri. Keisuke yang terbiasa gagal dalam usahanya menjadi penulis skenario, tidak serta-merta menganggap peluang yang ia terima sebagai sesuatu yang positif, apalagi saat mendengar ia dipilih hanya karena tidak ada penulis lain. Selama beberapa hari Keisuke “dihantui” oleh seorang bapak-bapak berkepala besar dan botak yang selalu mengatakan bahwa tulisannya jelek dan ia tidak akan berhasil menyelesaikan skenario tersebut. Keisuke bahkan perlu pergi ke psikolog karena dihantui terus oleh bapak botak tersebut. Karena ini juga Keisuke bahkan membutuhkan orang lain untuk mengetikkan idenya, karena saat ia sedang menulis sendiri, bapak kepala botak itu bisa tiba-tiba muncul.
Dan selama menonton drama ini, saya berpikir, “Huaaaaaa itu akuuuuuuu. I feel you, Pak. I feel you”. Saya juga begitu. Saya juga pernah jadi Keisuke, punya sesuatu yang ingin dilakukan tapi ada “bapak botak” yang terus-menerus mengikuti. Merasa tidak seberbakat orang lain, merasa masih kurang ilmu, dsb. Alhasil banyak hal yang saya mulai tapi tidak selesai.
Tapi seolah ada jawaban di akhir episode dari setiap pertanyaan dan pikiran negatif yang Keisuke, dan saya, pikirkan. Salah satunya menarik adalah scene di mana Keisuke bertanya pada ketua tim produksi. “Apa aku punya bakat?” Ketua tim produksi pun menjawab. “Jangan tanya aku. Sepuluh tahun lagi. Kalau sepuluh tahun lagi kamu masih menulis skenario, berarti bisa dibilang Keisuke Yoshimaru berbakat.”
Pada akhirnya Keisuke tetap membutuhkan juru ketik saat mengerjakan proyek barunya. Masih merasa perlu treatment khusus sebelum menulis, dan masih keliling-keliling rumah sambil teriak-teriak sendiri karena stres. Tapi setidaknya Keisuke sudah mempunyai pandangan baru terhadap kemampuannya. “Aku adalah aku,” katanya. Bukan bakatnya lagi yang ia pertanyakan tapi seberapa konsistennya ia dalam melakukan apa yang ia suka.
Menurut saya drama ini luar biasa menarik karena selain relatable dengan pengalaman pribadi, tapi juga penyajiannya sangat unik. Konfliknya hampir dialami oleh banyak orang walaupun dalam bidangnya masing-masing (Kalau konflik cinta segitiga, ada cewek yang ditaksir dua cowok ganteng tajir kan kayaknya ga begitu relatable, ya. At least buat aku sih AHAHAHAHAH) Topik tentang kecemasan, stress, biasanya dikemas dengan tone yang dark dan juga cerita yang berat. Tapi drama ini menceritakan hal tersebut dengan tone yang cerah, ringan, absurd ala Jepang, tapi juga heartwarming.
Judul dramanya Can’t Write, Life Without Scenario. https://www.themoviedb.org/tv/116891
Bisa ditonton di netflix atau tinggal cari di banyak website drama asia. Semoga jadi tertarik untuk nonton, ya.
Aku baru liat Kotaro Lives Alone ka.. lutju banget itu juga.. ☺️