AES010 Misteriusnya Musik Sore
maulrest
Saturday June 18 2022, 9:47 AM
AES010 Misteriusnya Musik Sore

Musik itu misterius. Kadang bisa membuat orang senang & energik namun tidak jarang juga menyanyat hati pendengarnya. Bisa jadi musik itu sesuatu yang holistik. Musik yang rumit dan membutuhkan waktu panjang untuk mempelajarinya bisa membuat kita berdecak kagum, tapi tidak jarang juga musik sederhana yang bahkan dimainkan tidak rapih malah bisa menjadi ikonik dan membakar semangat.

Contohnya bisa kita lihat dari band Ramones yang kalau dibandingkan dengan The Beatles atau Pink Floyd bisa dibilang skill mereka masih kalah, namun untuk urusan membakar semangat pendengar mereka seringkali jadi inspirasi band-band punk. Tidak bisa dipungkiri juga musik punk atau rock sering dicap negatif karena memang banyak orang salah memaknai dan hanya fokus mengikuti trend negatif dari aliran musik ini.

Kalau niat kita mencari yang positif dari hidup biasanya kita bisa memilah dengan bijak, termasuk dari aliran punk banyak lagu-lagu tentang kritik sosial seperti “Bonzo Goes to Bitburg” yang mengkritik Ronald Reagen ketika mengunjungi pemakaman militer dan beberapa di antaranya adalah mantan tentara Nazi, kejadian ini dikenal juga dengan nama Bitburg controversy. Intermeso: lagu ini pertama saya dengar dari film “The School of Rock” yang baru saya sadari ternyata Project-Based Learning banget.

Begitu pula sebaliknya, musik orkestra yang sudah disiapkan dengan persiapan dan latihan panjang dimainkan dengan rapih dan skill di atas rata-rata sering membuat kita merinding dan terkagum-kagum. Mungkin inilah kenapa musik bisa dibilang sesuatu yang holistik. Karena selain skill, kita juga harus bisa mentransfer emosi, energi, gestur, dan faktor-faktor lainnya kepada pendengar. Robert Smith dari The Cure bisa melakukan hal unik di mana ia bisa membuat musik yang terdengar gembira, namun dengan lirik dan tampilan yang menyedihkan atau banyak menyebutnya dengan happy-sad music.

Musik sore, bagi saya adalah kegiatan yang sangat holistik. Ketika kakak-kakak energinya sudah sangat terkuras di kegiatan holistik lainnya, yaitu rapotan, musik sore datang mengisi ulang energi kakak-kakak Smipa. Padahal yang tampil hanya perwakilan teman-teman Smipa, namun energi dan emosinya bisa sampai ke semua kakak-kakak PG/TK, SD, SMP, dan KPB. Bisa terlihat dari tulisan Kak Yanti, bagaimana teman-teman Bekel bisa mengaduk-ngaduk emosi Kak Yanti dengan penampilan mereka di Musik Sore.

Ketika saya berlatih dan mengaransemen lagu untuk tampil bersama Kak Jere, Bimo, Linus, Jose, dan Zacky, terasa sekali ada kepuasan di hati ketika musik yang diracik terasa sudah pas. Begitu pula ketika Kak Jere memainkan bagian solo gitar, betapa anehnya itu mempengaruhi saya menjadi lebih berenergi untuk mengiringi dengan gitar rhythm.

Patut diberikan apresiasi sebesar-besarnya untuk teman-teman dan kakak-kakak panitia Musik Sore yang bisa menyelenggarakan acara yang sangat holistik. Acara yang menurut saya bukan hanya membawakan musik, tapi juga bisa membawakan kebersamaan dan kehangatan kepada warga Smipa menjadikan suasana seperti keluarga yang sedang menikmati musik di rumah. Layaknya film The School of Rock, teman-teman dan kakak-kakak panitia sudah membuktikan mereka PjBL banget dengan Musik Sorenya, keren!

Photo by: Kirana Sorodot Gaplok

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Mantap nih kajian Musik Sore dari perspektif PBL dan Pendidikan Holistik. Keren kak Maul.
maulrest
@maulrest   4 years ago
😁🙏🏻