Daya serap seorang anak terhadap hal-hal di sekitarnya itu bagai sebuah spons. Anak menyerap segala hal yang terjadi di lingkungannya sangat mudah. Jadi apa yang seorang anak alami saat kecil akan membuat pandangannya terkait cita-cita dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Melalui yang dilihatnya misalnya melihat orang tuanya menjadi guru hidupnya enak maka ia akan bercita-cita menjadi guru, lalu menonton televisi dokter pekerjaannya menyembuhkan orang sakit ia juga akan bercita-cita menjadi dokter. Juga terakhir melihat pekerja konten yang bikin konten dapat uang ia akan bercita-cita menjadi pekerja konten.
Untuk pekerjaan pembuat konten anak melihat kemudahan dari pekerjaannya. Ia membuat konten lalu bisa dapat uang dari pekerjaan tersebut. Tanpa melihat proses dibaliknya. Media berhasil membuat orang berduyun-duyun untuk bekerja sebagai pembuat konten.
Pembuat konten berusia anak-anak berisi main-main dengan mainan seperti bermain slime, lego, musik, dan lain sebagainya. Yang paling terkenal pada zamanku adalah Justin Bieber dan Ria Ricis. Kita bisa lihat terkenalnya konten mereka pada masa itu. Mereka terkenal dan mempengaruhi anak-anak untuk menjadi pembuat konten seperti mereka.
Sekian banyak konten yang dibuat jarang diperlihatkan bagaimana proses mereka untuk sampai di titik diakui menjadi pembuat konten tersebut. Betapa banyak fase stress yang sudah dimiliki ataupun di titik mana mereka bisa berdamai dengan komentar yang masuk.
Ini coba dibicarakan oleh film pendek Life in a Fishbowl (Adam Nur Firman, 2024). Film yang bercerita tentang seorang anak Luna Calista seorang pemengaruh cilik (influencer) pengulas mainan. Namun, orang tuanya terlilit hutang. Luna terpaksa harus membantu orang tuanya melalui media sosialnya. Untuk menarik banyak perhatian di media sosialnya Luna dipaksa mengikuti tren konten viral seperti joget tiktok. Konten-konten tersebut ternyata membuat ledakan viral dan Luna dapat membantu dan membayar hutang orang tuanya. Terlihat Luna terus dieksploitasi setelahnya. Menjadikannya seperti dikurung bagai ikan yang dikerangkeng oleh mangkok kaca sehingga hanya dapat mengarungi air di tempat yang sama.
Kaca Aquarium
Cerita Life in a Fishbowl seolah menegaskan terkait bagaimana konten hiburan dari pemengaruh anak seperti sebuah ikan di aquarium itu sendiri. Dikurung tetapi di sisi lain untuk menghibur orang-orang. Menonton dari layar kaca baik itu computer, tablet, dan ponsel genggam merupakan representasi media yang ingin dibicarakan oleh Adam bahwa kaca aquarium merupakan kurungan serta di sisi lain menghibur manusia di balik layarnya.
Dalam layar anak meski terlihat seperti bermain karena jenis kontennya adalah menyajikan si anak bermain tetapi tetaplah bahwa ada proses anak diatur oleh sang sutradara (orang tuanya). Dalam film menjelaskan posisi si anak yang serba diatur untuk membuat konten.
Makin terasa tegas bahwa Luna dikurung bagai ikan pada adegan Luna melihat ikan emasnya di akuarium kaca berbentuk mangkuk. Luna terlihat sedih bahwa dirinya sudah sama dengan ikan yang tidak dapat keluar rumah lagi dikarenakan harus membuat konten dan membahagiakan orang tua serta penontonnya.
Layar kaca merupakan mediasi antara penonton dengan yang ditonton. Sineas film ini mengupayakan bentuk yang ditonton terlihat bahwa penonton bukan menonton film tetapi sketsa realitas yang alami. Posisi layar kaca tidak hanya berfungsi sebagai mediasi dengan penonton ia juga berfungsi mengeluarkan perasaan si anak yang sedang dieksploitasi oleh orang tuanya.
Coba bayangkanlah berwisata ke aquarium besar. Sebagai penonton ikan-ikan yang sedang berenang kita senang melihat keindahannya. Di sisi lain keindahan di luar kaca aquarium yang terlihat apakah binatang tersebut merasa senang hanya tinggal di aquarium saja? Kalau bisa memahami perasaan ikan tersebut nampaknya ikan tersebut merasa seperti dikerangkeng. Ia tidak sebebas di lautan/di perairan alam bebas.
Bisnis aquarium besar ini pun erat sekali dengan bisnis. Orang-orang membayar untuk masuk ke dalam aquarium besar bertujuan berwisata. Dalam sebuah bisnis walau uangnya salah satunya untuk merawat ikan di dalam aquarium, tetapi ada di masa bahwa binatang haruslah tetap di alam bebas bukan dikerangkeng.
EKSPLOITASI EMPATI
Adam sebagai sutradara nampak mencoba memahami hal tersebut seperti ikan di aquarium pemegaruh anak sebaiknya ada waktu bermain. Bukan dikerangkeng dalam bentuk layar kaca.
Pundi-pundi yang didapatkan melalui pembuatan konten malah menjadikan Luna seperti yang diceritakan dalam film merasa kesepian dan sedih. Ruang bermainnya direbut secara halus. Juga rasa empatinya karena melihat orang tuanya punya hutang pun dieksploitasi.
Bagi kreator konten seperti ini penonton hanyalah angka saja. Bukan ruang yang dibuat untuk mengalami bersama sebuah konten yang dibuat serta berdiskusi dengan sang pembuat konten. Sedangkan orang tua hanya melihat anak sebagai ladang uangnya. Perputaran beracun menjadi racun bagi si anak atau jika anak sudah di fase grief menerima ia akan menjadi anak yang penuh dengan trauma.
Makin mempertegas suara bahwa anak sedang dimasukkan aquarium layar kaca dengan diakhiri adegan Luna yang meminta maaf dan memberi klarifikasi. Penonton dibawa seolah itu adalah minta maaf yang tulus tetapi kamera tilt ke belakang dan memperlihatkan bahwa itu sedang direkam. Hal-hal empati tidak luput dari eksploitasi jika konten sudah masuk dalam pasar yang tidak punya empati. Sang pemengaruh tidak punya empati penontonnya juga. Drama hanyalah sebagai bahan bakar untuk menambah pundi-pundi uang. Tetapi balik lagi penontonnya suka dengan hal yang berbau drama sehingga hal ini merupakan sebuah symbiosis mutualisme yang seolah saling menguntungkan. Karena tidak tepat juga jika dibilang dengan istilah symbiosis parasitisme karena tidak ada pihak yang dihisap.
Dalam film ini kita melihat hal seperti pop up komen penonton makin menegaskan bahwa pembuat konten mempunyai hubungan yang mutual. Untuk bicara sesiapa yang tidak untungkan bisa jadi Luna tidak diuntungkan oleh keadaan orang tuanya dan Luna berusaha bersimpati ke orang tuanya karena banyak hutang yang harus dibayar. Jadi sineas melemparkan masalah ini dengan sadar ke orang tuanya yang bertanggung jawab atas kejiwaan dari Luna setelah terus-terusan diminta untuk membuat konten.
Maka dengan diakhiri seperti demikian berarti untuk bicara siapa yang mengkapitalisasi anak-anak dalam influencer anak di awal pengembangan akun ya justru penonton dan orang tua. Porsi besar untuk orang tua, penonton sebagai yang menerima justru punya keputusan lain yang lebih kritikal. Atau lebih tinggi posisinya lagi progresi pembahasan aturan yang baku usia berapa seorang anak dapat bekerja di Indonesia juga harus diatur lebih ketat lagi.
Kesadaran bahwa anak bukanlah alat untuk dikapitalisasi juga perlu disadari. Karena anak yang usia bermain akan lebih alami pertumbuhannya jika dilepaskan untuk bermain bukan untuk bekerja. Orang tua juga mesti menyadari hal tersebut bahwa hal ini menjadikan pertumbuhan anak terganggu.