AES 011 WAKTU YANG BERBICARA PADA GURU
minfadlyrobby
Friday January 16 2026, 6:40 PM

Ini kali pertamanya Dia menjadi wali kelas. Setelah pembagian raport semester dua Dia menerima banyak amplop dari para wali murid, namun membuatnya gamang. Membuat matanya terus memperhatikan amplop yang tergeletak di meja kerja kamarnya. Dia tidak berani membukanya. Kamar kos seharga 300.000-an itu juga seolah dingin menghadapi kegamangan dia. Tetapi suara untuk membuka dan mengambil uang yang ada di dalamnya terus menggelayuti pikirannya.

Sebagai seorang guru honorer yang gajinya pas-pasan dia tahu dia butuh sekali tambahan uang. Jumlah di amplop itu pastinya akan membawa angin segar di dompetnya yang di akhir bulan biasanya teriak-teriak. Maklum gajinya hanya Rp900.000. Untuk sekadar nonkrong di café-café sederhana dia masih mikir dengan gajinya tersebut. Cukup hanya untuk makan sederhana saja.

“Eh kamu sudah buka saja amplopnya.” Seketika ada suara entah dari mana.

Dia mencari-cari sumber suara tersebut.

“Hmm, aku di sini, benda yang selalu kamu lihat saat kamu melamun.”

Dia melihat ke atas. Ke arah jam dinding berlatar belakang gambar bayi yang dia tempel di atas gantungan pakaian. Dia mengucek-ngucek matanya seolah tidak percaya kalau jam itu bisa berbicara.

“Apa yang kamu bingungkan dari mengambil saja uang yang ada di dalam amplop itu, bukankah kamu sadar kamu juga membutuhkan uang itu?” tanya jam itu.

Dia meresapi kata demi kata jam dinding itu. Kata-katanya benar tetapi dia tetap tidak mau terjebak dengan kata-kata itu. Kesalahan logika jika dia menerima uang yang seperti gratifikasi itu.

“Iyah memang aku sangat butuh uang yang ada di amplop-amplop itu. Tetapi aku takut itu adalah bentuk gratifikasi, bukankah gratifikasi itu mempengaruhi kinerja kita selama mengajar dan akhirnya ada bias dalam kita memandang orang tersebut?” sanggah Dia.

“Kamu terlalu lugu dan naif yah. Ada banyak bentuk penghargaan orang lain, ia bisa dengan hadiah, dan juga kata-kata. Yang diterima oleh kamu hari ini adalah bentuk penghargaan para orang tua kepada dirimu selama ini. Kamu telah sabar membimbing dan menemani proses dari anak-anaknya mereka.”

Amplop-amplop di atas meja masih belum terbuka. Mereka tidak bergerak dari posisinya. Mata Dia masih melihat secara bingung ke arah amplop-amplop itu. Nanar dan merenung. Pikirannya belum juga terbuka. Hatinya juga belum. Suara jam masih tik tak tuk. Mata runcing jarum-jarumnya menyelidik ke Dia dan menunjuk.

“Atau coba saja buka dahulu amplop-amplopnya deh. Kamu memang tidak penasaran jumlahnya berapa?”

Dari sepenglihatan mereka berdua amplopnya sangat gendut-gendut. Seperti tempe yang dipotong tebal-tebal untuk dijual lagi seharga Rp3.000 di warung tukang sayur. Tempenya bisa dipotong tipis-tipis untuk makan dua kali, digoreng untuk makan siang dan malam. Dengan setebal itu uangnya dapat digunakan bukan hanya beli tempe untuk sebulan full juga masih ada sisa untuk menabung, walau tidak ditabung juga tidak mengapa kamu bisa makan tempe lagi setelah sebulan.

Bunyi burung hantu sudah menggema di seantero malam. Dia tetap menahan tangannya untuk membuka amplop-amplop dari para Wali Murid itu. Dia ingin menjaga marwah dirinya sendiri sampai titik paling suci niat.

“Kamu benar-benar tidak akan membuka amplop-amplop itu dan merelakan diri tetap kesusahan ketika akhir bulan nanti?” Jam Dinding memecahkan kesunyian malam.

“Ini bukan perkara tentang kesusahan, tetapi bagaimana menjaga niat suci mengajarku dan integritasku di profesi ini. Profesi ini sungguh harus menjaga suci niat dan integritas. Kedua itu kalau aku membuka dan memakai uang itu untuk keperluanku sendiri nantinya pikiranku akan bias dalam menilai anak-anak muridku!”

“Meskipun niat para orang tua adalah memang setulus memberi penghargaan tetap kamu ga terima dan masih melihatnya gratifikasi?”

Suasanan kembali hening. Yang ditanyakan oleh Jam Dinding tidak salah. Gratifikasi bisa jadi banyak bentuknya. Dia berfikir terlalu keras tapi tetap tidak mau membuka amplop-amplop itu.

“Coba deh pisahkan dulu moralitas pribadi dengan bagaimana pandangan orang tua yang memang memberi itu sebagai sebuah penghargaan dan juga cinta yang diberikan kepada wali kelas yang juga sebagai representasi orang tua di sekolah. Kamu sudah menjaga dan mengajari banyak hal dengan tulus. Serta karena juga bentuk bagaimana para orang tua itu sangat-sangat berterima kasih dan hanya itu yang dapat diberikan?”

Dia tetap bengong sambil menatap tumpukan amplop tersebut.

Jam dinding menjatuhkan dirinya ke depan Dia. Dia terkaget.

“Kalau kamu tidak mau membuka lalu kenapa diterima saja amplop-amplop ini? Kamu bisa loh menolak sejak awal. Sejak amplop ini digenggam di tanganmu dan dengan sadar orang tua bilang, Hus ga baik menolak hadiah dari orang, terima ya pak.”

Dia mengiyakan kata Jam Dinding tersebut dengan manggut-manggut. Bahwa dia sebenarnya bisa saja benar-benar tidak menerima. Menolak lebih keras pemberian ini. Tapi di sisi lain batin soal kebutuhan uang juga tidak dipungkiri dan akhirnya Dia terima saja amplop itu dengan rasa yang tidak enak hati.

Dalam pikiran Dia kata-kata dari Jam Dinding sangat benar. Bagian bahwa ini bukanlah gratifikasi juga benar. Gratifikasi diberikan jika ada niat terselubung di dalamnya yaitu misalkan Dia diminta memberikan nilai yang besar kepada anak dari salah satu orang tua di kelasnya. Itu sudah masuk gratifikasi. Sementara yang Dia terima benar-benar atas dasar ketulusan dari para Orang Tua dan mungkin juga tambahan pikiran Dia sebagai rasa menghormati guru wali kelasnya ini dan juga bentuk permintaan maaf yang tidak bisa disampaikan secara verbal sehingga hanya yang berbentuk seperti hadiah amplop ini yang mengatakan permohonan maaf mereka.

Dia bangkit dari kasurnya berjalan menuju meja yang tergeletak amplop-amplop. Dia duduk. Terdengar bunyi jam dinding, ayam berkeruyuk serta Dia menelan ludah. Dibukanya lima amplop sekaligus dan menjejerkan uang-uang yang totalnya Rp2.000.000 serta ada satu surat yang sangat hangat. Dia sangat terharu dengan isi surat itu. Bingung sekaligus dikarenakan jumlah uang yang diterimanya tidak sedikit. Ini bisa buat makan tempe selama sebulan penuh dan bayar kosan selama sebulan bahkan bisa langsung dibayar 2 bulan sekaligus.

Setelah membuka amplop tersebut dan menerima jumlahnya Dia malah terharu. Dia benar-benar merasakan pancaran cinta dari para orang tua. Usaha dia dalam mendidik anak-anak mereka tidak sia-sia. Dia berhasil menaklukkan anak-anak yang kelakuannya sangat spesial tersebut sehingga para orang tua terlihat sekali ketulusan cintanya.

Matanya berbinar haru dan Dia merasa bahwa yang Dia perjuangkan tidak sia-sia. Uang ini seperti menjadi sebuah pantulan kebaikan yang diberikan oleh semesta. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Selama berjuang hal seperti itu akan memantulkannya sendiri. Seperti setiap apapun di dunia akan datang tepat waktu termasuk datangnya cinta. Dia akhirnya menerima uang-uang yang berada di dalam amplopnya. Beberapa lembar uangnya Dia masukkan ke tabungan.

Dia melihat Jam Dinding yang belum kembali ke tempatnya, di dinding. Daritadi selama membuka amplop-amplop itu diam. Bahkan detakannya pun terasa sunyi sekali. Suara azan pertama di dini hari membelah kesunyian kamar Dia. Dia menghitung uang dan meletakkan Jam Dinding ke tempatnya semula. Dia merebahkan diri kembali lalu melihat Jam Dinding dan perlahan Dia pun tertidur pulas. Suara Jam Dinding pun kembali seperti semula yang menunjukkan jam 3.40. Dengan hari ini yang masih liburan semester sehingga Dia bisa tidur nyenyak setelah mengobrol dengan waktu.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 months ago
Wah muncul lagi tulisannya Robby. Apa kabar Robby. Hatur nuhun postingannya. 🙏🏼
You May Also Like