Ngobras#5 adalah Ngobras perdana yang membawakan topik khusus terkait parenting dan hidup berkesadaran di setiap sesinya. Di sesi yang diadakan tanggal 5 Februari 2026 ini, topiknya adalah tentang ekspektasi dalam pengasuhan. Topik ini dipilih oleh lebih banyak orangtua di WAG Ngobras (belum gabung? Klik di sini) sebelumnya, dibanding beberapa judul lainnya.
Bicara soal ekspektasi, dalam kehidupan sehari-hari ia tidak terhindarkan, karena memang bagian dari cara kita memproyeksikan keinginan atau harapan kenmasa depan. Termasuk ketika hendak membawakan sesi ini. Kami tentu saja punya harapan, semoga orangtua yang hadir bisa lebih banyak, semoga sesi ini bisa diterima dengan baik oleh orangtua, semoga orangtua ngga kapok hadir di Ngobras dsb. Seperti kata pak Gunawan, punya ekspektasi wajar-wajar saja, itu sehat, dan tidak salah. Yang penting adalah, bagaimana ketika realitanya tidak sesuai dengan ekspektasi kita, kita masih merasa baik-baik saja. Jadi di titik manakah ekspektasi masih bermakna harapan, dan kapan ia berubah menjadi tidak baik-baik saja?
Balik ke ekspektasi pada anak. Sadhguru pada sebuah video yang ditampilkan memberikan clue bahwa ekspektasi menjadi kurang sehat ketika ia berubah menjadi kontrol. Kita mungkin bisa merefleksikan dari pengalaman kita sendiri sebagai anak kan? Memang orangtua punya niat yang sangat baik, namun seringkali yang sampai di kita (anak) adalah pengendalian, bukan cuma pengarahan. Ini juga yang dirasakan oleh perempuan dewasa di video tersebut yang bertanya dg kapasitasnya dia sebagai anak yang merasa kurang leluasa mengekspresikan arah hidupnya. Tapi kan kalau masih anak-anak, mereka belum tahu arah hidupnya, harus dipagari? Betul. Yang digarisbawahi dalam hal ini bukanlahbtindakan apa yang dilakukan, atau ketidakperluan dalam bertindak, akan tetapi dari mana tindakan itu lahir. Ini sangat beririsan dengan kondisi batin, dengan kesadaran, dengan Being kita.
Di sesi diskusi kelompok kecil yang membahas soal momen ekspektasi, orangtua tidak hanya merecall kapan ekspektasi itu terjadi, namun juga mengidentifikasi apa yang tubuhnya rasakan saat itu, apa pikiran yang muncul, dan juga apa tindakan yang biasanya dilakukan. Di sini, orangtua mulai diajak untuk lebih aware bahwa dalam setiap momen ekspektasi selalu disertai sensasi tubuh dan pikiran otomatis. Ketika sensasi dan pikiran tidak tersadari, tidak berjeda, biasanya kita akan jatuh pada reaktivitas. Dan more likely, tindakan/doing yg kita lakukan akan berakar pada rasa tidak aman atau luka yang belum ditengok, energi yang belum selesai. Hasilnya adalah tindakan kita akan mengandung kontrol. Dan sistem saraf anak akan membaca itu.
Ekspektasi yang sehat biasanya berasal dari niat membimbing dan memberi arah, namun ia berubah menjadi tidak sehat ketika lahir dari ketakutan, kekhawatiran, atau kebutuhan orangtua memastikan hasil tertentu. Ketika akarnya adalah rasa tidak aman tersebut, saat realita tidak sesuai ekspektasi maka tubuh akan memberi sinyal berupa sensasi ketegangan, berat/sempit di dada, perut kaku, napas cepat, wajah terasa panas dsb yang disebut kontraksi. Sensasi ini kadang terasa samar atau halus jadi cepat luput dari kesadaran, atau karena terasa tidak nyaman, kita cenderung menekan atau menghindar dari rasa tersebut. Suara yang meninggi, nasihat, aturan yang diperketat, kontrol yang diperkuat seringkali muncul sebagai pelarian tanpa sadar dari rasa tidak nyaman tersebut. Karena ketika sensasi tidak disadari, pikiran akan mengambil alih, menyusun narasi batin yang sudah tersimpan di bawah sadar kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai berlatih menghuni tubuh, merasakan dan menerima sensasi kontraksi di tubuh. Ketika ada jeda menyadari sensasi, maka energi menyelesaikan siklusnya, pikiran pun kehilangan urgensinya, tubuh kembali netral dan tindakan yang muncul akan lahir dari kejernihan dan akan lebih selaras dengan aliran kehidupan.
Jadi di forum ini bukan soal menghapus ekspektasi namun yang dihighlight adalah ruang batin kita saat harapan tidak terpenuhi. Dan kemampuan untuk merasa baik-baik saja adalah buah dari sensasi dan pikiran yang telah disadari, bukannya sesuatu yang kita upayakan terjadi. Kita bisa saja berpura2 merasa baik-baik saja dengan mencoba berpikir positif ketika realita tak sesuai ekspektasi, namun tubuh selalu jujur. Dan energi yang belum selesai siklusnya akan kembali muncul, jadilah looping.
Demikian akhirnya catatan dari sesi Ngobras #5 aku selesaikan, setelah tertunda berminggu-minggu. Mungkin banyak hal yang luput tidak semua diceritakan di sini, maka yang lebih baik adalah hadir langsung di tiap sesi Ngobras yak. Sampai jumpa di Ngobras #6 dalam waktu dekat.