Kemarin 30 Agustsu 2021, aku ada kegiatan mentoring proyek mandiri ku dengan Pak Angga. Pak Angga ini adalah guru di Erudio School, dan anggota komunitas Gudskul. Proses aku dapat dan memilih mentornya Pak Angga cukup panjang. Dari riset cari di internet, lalu dapat banyak referensi lalu mengeliminasi satu-satu sampai mendapatkan yang sesuai dengan proyek dan visi misi ku. Setelah itu karena instagram adalah salah satu media social yang mudah digunakan, hampir semua orang punya, dan media sosial yang memudahkan untuk mencari profil orang, jadi aku kirim pesan lewat direct message, dan menunggu jawaban dari para mentor yang ku pilih.
Awalnya baru Pak Angga yang ku kirimi pesan, dan awalnya juga beliau menolak. Jadi ku jelaskan lebih detail lagi tentang si proyek ku. Tapi karena beliau menjawab pesan ku lama, jadi aku coba kirim pesan lewat instagram lagi ke salah satu mini busness, yang kebetulan menjual produk ynag sama seperti proyek ku. Tapi aku ditolak lagi alasannya karena mereka baru mulai produksi atau bisa di bilang tokonya masih baru.
Akhirnya walau pun lama, aku diterima oleh Pak Angga, dan beliau mau jadi mentorku. Karena ku rasa masih kurang kalau hanya mendapatkan mentor dari aksesorisnya saja, aku jadi memilih lagi mentor dari Plastavall agar aku tahu tentang sampah plastiknya juga.
Alasan dariPak Angga menolak ku karena berpikir kalau mentoring yang akan di laksanakan akan intense dan sering, karena waktu Pak Angga untuk jadi mentor ku tidak sefleksibel itu. Tapi aku jelaskan kalau mentoring tidak dilakukan tiap hari dan bisa menyesuakan dengan jadwalnya Pak Angga, lalu untuk asistensi dengan mentor bisa dilakukan sebulan sekali, untuk mengecek hasil dari aksesoris yang telah ku buat.
Setelah mendapatkan mentor tentang aksesoris, dan sampahnya, aku mulai mentoring. Dari aku buat pertanyaannya dulu, lalu mereka bisa menjawabnya lewat teks pesan atau audio. Untuk mentor dari Plastavall, namanya Kak Bea, saat mentoring dijawabnya cepat dan proses mentoringnya lancar. Waktu menjawab pertanyaan ku, Kak Bea bisa menjelaskannya dengan santai dan baik. Untuk mentor aksesoris, Pak Angga, saat jawab pesan cukup lama, lalu sedikit sulit karena lewat instagram, tidak lewat whats app seperti mentor sampah plastik, Kak Bea. Lalu mungkin karena sulit untuk menjawab tiap pertanyaan ku, Pak Angga memberikan ku video tentang peoses pembuatan aksesorisnya, lewat video dari Gudskul yang sudah ada. Di video itu cukup menjelaskan setiap pertanyaan ku walau aku tetap saja masih ada pertanyaan lain. Untungnya kedua mentor mempersilahkan ku kalau saja aku ada pertanyaan lagi.
Untuk kedepannya karena sebenarnya aku sudah tertarik untuk ikutan Plastavall, tapi bukan jadi anggotanya atau staffnya, tapi seperti memberi sampah ku agar terolah, lalu kalau ada seperti kelas online lewat zoom aku ingin ikut agar informasi yang ku dapat bertambah. Lalu setelah aku asistensi dengan Kak Mel, karena aku tidak punya mesin pencacah untuk mencacah botol plastic sebelum di oleh, dilelehkan,dan jadi hasilnya, aku pikir untuk memberikan sampahku ini yang telah dikumpulkan ke Plastavall, tapi aku ambil lagi hasil cacahannya. Itu pun kalau bisa dan di perbolehkan oleh Plastavall.