Berapa kali kita pernah menghitung mundur? Kalau saya banyak! Biasa saya lakukan jika sedang membuat suatu rencana, lalu mulai berpikir jam berapa saya harus sudah berada di tempat itu, berapa lama perjalananan yang dibutuhkan, apa saja yang harus dilakukan terlebih dahulu sehingga saya dapat berangkat agar tiba ditujuan tepat waktu, dan pukul berapa saya harus berangkat. Prosesnya selalu begitu.
"Dad, the new movie is very intense! I saw some people get up from their seats and leave for a while, so they did not have to watch the intense part. You have to see it." Kata Kano
"Is that so?" Jawab saya.
Itu percakapan kami beberapa hari yang lalu, bahkan kemarin malam Kano kembali mengingatkan kami untuk segera menyaksikan filem ini, jadi Nina dan saya merencanakan untuk menyaksikan hari ini. Saya, seperti biasa, mulai menghitung mundur, jam berapa harus berada di sana, pekerjaan apa yang harus saya selesaikan pagi ini lalu jam berapa saya harus sudah meninggalkan rumah. Ini saya lakukan secara otomatis. Tapi ini hanya dapat dilaksanakan berkaitan dengan rencana kegiatan. Mudah dan efisien. Pertanyaan saya sekarang adalah, apakah ini semua dapat kita lakukan berkaitan dengan hidup kita dan bukan hanya semata-mata kegiatan-kegiatan kecil?
Minggu terakhir ini, saya bersama teman-teman dekat sedang berusaha membuat sebuah batu nisan. Ya teman-teman tidak salah baca, memang benar, batu nisan. Minggu lalu salah seorang sahabat saya pergi mengunjungi makam salah seorang sahabat kami yang sudah pergi menghadap yang ilahi. Mendiang sahabat ini adalah orang yang paling dekat dengan saya di rantau, pernah sama-sama bekerja, pernah sama-sama hidup di satu asrama, pernah sama-sama membuat kegiatan, dan sama-sama mendapat pernghargaan walau di tahun yang berbeda. Tapi takdir orang berbeda-beda, kehidupan sahabat saya ini adalah salah satu potret kekejaman manusia. Saya tidak pernah membayangkan peristiwa yang sangat tragis ini akan pernah bersentuhan dengan hidup saya.
Eniwei, saya melihat batu nisannya masih dalam bentuk darurat, hanya dari kayu yang sudah mulai luntur dan lapuk. Lalu timbul ide apakah kita dapat membuatkan sebuah batu nisan yang baik, that the least thing we can do, since helping her in life has obviously been away too late. Mendiang dimakamkan berdua dengan putrinya, sahabat Kano, yang juga sudah tiada ketika masih berusia 15 tahun, juga melalui sebuah peristiwa yang luar biasa tragis. Pagi ini desain batu nisan itu ditunjukkan oleh si pembuat. Indah sekali tapi sekaligus menyakitkan hati saya, membuat saya sangat bersedih hingga hampir mencucurkan air mata. Lalu tanpa sadar saya mulai memikirkan mengenai hidup saya sendiri.
Dalam usia saya sekarang ini, mau tidak mau harus dapat menerima bahwa sisa hidup itu, tanpa mendahului kehendak Yang Ilahi, tidak sepanjang sebelumnya. Saya harus bisa menerima itu. Dahulu saya senang membuat semacam target 10 tahunan. Beberapa kali saya menulis "What will happen in 10 years" Saya masih simpan tulisan-tulisan saya itu dan percaya atau tidak, semuanya berakhir dengran sangat mengejutkan. Saya memang senang berusaha menghitung mundur, ini dapat membantu untuk fokus dan membuat banyak prioritas serta mengambil keputusan yang tepat.
Salah seorang teman saya pernah berbincang-bincang dan mengingatkan bahwa sudah banyak sekali teman-teman yang pergi medahului kita, sekarang dia membuat rencana hidup tidak lagi 10 tahun seperti saya, melainkan 5 tahun. "Harus lebih realistis, kita tidak tahu berapa lama lagi yang tersisa." Dalihnya.
Kami ngobrol banyak hingga tiba ke sebuah pertanyaan, "Seperti apa rasanya jika mengetahui kapan hari terakhir kita?" Kami semua terdiam. Entah ini ide gila siapa yang melontarkan pertanyaan seperti ini. Ada yang berkata bahwa dengan mengetahui berapa lama lagi kita hidup, maka akan dapat dengan lebih mudah memprioritaskan dri pada hal-hal yang paling utama yang ingin kita lakukan. Betul juga, tapi bayangkan juga betapa mengerikannya jika mengetahui bahwa hidup kita dapat secara akurat dihitung mundur!
Menunggu itu sesuatu banget, kalau hal-hal yang menyenangkan seperti misalnya yang sedang saya alami bahwa sebulan lagi akan dapat berjumpa dengan Kano, saya merasa excited, senang, semangat dan lain sebagainya. Keseharian saya seolah-olah terfokus pada saat-saat itu. Tapi menunggu ketika akan diwawancarai pada saat melamar pekerjaan, atau pada saat sidang akhir, atau menantikan berita diterima atau tidaknya di sekolah atau universitas, bukan hal-hal yang menyenangkan. Bayangkan jika kita menunggu saat-saat kematian! Waduh! Saya tidak dapat membayangkannya.
Saya memutuskan untuk menetapkan target waktu, tidak lagi 10 tahun, lebih pendek, saya belum memastikan berapa lama, mungkin 3 atau 5 tahun, dan fokus saya akan ke sana. Urusan perjalanan akhir, bukan milik saya. Entah berapa kali lagi saya dapat menentukan batas 3 atau 5 tahun itu, kalau bisa berkali-kali itu bonus, tapi saya tidak ingin saat akhir saya terjadi ketika sudah tidak berdaya. Saya tidak mau membebani atau tergantung pada orang lain. Ini Doa saya!
Foto credit: insideamothersmind.com