AES033 Oh Nasi...
yulitjahyadi
Sunday September 26 2021, 9:59 PM
AES033 Oh Nasi...

'Kenapa jadi salah nasinya sih?' pertanyaanku itu terlontar di obrolan bersama teman-teman saat sepedaan tadi pagi. Seorang teman memang sedang berusaha menurunkan berat badan, lalu topik seputar makan dan makanan pun jadi bahan pembicaran. 

Sebetulnya pertanyaan itupun sudah lama menggangguku, dan aku agak kasihan sama nasi yang jadi kambing hitam, dipersalahkan karena gulanya yang tersembunyi, lalu dijauhi dan seolah jadi punya label yang kurang positif. 

Padahal nasi sudah jadi makanan sejak zaman nenek moyang, bahkan seluruh bangsa Asia makan nasi sebagai makanan pokoknya. 

Aaah.. Aku jadi teringat sebuah alasan perihal ketidakcocokan orang Asia mengkonsumsi susu. Iklim yang berbeda membuat alam menyediakan sumber pangan yang berbeda bagi orang yang tinggal di dalamnya. Kebiasaan berburu orang-orang di negeri 4 musim tidak dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di iklim tropis. Disebutkan pula bahwa daging dan susu diperlukan bagi mereka untuk menghangatkan badan, oleh karena itu secara genetik mereka memiliki pula kemampuan untuk mencernanya. 

Pernyataan itu tentu membawa logika berpikir yang sama, bahwa ada maksudnya juga mengapa nenek moyang kita makan nasi, singkong dan ubi-ubian yang notabene rata-rata karbohidrat. Tuntutan bekerja di sawah atau ladang seharian di bawah terik matahari pastilah jadi salah satu jawabannya. 

Dualitas punya kaidah hubungan yang relatif satu sama lain dan berubah-ubah menurut konteksnya. Bahwa baik itu tak selamanya baik dan buruk tak selalu buruk. Bahwa sesuatu yang baik memang bisa jadi buruk dan tentulah begitu pula sebaliknya yang buruk tak selamanya buruk.

Sebuah obyek juga akan selalu terkait dengan subyeknya. Satu pengamatan yang sama perlu dilakukan baik terhadap obyek maupun subyeknya.

Jika obyek lalu berlabel buruk, apakah itu semata-mata karena obyeknya? atau faktor subyeknya? atau mungkin pula atas subyek yang mana?

Atau dengan melihat lebih detail terkait konteksnya, jika nasi = karbohidrat = glukosa berarti kalori, apakah kebutuhan subyeknya seimbang dengan asupan kalorinya? Atau, apakah ada asupan lain yang juga berarti karbohidrat berarti gula dan berarti kalori yang tidak disadari subyek? Misalnya apakah sepiring nasi itu bersama bala-bala, kerupuk, pisang dan es teh manis? Atau misalnya kudapannya roti, kripik singkong dan es boba? dan seterusnya...

Melihat keterhubungan itu seperti menelusuri hingga ke akar permasalahannya. Mencari dasar yang jadi pondasinya. Bahwa makan adalah usaha pemenuhan kebutuhan untuk berlangsungnya kehidupan, dan bahwa makanan adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan itu. Maka sebuah pertanyaan terlontar bagi subyek pelakunya, apakah aktifitas makan itu terjadi sebagai usaha pemenuhan kebutuhan yang mendasar? Ataukah terjadi karena faktor keinginan, hiburan dan yang lainnya?

Melihat ke akar memang merepotkan. Menelisik memang tidak nyaman, tapi untuk berubah hingga berbuah, memang perlu diubah dari dasar berpikir dan cara pandang. Dibongkar dan ditata kembali, karena pondasi yang mantap mampu menyokong apapun hingga kokoh.

joefelus
@joefelus   5 years ago
Yang saya lakukan, makan nasi seperti biasa tapi juga harus membakar kalorinya. Pada prinsipnya kalau mau turun berat badan, otomatis harus calorie deficit yang maksudnya membakar lebih banyak dari yang dikonsumsi sedangkan jika ingin mempertahankan berat badan, maka bakar kalori sesuai dengan asupan. Kuncinya tentunya ada di ketepatan menghitung kalori. Nasi jauh lebih baik dari roti, karena roti memiliki 83% lebih banyak kalori daripada nasi. (100gr roti = 238 cal, 100gr nasi = 130 cal)
yulitjahyadi
@yulitjahyadi   5 years ago
Punten baru ngetik balasannya sekarang, sejujurnya topik ini juga masih muter-muter di kepala dan masih pengen ditulis, tp rasanya mau diendapkan dulu aja sekarang..hehee.. Nuhun sharingnya Bang Joe.. 🙏🏼☺ Setiap orang pada akhirnya akan punya jurus jitunya sendiri sesuai kebutuhan, apapun tools yang dipakainya. ☺