AES007 Curiosity
Sanya
Tuesday October 8 2024, 10:35 PM
AES007 Curiosity

Gambar diatas adalah tokoh kartun namanya George. Ceritanya ringan tentang monyet yang selalu ingin tahu, judulnya “Curious George”. Adiknya Sei masih 3 tahun jadi kalau nonton ini ya sambil diceritakan si George dimana, dengan siapa, sedang berbuat apa. Sambil cerita lalu terpikir..

Kapan terakhir kita bertanya seperti anak-anak yang ingin tahu cara dunia bekerja. Lihat saja anak-anak dikelas kalau ditanya Kakak “Siapa yang mau bertanya?” Semua angkat tangan rebutan menunggu diberi kesempatan untuk berbicara kadang malah bicara duluan sebelum diberi kesempatan, sebesar itu rasa penasaran mereka. Tapi kalau diingat makin besar makin sedikit bertanya. Apalagi kuliah yang ada malah dosen nanya balik. Muncul rasa takut, insecure. Malu terlihat bodoh tidak tahu apa-apa. Padahal rasa ingin tahu membuka jalan belajar hal baru.

Malu bertanya sesat di jalan.

Rasa ingin tahu datang saat kita peka dengan sekitar. Ah mengapa ya bisa begini mengapa bisa begitu. Mungkin receh tapi nyatanya hal receh pun kadang belum kita ketahui kenapa itu bisa terjadi. Seru juga kalau digali lebih dalam. Makanya aku kagum dengan peneliti terdahulu, kok bisa ya kepikiran membuat ini, kenapa ya? Seperti Archimedes yang sedang mandi menemukan teori massa jenis, Newton yang sedang duduk di bawah pohon menemukan teori gravitasi, Fleming yang menemukan penisilin karena kelupaan menaruh cawan petri berhari-hari dan banyak lagi penemuan lain yang tidak disengaja. Kalau mereka tidak peka, tidak memiliki rasa ingin tahu dan tidak menggali lebih dalam maka hal tersebut terhapus dari sejarah.


Di jaman serba cepat ini rasanya sedih melihat anak-anak cenderung pasif, hanya menerima tanpa tahu alasannya kenapa mereka harus belajar suatu hal. Senang sekali melihat rapot Sei, diawal lembar rapot ada kolom khusus. Apa yang jadi pertanyaanya di semester ini. Ada ruang untuk memantik rasa ingin tahu anak-anak. Memberi kesempatan anak-anak untuk menumbuhkan rasa ingin tahu. Tidak peduli apapun pertanyaannya jika rasa penasaran ini dilatih secara konsisten akan melatih 
critical thinking-nya.

Ibarat pohon yang bibitnya baru ditanam, tugas kita adalah terus menyiram sampai mereka cukup kokoh untuk mencari airnya sendiri. Jangan sampai kita membunuh potensinya untuk tumbuh karena kita malas menyiram. Menjawab pertanyaan sekedarnya membuat mereka tidak puas dan menyerah, padahal bisa kita jawab “ayo kita cari tahu sama-sama!”. Mempermalukan dengan menjawab “masa begitu saja tidak tahu” akan membuat mereka berkecil hati dan berhenti mencari tahu, mereka akan mencari tempe hahaha. Menjawab tidak tahu membuat mereka meniru “ah orang tuaku juga tidak tahu kenapa aku harus tahu”. Menumbuhkan rasa ingin tahu dimulai dari kita. Jangan malu bertanya. Buat ketidaktahuan dan rasa ingin tahu itu hal normal, yang bisa dicari jawabannya.

Biarkan anak melihat dan mencontoh kita, memahami betapa serunya mengetahui alasan dibalik bagaimana cara dunia bekerja.

Dari tadi membahas tahu, kenapa tempe tidak dibahas ya? Mungkin tempe menyerah karena tempe dewasa di sekelilingnya tidak meng-encourage tempe kecil untuk menjadi hebat. Mungkin karena itu ada bahasa

mental tempe dan tempe malang..

Who knows(?)

You May Also Like