AES05 Yakin ada kesempatan berikutnya?
Diki Muhammad Noor
Tuesday March 7 2023, 11:45 AM
AES05 Yakin ada kesempatan berikutnya?

Dalam keseharian, terutama dalam mendampingi proses belajar dan bertumbuh anak mungkin kita sering mendengar ungkapan, ’keun weh cenah ngarasakeun pangalaman’. Biarkan anak mengalami terlebih dahulu, biar mereka sadar akan dampak yang ditimbulkan atau dirasakan dari proses belajarnya. Tapi, apakah kita hanya membebaskan begitu saja, seolah-olah membiarkan berjalan secara alamiah tanpa proses fasilitasi yang memadai sesuai dengan tahapan usia anak.

Seorang fasilitator perlu memberikan ruang-ruang pertimbangan yang matang agar respons yang anak munculkan sesuai dengan tujuan, atau saat tidak sesuai pun masih dalam batas toleransi. Terutama ketika proses/rangkaian pembelajaran yang dijalankan ada kemungkinan berdampak terhadap orang lain. Dalam proses belajar tersebut juga bukan berarti mensterilkan, sehingga memberikan ruang aman dan nyaman yang tentu tidak mendorong pertumbuhan dan perkembangan potensi fitrahnya. Apabila hal ini tidak dilakukan, kebaikan proses belajar itu sendiri tidak akan tercapai.

Di sisi lain, apabila kita membiarkan begitu saja anak berproses secara alamiah, sejauh mana kita tahu bahwa anak tersebut akan mendapatkan kesempatan pembelajaran berikutnya? Apakah kita tahu tentang hal yang masih menjadi misteri karena bergantung kehendakNya, yakni tentang umur/kesempatan? Karena terkadang dalam keseharian kita memunculkan kecenderungan membiarkan anak berproses dengan sendirinya dengan alasan biar jadi pengalaman hidup, meskipun pengalaman tersebut adalah hal yang buruk. Padahal seharusnya, kita memberikan pengalaman hidup yang sebaik-baiknya atau bermakna, sehingga memberikan manfaat buat diri dan lingkungannya. Jangan sampai kita punya anggapan dan merasa paling tahu bahwa umur kita dan anak akan panjang, sehingga di kesempatan berikutnya bisa lebih baik lagi. Padahal kesempatan tersebut belum tentu ada. Lebih jauh lagi peran fasilitator pun akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Sang Pencipta, sejauh mana mengoptimalkan kapasitasnya untuk kebaikan proses belajar anak?

Oleh karena itu, sebuah kondisi yang ideal untuk proses pembelajaran menurut saya adalah hal yang mutlak. Kondisi pembelajaran yang ideal juga sebetulnya secara tidak langsung membekali anak tentang hal2 yang perlu menjadi perhatian mereka ketika berada di lingkungan sosial yang lebih luas. Intinya pendidikan yang ideal ibaratkan membangun pondasi yang kokoh, bukan tentang membangun nuansa aman dan nyaman, sehingga diharapkan mereka bisa menyesuaikan diri dalam merespons berbagai hal yang tidak sesuai dengan pemahaman maupun pengalaman belajarnya, tanpa menghilangkan prinsip yang dipegang.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Mantap ka Diki. Menggenapi tulisan saya tentang Pendidikan yang Terlalu Ideal. 🙏😊
diki muhammad noor
@diki-muhammad-noor   3 years ago
Saya kena ucing dari kak @elka-fiselfia. "Kamu Ucing @mayaulfadwinita, giliran kamu menulis AES!" UcingAES 3/7, gaskeun kak :)
mayaulfadwinita
@mayaulfadwinita   3 years ago
saya udah nulis kemarin ka Diki, ini nih : https://ririungan.semipalar.sch.id/mayaulfadwinita/blog/5065/melihat-dalam-samar
kaci yah? :)
diki muhammad noor
@diki-muhammad-noor   3 years ago
Teu kaci atuh, gow nulis deui :). Boleh qo cerita tentang barang2 yang kemarin dibeli pas gak pakai kacamata juga, hehe.
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Wkwk, belum ditepak udah nulis duluan ya. Mangga kak Maya tepak pemaen berikutnya siapa.
Ga usah nunggu ucing atuh, ini mah sekedar pemantik tambahan aja supaya ga kelamaan bolong nulisnya. ☝
You May Also Like