"Mau sarapan apa?" Tanya saya.
"Bubur." Jawab Nina
Saya langsung mengeluarkan sepeda motor dan meluncur di jalan-jalan kecil sambil berpikir dan melamun. Banyak kejadian akhir-akhir ini yang mengganggu pikiran saya. Sambil mengendarai motor perlahan-lahan saya melihat banyak hal di sekitar saya. Ada yang berjualan nasi kuning, serabi, gorengan, kupat tahu, bubur ayam, lontong kari dan entah apa lagi, belum termasuk jajan pasar yang bertebaran di mana-mana. Kalau dipikir-pikir, hidup di sisi kota Bandung itu tidak sulit dan cukup menyenangkan dan biaya juga cukup terjangkau jika gaya hidup kita tidak berlebihan. Dengan uang 7 ribu saya bisa menikmati sarapan bubur atau membeli 7 buah pisang goreng! Ini sebuah kemewahan!
Suasana hati saya berubah jauh lebih positif sesudah memperhatikan banyak hal dalam perjalanan ke tukang bubur yang jauh ke atas mendekati ujung jalan Pasir Impun. Orang-orang yang berolahraga atau bahkan kuliner sudah mulai banyak. Katanya ada cafe baru dan tempat wisata di atas, saya belum menengok!
2 hari terakhir suasana hati saya begitu terganggu karena ada teman yang meninggal dunia. Terlalu dini untuk pergi karena usianya masih sangat belia, hanya 2 tahun di atas Kano. Takdir manusia memang berbeda-beda, tapi yang membuat saya bersedih adalah cerita diseputar kejadian itu. Perundungan, ini kata yang sangat saya benci karena saya banyak mempunyai pengalaman berkaitan dengan kata ini di masa kecil. Saya termasuk kelompok double minority, dan tinggal di kampung bukan merupakan tempat ideal karena diperlakukan berbeda, karena memang saya tidak sama. Perundungan sudah mendarah daging, untungnya saya bukan tipe orang yang mudah menyerah. Standing up adalah salah satu upaya saya dalam melawan perundungan, dan itu saya belajar dengan perjuangan yang tidak mudah. Orang tua saya mungkin tahu benar mengapa kadang saya pulang dengan baju yang sobek-sobek atau tubuh lebam. Tapi saya tidak pernah mengadu atau mengeluh bahkan suatu waktu ayah saya pernah menyaksikan saya harus menghadapi 3 orang yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar. Saya tahu betul bagaimana rasanya menjadi korban perundungan.
Empati adalah kunci utama dan sayangnya 2 hari terakhir ini saya menyaksikan banyak di kalangan anak muda yang bermasalah dalam hal ini. Kadang saya bertanya-tanya, sekebal itu kah suara hati mereka sehingga dengan santai tanpa ada perasaan bersalah mengungkapkan banyak hal yang menjijikan dalam menanggapi sebuah tragedi yang merengut nyawa manusia? Dimana empati mereka? Dimana suara hati mereka? Jika mengaku sebagai anggota masyarakat religius, seharusnya hal semacam ini tidak terjadi. Semakin religius seseorang, sepatutnya semakin peka suara hati mereka.
Religiositas memang kadang tidak sejalan dengan faktor kemanusiaan lain yang menentukan tabiat serta karakter manusia. Itu saya percayai. Tidak sedikit orang yang lari bersembunyi dalam praktik keyakinan karena di sisi-sisi kepribadian lain mengalami kesakitan. Banyak orang terluka batinnya yang mencari jawaban dengan menekuni spiritualitas, itu sah-sah saja dan banyak bukti bahwa usaha itu menunjukkan hasil positif. Namun jika ingin menjadi manusia yang terpuji, yang mereka lakukan itu tidak hanya sebatas praktik spiritualitas tapi juga dalam bentuk tindakan. Disitu saya melihat banyak ketimpangan.
Banyak juga orang yang bermasalah dalam aktualisasi diri, dalam hal kepercayaan diri melampiaskan banyak kekurangan mereka dengan tindakan yang kurang terpuji, salah satunya perundungan. Banyak juga diantara mereka yang kemudian membutuhkan validasi dari orang lain sebagai bentuk kamuflase menutup kekurangan yang ada di dalam diri dengan tindakan mengecilkan orang lain terutama jika mereka sedang berada dalam kelompok. Orang-orang ini sebenarnya adalah pengecut yang bersembunyi dengan bergerombol. Dan mereka-mereka ini akan sangat mudah dikenali ketika mereka membuka mulut.
Ini memang masalah yang tidak kecil. Menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang terpuji tidak semudah mengajari orang menanak nasi atau mencangkul. Ini butuh proses pendidikan dini yang berkesinambungan yang melingkupi pendidikan di rumah, di sekolah dan di masyarakat. Sayangnya banyak sekali contoh-contoh yang justru berseberangan dengan hal ini. Rumah yang tidak ideal, sekolah yang amburadul, bahkan contoh-contoh di masyarakat yang tidak mendidik. Tidak percaya? Silakan catat dan hitung, berapa rasio berita negatif dan positif di televisi! Itu baru satu contoh. Salah satu yang ingin saya usulkan misalnya di tingkat pendidikan formal, ada aturan yang jelas mengenai perundungan. Lihat di universitas di Bali yang sedang mengalami kasus ini, tindakan dari pihak universitas saya nilai butuh perbaikan. Permintaan maaf tidak akan mengembalikan nyawa orang, tapi yang saya harapkan adalah bagaimana mereka dapat menghindari peristiwa serupa agar tidak terjadi lagi. Saat ini semua sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur.
Foto credit: pfimegalife.co.id
Terimakasih Jo sudah ikut menyuarakan tentang ini. Ingin memulai tulisan tentang inipun berat rasanya. Lebih ingin rasanya segera melupakan dan beranjak ke hal lain. Tapi inipun sama sulitnya...
Terimakasih jug Jo sudah berbagi pengalaman serupa di masa lalu. Pertanyaannya kenapa? Kemana hilangnya welas asih kita manusia...