Hampir 3 minggu setelah 8 kilometer dari Pada Tenang ke Sukaampat, salah seorang Kakak masih merasakan dampak pada kakinya. Semacam terjadi iritasi atau peradangan pada otot kakinya. Sehingga beberapa kegiatannya terhambat. Berbabagai pengobatan dicobanya, hingga berkunjung pada beberapa sekaligus untuk menemukan titik terang. Ia berharap dapat segera sembuh dan tidak lagi "terganggu" dengan sakit di kakinya.
Hari ini ia bercerita, ia merasa bersalah atas beberapa hal. Ia merasa tidak bisa maksimal melakukan tugasnya. Merasa "tidak enak" pada partner kelasnya juga. Hal ini ternyata cukup mengganggu pikiran dan batinnya. Mungkin ada rasa segan juga untuk mengomunikasikan pada partner dan pihak lain atas pekerjaan yang dirasa menjadi tidak maksimal. Keberaniannya untuk bercerita hari ini didorong sedikit "rasa ketidakmampuannya" untuk segera sembuh, rasa bersalah, dan perasaan "tidak enak" yang semakin menumpuk. Sampailah ia pada ungkapan bahwa dirinya kesal atas apa yang menimpanya. "Kenapa harus sakit gini, sih? Kenapa nggak sembuh-sembuh?"
Setelah berhasil membagikan keluhannya dihadapan 3 pasang telinga yang mendengar dengan hatinya juga, air matanya tak tertahan lagi. Ia kembali lebih tenang dengan saran yang sebenarnya bukan saran juga. Pemilik 3 pasang telinga hanya mengembalikan kepadanya, bahwa perlu lebih berterima dan ikhlas dengan yang sedang dirasa. Alih-alih menyalahkan bagian tubuh yang sakit, tetapi berdamai dan mendengarkan keluhan si kaki. Bagian tersakit dalam diri adalah bagian paling membutuhkan kasih sayang dan kehadiran diri. 3 pasang telinga juga mengingatkan lagi untuk tidak terburu-buru dan hanya fokus pada kesembuhan dengan mencoba semua metode penyembuhan. Sebab, bisa jadi tubuh ingin dikenali lebih dalam. (alangkah baiknya) Tidak ada orang lain yang mengenal kita lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Dokter dan orang lain hanya bisa memberi saran, namun yang tahu benar, tetaplah diri sendiri. Kembali lagi pada proses literasi dan numerasi diri. Membaca dan mengukur diri sendiri.
Tetapi, sering kali kita juga terjebak pada perasaan "bisa mengendalikan semuanya". Jika hidup seumpama kita menumpang bus, bukankah tugas kita duduk dan menikmati perjalanan. Kalau semua penumpang berusaha mengambil alih kemudi, bisa dibayangkan bagaimana laju bus raksasa ini. Di tengah hari yang beranjak menuju sore, pelukan hangat membuatnya kembali melihat cahaya, meski langit kembali abu-abu menuju hujan.