Ada sebuah filem biasa-biasa saja, ratingnya juga biasa saja. Saya tonton sambil mengerjakan yang lain karena iseng saja sekalian sengaja "menganggu" Nina karena dia selalu komentar jika saya nonton filem yang cheesy, jadi saya sengaja nonton untuk gangguin dia hahaha..
Eniwei hari ini saya tidak ingin ngobrol soal filem. Saya ungkit itu karena memberikan ide soal home. Di filem tersebut memang menceritakan bagaimana seseorang yang tersesat dalam hidupnya dan akhirnya kembali pulang untuk dapat bersama dengan keluarganya. Ya, sangat sederhana dan cheesy seperti cerita anak yang hilang dalam sebuah perumpamaan yang sangat sering digunakan dalam sekolah Minggu jaman saya kecil hahaha..
istilah home bagi saya bukan hanya semata-mata tempat tinggal. Rumah bukan hanya tempat yang berdiri secara fisik sebagai tempat untuk berlindung, tidur, masak dan sebagainya . Rumah bagi saya juga merupakan perasaan. Rumah adalah dimana saya merasa aman, nyaman, penuh dengan kehangatan kasih sayang. Rumah adalah keharuman makanan. Rumah adalah senyuman dan juga tangisan. Rumah adalah kenangan. Rumah adalah harapan. Rumah adalah masa lalu, masa kini dan masa depan.
Tahun lalu ketika akhirnya saya pulang ke tanah air, terus terang saya seperti tersesat. Bayangkan ketika kita pergi ke suatu tempat yang kita sangat kenal tapi sekaligus pada saat yang sama juga merasa asing. Nah itu yang benar-benar saya rasakan. Berbagai upaya sudah saya lakukan untuk mengubah keasingan yang saya rasakan hingga saat ini. Apakah berhasil? Tidak selalu.
"Jo sih separo atine ketinggalan." Kata salah seorang teman sejak kecil dalam bahasa Jawa ketika kami ngobrol tentang acara kumpul-kumpul yang akan datang. Saya merasa perkataan dia tepat sekali.
Mungkin itu yang biasa dialami orang para orang tua. Saya sungguh mengerti ketika hampir setahun yang lalu mengucapkan selamat ulang tahun dan panjang umur pada ayah saya. "Panjang umur? Kaya gini?" begitu responnya. Memang ada benarnya, apa gunanya hidup dan panjang umur jika sepanjang waktu hanya duduk di kamar di depan TV tanpa mampu mendengar apa-apa yang ditayangkan di TV karena kemampuan pendengaran sudah sangat terbatas. Berjalan kaki juga tertatih-tatih dan kadang mengalami kesulitan ketika ingin ke kamar mandi. Berpacu antara tuntutan alam dan kemampuan tubuh. Bukan hal yang menyenangkan dan tidak ada gunanya berumur panjang jika sudah tidak lagi merasa hidup. Saat ini rumah hanya berarti masa persinggahan, tempat menunggu pintu dibukakan, tempat penantian menuju masa depan. I am home but do not feel at home. Kalau sudah begitu, apa artinya?
"At least I don't have to worry about paying rent because it is my house." Kata saya menghibur diri. Barang-barang yang ada di dalam rumah juga benar-benar barang yang saya miliki karena memang ingin memilikinya bukan hanya sekedar memiliki kegunaan dengan kualitas seadanya. 18 tahun dalam hidup saya hanya menggunakan barang-barang yang saya beli dengan alasan fungsional. Tidak penting kualitasnya rendah selama dapat berfungsi. Saya tidak mementingkan pisau yang tidak seimbang dan terlalu ringan ketika digunakan asal cukup tajam dan bisa untuk merajang. Sekarang berbeda, saya ingin pisau yang tajam, kualitas baik dari bahan yang bagus dan berat yang seimbang. Intinya saya ingin yang baik dan bisa saya gunakan untuk jangka waktu lama. Dulu saya akan buang ketika sudah tidak dibutuhkan, sekarang harus bisa disimpan dan tahan lama. Alasannya karena ini adalah rumah saya sendiri dan tidak perlu pindah-pindah dan membeli yang baru. I am trying to settle down, saya berupaya untuk menetap. Tapi tepat seperti kata teman saya tadi, separuh hati saya tertinggal dan tidak pernah merasa utuh.
Itukah yang ayah saya maksud? Ada di rumah dikelilingi anak-anak tercinta tapi hidupnya sudah tidak utuh lagi dan tidak lagi merasa tinggal di rumah? Apakah begitu yang dirasakan oleh setiap orang tua?
Merasa at home itu memang ada di kepala dan di dalam dada. Sangat rumit jika benar-benar ingin diurai. Banyak orang-orang menghadiri konseling sebagai upaya untuk memiliki rasa itu. At home itu tidak hanya berarti kerasan. Terlalu sederhana jika digambarkan dengan satu kata itu karena sekali lagi sangat rumit. Dalam berbagai konseling banyak cara yang dianjurkan untuk mencapai perasaan itu seperti misalnya menambahkan banyak sentuhan-sentuhan personal dalam rumah seperti memajang foto-foto keluarga dan sebagainya. Itu sudah saya lakukan, menyenangkan melakukannya, menghangatkan hati ketika menjalani prosesnya dan berakhir dengan suatu yang indah. Memperbaiki kondisi juga sudah saya lakukan, pencahayaan yang sesuai yang saya inginkan sudah diusahakan dan banyak lagi, para tetangga bahkan mengatakan bahwa sekarang rumahnya cantik bahkan beberapa mulai meniru menggunakan disain-disain kekinian. Tetap masih belum cukup.
Kemarin saya ngobrol masalah mindfulness yang berkaitan dengan makanan. Nah, sekarang saya mulai menjamah hal lain, yaitu being mindful, being present dan aware dengan sekeliling saya. Itu mungkin salah atu hal yang paling esensial jika ingin benar-benar hidup dan feeling at home. Aware dan mindful tentunya berkaitan dengan bagaimana saya dapat menempatkan diri dan terlibat dengan sekeliling saya. Jalan kaki berolahraga depan rumah tapi sibuk dengan diri sendiri dan mengabaikan orang-orang lain serta kondisi maupun kejadian pada saat itu tentunya tidak akan membantu saya untuk bisa at home. Be present artinya juga menerima keadaan saat ini. Jika tidak maka saya akan terus berada di tempat lain dan jangan pernah berharap untuk bisa kerasan. Sebagian hati saya misalnya ada di tempat lain, tapi jika menerima keadaan sekarang dan merangkul rasa kehilangan itu, maka saya tetap akan bisa being present. Nah ketika semuanya bisa diterapkan maka baru bisa berkata finally home!
Foto credit: amazon.in