AES 1544 I Love To Miss Him
joefelus
Wednesday December 10 2025, 6:48 PM
AES 1544 I Love To Miss Him

Terdengar sangat romantis ya judulnya? Ya begitulah walau obrolan hari ini lebih ke relasi antara orang tua dan anak. Saya selama ini biasanya ngobrol dengan peran sebagai orang tua, tapi kali ini saya menempatkan diri sebagai anak yang mencintai orang tua.

Saya selalu menganggap lebih dekat dengan Ibu daripada Ayah. Bukan apa-apa, ibu saya itu lebih mudah didekati, lebih mudah dihubungi dan lebih banyak tinggal di rumah daripada ayah saya yang selalu sibuk bekerja. Itu yang pertama, kedua ayah saya begitu tertutup, pendiam, introvert dan sama sekali tidak pernah menunjukkan afeksinya pada siapapun. Hanya kadang kadang saya melihat bagaimana ayah begitu mencintai ibu ketika dulu saya masih kecil dan Ayah tidak terlalu jaim menunjukkan emosinya daripada ketika kami anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Khas orang jaman dahulu, hal-hal afeksi, romantisme dan lainnya itu tidak pernah terlihat dipermukaan. Beda dengan jaman sekarang, saya sering dengan sengaja menunjukkan perasaan saya di depan Kano hanya sekedar menggoda dia. "Ewww... gross!" Begitu dia selalu bereaksi sambil menjauh, atau begitu lebih dewasa dia ngomel,"Get yourself a room!" Hahahaha...

Baru sesudah semuanya usai, ketika ritual dan upacara mengantar Ayah saya selesai, saya mulai merasa ada kekosongan yang perlu dibenahi. Pagi ini untuk pertama kalinya setelah 1 bulan terakhir, saya bangun sangat siang. Siang itu sebetulnya hanya sekitar pukul 8 pagi. Aneh rasanya karena biasanya pukul 8 saya sudah selesai merawat ayah, memandikan dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih, harum dan baru. Saya sungguh kehilangan momen-momen ini.

Jujur saja, saya harus menanti beberapa dekade untuk akhirnya dapat merasakan ungkapan sayang dari ayah, walau hanya 1 detik saja. Mengherankan sekali, bukan? Ya memang begitulah ayah saya. Beliau bukan orang yang aromantic, bukan juga philophobia atau misanthrope, bukan. Beliau adalah orang yang penuh kasih sayang tapi type orang yang memilih untuk tidak menunjukkannya. Saya sungguh tidak mengerti bahkan hingga saat ini sesudah beliau berpulang, saya masih belum mengetahui alasan mengapa ada seseorang yang memilih untuk tidak menunjukkan isi hatinya.

Kekerasan hidup yang beliau jalani mungkin menjadi salah satu alasan mengapa beliau memilih untuk menjadi seseorang yang tegar, kokoh seperti batu karang. Beliau sudah tidak memiliki ayah ketika masih berusia 12 tahun, adiknya jauh lebih muda darinya, konon berdasarkan cerita, oom saya yang jauh lebih muda selalu menempel pada ayah kemana-mana. Ayah saya bahkan melindungi oom ketika sedang menghadapi berbagai masalah. Being a tough guy had always been the only choice! Sepertinya begitu. Nah, sebagai anaknya, seumur hidup saya tidak pernah dapat mengerti, hingga saat akhir Beliau. Baru ketika menjelang saat-saat akhir saya akhirnya mengalami semacam closure, walau hanya sedetik berupa genggaman tangan, tanpa kata-kata, bahkan tanpa pandangan mata.

Kalau dipikir-pikir relasi saya dengan Ayah hampir mirip seperti syair lagu Hopelessly Devoted To you yang dinyanyikan di filem jadul Grease! Hahaha.. seperti orang yang berpacaran, atau berharap menjadi pacar, menunjukkan rasa cinta tanpa balas. Begitulah kira-kira..

Yang jelas ungkapan kasih sayang antara ayah dan kami anak-anaknya memiliki frekuensi yang berbeda. Ketika beliau meletakkan tangan di dahi saya pada saat saya sakit, mungkin itu adalah ungkapan rasa sayang beliau. Ketika menanyakan apakah saya sudah makan atau belum, mungkin itu adalah bentuk perhatian yang beliau sampaikan. Sementara kami anak-anaknya berharap ketika kami menjadi juara kelas, ayah setidak-tidaknya mengelus-ngelus kepala atau bahkan memeluk dengan bangga. Yang kami peroleh adalah satu kata:"Bagus!" lalu beliau berlalu. Mungkin karena itu kami anak-anaknya sibuk berlomba selalu menjadi yang terbaik dalam semua hal bahkan berusaha berhasil dalam hidup. Just to impress him!

Akhirnya di lembaran-lembaran terakhir hidup beliau, kami semua mengerti. Saya sendiri tidak segan-segan membanjiri beliau dengan ungkapan kasih sayang. Ketika memandikan beliau saya tidak segan-segan lagi memeluk serta mencium beliau. Toh beliau tidak bisa protes hahaha.. Yang saya peroleh adalah hadiah yang luar biasa, pandangan mata yang jernih kadang berkaca-kaca, senyuman dan terakhir genggaman jari-jarinya yang sudah keriput membuat hati saya meleleh.

Saya juga yakin beliau mengerti ketika hampir setiap saat saya dan adik ipar lak-laki, suami adik saya, berdua merawat beliau sambil bersendagurau. Mengurus dan merawat beliau bagaikan rewards yang sangat menyenangkan. Kami melakukannya dengan riang gembira dan tidak sedetikpun dianggap sebagai beban. Apalagi saya pernah berjanji untuk merawat beliau hingga akhir karena saya tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk merawat mendiang Ibu. Dan Ayah ternyata memberikan kesempatan untuk melakukan yang belum pernah saya lakukan pada orang tua.

Pagi ini terasa kosong ketika membuka mata. Ada sesuatu yang hilang dan saya tahu, lubang yang masih berdarah-darah itu tidak akan pernah terisi lagi. Kehilangan beliau menunjukkan rasa sayang saya. Walau kedekatan secara fisik dan emosional yang begitu intens hanya bertahan selama beberapa minggu saja, rasanya seperti mencurahkannya seumur hidup. I really love to miss him. Membayangkan tubuh yang sudah lelah dan pasrah ketika saya peluk dan ciumi, menghangatkan hati. Yes, I love to miss him! By a lot!

Foto credit: 123rf.com

Andy Sutioso
@kak-andy   5 months ago
Tentang duka ini saya sempat menulis tentang ini di sini https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/3565/aes358-grief
Ada video pendek di dalamnya yang sangat menyejukkan hati. πŸ™πŸΌπŸ€
You May Also Like