Hari Belajar hari ini bertopik Literasi. Topik yang luas dan mendasar, pagarnya kelas. Meski demikian, masuk ke kelas, tidak lantas jadi mengerucut ke kemampuan bahasa. Lebih dari tentang huruf, kata, kalimat, atau buku. Lebih dari sekadar mampu membaca teks. Tetap luas, karena yang perlu dibaca, dikenali dan dipahami adalah manusia, baik diri sendiri maupun insan-insan kecil dalam kelompok, dengan segala keunikan dan faktor yang berpengaruh.
Format diskusi sebagai proses belajar sendiri, disadari menjadi ruang mengasah literasi yang seru juga. Ada proses mengenal pikiran dan pemahaman diri, lalu upaya mengungkap dengan jelas. Juga ada proses mendengar pendapat rekan, membaca ekspresi, penyampaian dan pesan yang terkandung. Hingga di ujung menemukan simpulan.
Salah satu simpulan menarik dari diskusi sore tadi adalah bahwa kemampuan mengenali diri (inner) seseorang erat berkait dengan kemampuannya membaca semestanya (outer). Ketika mengasah kepekaan untuk membaca sekitar, semisal lewat kegiatan menanam dan mengamati pertumbuhan benih. Seluruh indera akan terasah, termasuk rasa, kepekaan, pemahaman dan pengetahuan. Ketika menyiapkan tanah, meletakkan benih, diri akan mengenal harapan. Saat memelihara dan menjaga, menyiram, menyiangi, memberi senyum, mengajak bicara, mendoakan, diri akan mengenal upaya sepenuh hati, ada helai-helai kasih yang turut ditanam di situ. Dalam proses mengamati benih bertumbuh, diri mengenal proses panjang yang perlu dijalani, ada keping kesabaran terkandung di dalamnya. Ketika bertumbuh subur, berbunga, berbuah atau sampai ke tahap memanen, diri akan berjumpa dengan momen keberhasilan, mengenal rasa bangga, rasa mampu, dan rasa syukur. Sepertinya sederhana banget, apa benar bisa segitunya? Tentunya. Saat disadari penuh, momen-momen tidak berlalu begitu saja..