Kemarin sore selesai kerja sebetulnya berencana mengunjungi pembukaan sebuah pameran seorang teman. Meski batal, kabar pameran dan kehadirannya di Bandung mengingatkan kembali pada sosok teman yang sungguh unik ini.
Teman saat kuliah dan merintis usaha pertama. Sudah lama kami tak bertemu meski aku masih terus mengikuti perjuangan dan sepak terjangnya lewat medsos. Ia adalah salah satu sosok yang berhasil membuktikan diri bahwa meski tidak mudah, impian itu sungguh dapat terwujud. Sejak kuliah cita-citanya spesifik dan jelas, membuat studio grafis. Talentanya juga spesifik dan besar. Tidak sekadar dalam membuat karya, dengan kepekaan kuat akan garis dan bentuk yang mewujud dalam goresannya yang selalu keren. Lebih jauh dari itu, ia ingin membantu banyak seniman untuk dapat membuat karya-karya yang berkualitas lewat media grafis. Karenanya ia terus bereksplorasi, mengembangkan teknis, alat, bahan dll, agar kualitas dan kemungkinan yang bisa digunakan dalam proses berkarya terus berkembang. Itulah yang mendasari usaha pertama kami. Meski usahanya maksimal, ternyata tidak berjalan langgeng karena beda visi dengan rekan lain.
Bubar dari situ, ia melanjutkan usahanya sendiri, yang kemudian harus ia relakan juga. Lalu sempat mengajar, bekerja pada orang lain, banyak detour, banyak kendala, kadang harapannya melambung, lalu terhempas. Entah berapa lama sudah ia jalani, tapi impiannya tak pernah ia lepaskan. Tak pernah ke lain hati, terus ia jaga seperti bara yang membuatnya terus bergerak. Mendengar kabarnya dari waktu ke waktu, seperti perjalanan naik roller coaster. Di satu sisi memunculkan rasa gemas atas kepenasaran dan obsesinya, di sisi lain ada rasa kagum akan kesetiaan pada passionnya dan keyakinan pada dirinya sendiri.
Dia pernah bercerita bahwa pernah ada ramalan yang mengatakan bahwa dia adalah naga yang tidak berekor. Bisa memulai suatu yang besar, tapi tidak bisa melanjutkan hingga selesai. Percaya atau tidak, tapi menemukan ekor tampaknya perlu menjadi misi dirinya.
Beberapa bulan sebelum pandemi ia berangkat ke Bali, merintis sebuah studio grafis milik pemodal. Seperti yang sudah-sudah, aku hanya bisa mengirim doa dan harapan baik. Meski awalnya tidak berjalan seperti yang dibayangkan, tapi kemudian di tengah pandemi ia berhasil lepas landas, membuat studio sendiri. Perlahan tapi pasti ia mulai mewujudkan impiannya. Perupa, pelajar, dari berbagai kota, bertandang, mengikuti kelasnya, bekerja sama dengannya, membuat karya dan menggelar pameran. Sepertinya sang naga telah berhasil menemukan ekornya.
Semoga langgeng. Terus berkarya, terus membawa manfaat dan kesegaran di dunia grafis yang sungguh unik! 
Photo: @devfto [Printmaking Institute]
Inspiring banget kisah teman Kak Ine ini.