EKSPEDISIIIIII. Salah satu kegiatan utama di kelas 9 dan paling seru. Proses program ini kurang lebih 4-5 hari, namun sayangnya aku tidak bisa mengikuti kegiatan dengan utuh karena ada turnamen golf di jakarta, jadi harus pulang di hari Kamis. Walau begitu, overall kegiatannya berasa sangat cepat dan mengenang saking serunya.
Mulai dari perjalanan ke Sukabumi yang memakan waktu kurang lebih 4 jam, kemudian dari sukabumi yang memakan 4 jam juga, dan yang terakhir ke Babakan Lama selama 2 jam di jalan yang sangat meliuk-liuk. Kita datang pada pukul 4 sore dengan total di perjalanan 10 Jam. Tiba di Babakan Lama, kita langsung disambut oleh Pa Jedi selaku akil ketua adat disana, yaitu Abah. Karena semuanya merasa lelah di perjalanan, jadi kita diberi waktu istirahat dan bonding bersama keluarga angkat masing masing selama kurang lebih 3 jam. Pada saat itu, aku menginap di rumah Pa Jedi bersama Carlos, dan Ama. Dalam kurun waktu kurang dari 2 Jam, aku dan Pa Jedi sudah sangat Akrab dengan menggali informasi dan menanyakan seputar Kampung Babakan Lama. Entah mengapa, Pa Jedi cerita bahwa rumahnya merupakan yang paling tradisional di Kampung ini, Beliau juga berseru bahwa rumah ini merupakan yang paling asik di antara yang lain, kami bingung awalnya, namun tak lama kemudian benar saja, kelompok dari keluarga lain datang karena merasa jenuh di rumahnya sedangkan Kelompok Keluarga Pa Jedi sangat menikmati dan merasa seru. Disitulah kami merasa beruntung tinggal bersama Pa Jedi.
Hari kedua, kami terbangun dengan semangat dan penuh rasa penasaran ingin meng-explore tempat tempat tradisional disana, pertama kita dibawa ke lisung oleh Pa Jedi, yaitu sebuah bangunan yang didalamnya terdapat beberapa alat untuk menumbuk padi, dan sudah ada 3 ibu-ibu pada pagi itu. Kami sempat mencoba untuk menumbuk padi, dan ternyata tidak mudah. Tak hanya perlu tenaga yang kuat, tapi kita juga perlu untuk menjaga momentum kita saat menumbuk agar energi dan tekanan yang diberikan lebih tersalurkan. Setelah dari lisung, kita langsung diajak ke sawah oleh Pa Jedi, lebih tepatnya Huma. Disana kita diarahkan untuk memanen singkong dan menanamnya kembali dengan stek. Kemudian setelah itu kita memotong daun pisang untuk alas nasi. Setelah itu kami kembali kerumah dan langsung mengolah singkong tersebut. Kami menjadikannya 2 olahan, yaitu keripik Singkong, dan Combro. Aku bagian memarut kelapa, dan Ama Carlos bagian memotong singkong menjadi bentuk Kotak untuk digoreng menjadi keripik.
Hari ketiga dimulailah kegiatan yang cukup brutal, yaitu menangkap di sawah yang basah penuh lumpur. Kita berangkat ke sawah jam 9 dengan tujuan makan siang di sawah dengan ikan yang akan kita tangkap nantinya. Kita pergi sekelas agar suasana semakin asik dan bisa merasakan bagaimana sebenarnya menjadi seorang petani. Saat tiba disana tidak semuanya ikut, Salvia & Gwen tidak ikut mencari ikan di sawah lumpur, LEMAHHH!
Setelah kurang lebih 1 setengah jam kami merasa ikan yang ditangkap sudah sangat cukup. Pa Jaja (salah satu orangtua) sudah menyiapkan Nasi liwet dan membakar ayam dengan kayu bakar. Ikan segera dibersihkan dan ditusuk menggunakan kayu menjadi ikan panggang. Proses masak memakan waktu kurang lebih 30-50 menitan. Setelah semuanya matang, Pa Jaja dan kawan kawan menyiapkan mencabut daun pisang langsung dari pohonnya dan dijadikan piring oleh beliau. Kita makan dengan konsep ngeliwet, seperti makan tengah dengan lauk dan nasi yang sangat puass. Namun sejujurnya pada saat itu, selera makanku kurang karena aku membayangkan daun pisang yang digunakan belum dicuci sama sekali, dan ada semut yang berkeliaran di bawah nasi liwetnya, sehingga makanan terasa kurang nikmat, dengan suasana hutan yang penuh serangga.
Begitu dehhh cerita Ekspedisi kuu, cerita diatas merupakan hal yang menurutku paling berkesan selama disana, asik deh. Oiya, masyarakat babakan lama juga menerapkan semacam prinsip hidup mereka, yaitu slow living, jadi mereka hidup dengan santai tanpa tekanan, mereka percaya bahwa jika semuanya dilakukan dengan hati-hati, maka mudah-mudahan semua hal yang dijalani bisa lebih bermakna dan optimal. Itulah kenapa saat aku kembali ke perkotaan rasanya sangat chaos, dan sangat sibuk. Ternyata ada untungnya juga ya hidup di Kalangan Masyarakat Traditional.