Nusantara adalah rencana Ibu Kota Negara Indonesia baru yang terletak di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dengan luas tanah sebesar 256 ribu hektare. UU IKN sudah diresmikan pada 18 Januari 2022, pembangunannya akan segera dilaksanakan pada tahum 2022-2024. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengharapkan agar pembangunan IKN baru ini mengedepankan inisiatuf hijau. Menurut Jokowi, IKN baru ini akan menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan green credential. Contohnya seperti penggunaan kendaraan listrik, monorel, dan taksi drone sebagai bagian dari pergerakan 'kota bersih'.
Lalu, kenapa sih harus pindah ibu kota?
1. Beban Jakarta dan Pulau Jawa dianggap sudah terlalu berat
2. Keterbatasan suplai air bersih, turunnya muka tanah, kualitas udara Jakarta buruk, diiringi dengan turunnya kondisi dan fungsi lingkungan lainnya.
3. Tingkat kenyamanan hidup di Jakarta semakin menurutn
4. Keinginan untuk mengubah mindset 'Jawa Sentris' menjadi 'Indonesia Sentris'4
5. Kontribusi ekonomi Pulau Jawa sangat mendominasi sedangkan pulau lain tertinggal
Berdasarkan data Forest Watch Indonesia (FWI), deforestasi di Indonesia mengalami peningkatan dari sebelumnya 1,1 juta hektar per tahun pada periode 2009-2013, menjadi 1,47 juta hektar per tahun periode 2013-2017. Dari tahun 2017 hingga sekarang, angka deforestasi memang menunjukkan penurunan. Tetapi hal ini bukan karena intervensi dari pemerintah, melainkan karena sumber daya hutan telah habis, contohnya di Jawa dan Sumatera. Proses pembangunan IKN baru mengakibatkan banyak lahan yang terpakai, dan banyak hutan yang ditebang. Kementerian Lingkungan Hidup dan Perhutanan dilaporkan melepaskan 42 ribu hektare hutan produksi yang dijadikan kawasan IKN Nusantara.
Greenpeace menunjukkan bahwa lokasi IKN tidak bebas dari kebakaran hutan dan kabut asap. Pindahnya IKN ke Kalimantan tentu menungkatkan nilai migrasi yang akan memicu ekspansi lahan untuk pemukiman dan pertanian. Belum lagi dengan banyaknya lahan gambut di Kalimantan, potensi kebakaran dan pembakaran lahan dan hutan dikhawatirkan akan muncul untuk kemudian membuka rantai potenti kerusakan lingkungan yang lain.
Kalimantan memiliki banyak fauna endemik, contohnya orang utan dan bekantan. Kedua spesies tersebut berada pada statur kritis, yaitu populasi mereka sudah menuju kepunahan. Menurut International Union For Conservation of Nature (IUCN), diperkirakan tersisa 139 Orang utan di Borneo Orangutan Survival Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Untuk bekantan, data dari kelompok Pengelola Mangrove Center Balikpapan pada tahun 2018, tercatat populasi hanya 300 ekor. Dengan adanya pembangunan IKN baru ini, ada kemungkinan berkurangnya atau hilangnya habitat orang utan, bekantan dan satwa lainnya,
Hulu Teluk Balikpapan degan hutan mnagrove yang luas turut tercakup dalam wilayah IKN yakni dalam ring dua. Mangrove memegang peranan penting dalam sektor perikanan, berperan sebagai pemasok pakan terbesar dalam rantai makanan di ekosistem pantai, penyerap karbon terbesar dibanding hutan daratan, dan ia melindungi wilayah pesisir dan erosi, sedimentasi dan tsunami. Keberadaan IKN nanrinya dikhawatirkan akan mengancam ekosistem mangrove dan menghilangkan fungsi pentingnya bagi lingkungan Kalimantan khususnya.
Tentunya pembangunan ibu kota baru Nusantara dapat membawa berbagai dampak positif maupun negatif. Dengan pembangunan ini, kesempatan pemerataan ekonomi bida meningkat dan kesenjangan dapat menurun. Namun, di sisi lain kualitas lingkungan Kalimantan Timut dapat terancam.