Hai semua, hari ini aku mau bahas soal The Good Girl Syndrome. Sebuah sindrom yang lagi hype akhir-akhir ini. So, aku highlight buat para perempuan-perempuan, sini pada kumpul! Kita bahas sama-sama, ya!
menginjak dewasa, sikap baik perempuan harus bisa diaplikasikan dalam caranya menyenangkan orang di sekitar, mengurus suami, mengurus rumah tangga, melahirkan serta membesarkan seorang anak. Walau sebenarnya bersikap baik bukanlah suatu kesalahan. Problematikanya adalah apabila “sikap baik” ini gak didasari oleh kesadaran penuh dari perempuan itu sendiri.
Mereka terpaksa melakukan ini karena terbentur oleh norma, standar, dan pola asuh yang membentuknya. Akibatnya, perempuan gak bisa mengekspresikan apa yang sebetulnya ia inginkan. Sikap ini disebut sebagai The Good Girl Syndrome.
Karakteristik perempuan yang memiliki The Good Girl Syndrome biasanya adalah takut mengecewakan orang lain, takut berbicara supaya gak menyakiti orang, menghindari konflik, menaati peraturan, dan juga sulit menolak permintaan orang lain. Sehingga perempuan dengan sikap ini cenderung menghindari kritik, konflik, penolakan, kesalahan, serta selalu bermain aman.
Pola asuh otoriter menjadi salah satu penyebab terbentuknya The Good Girl Syndrome. Melansir dari verywellmind.com pola asuh otoriter adalah gaya pola asuh yang menuntut anak-anak mereka untuk berperilaku sesuai ekspektasi orang tuanya. Walaupun begitu, para orang tua ini biasanya gak memberikan pengasuhan secara maksimal. Sehingga apabila anak mereka melakukan suatu kesalahan, para orang tua ini gak segan memberikan hukuman.
2. Sosial Budaya
Menyambung poin pertama tadi, faktor sosial budaya ternyata juga ikut berperan membentuk The Good Girl Syndrome pada perempuan. Melansir dari Jurnal Perempuan berjudul “Perempuan dan Belenggu Peran Kultural” disebutkan bahwa menjadi istri dan ibu rumah tangga (homemaker) sudah sejak lama melekat dalam diri perempuan.
Sumber = https://satupersen.net/blog/apa-itu-the-good-girl-syndrome