AES02 MARAH
rdcitramirasati
Sunday March 27 2022, 8:51 AM

Tok..tok..tok.. suara langkah sepatu mengiringi perjalanan seorang anak sepulang sekolah. Ia tampak berjalan gemetaran. Rupanya ia kehilangan harta yang paling berharga, adalah taperwer (sengaja nulisnya gini biar gak sebut merek. Hha).

Sesampainya di rumah Ia pun memberanikan diri untuk berkata, "Mah....".

Perdebatan pun terjadi. Kekuatan batin seorang Emak emang tiada duanya. Baru 1 kata terucap, Emak pun langsung mengerti. Terbayang? Bahahahha.

Ditengah perdebatan, sang anak bertanya.
"Kenapa sih harus marah?" tanya anak itu yang dimarahin Mama karena taperwer kesayangan is gone alias hilang a.k.a leeeeuunyap!

Dan... pertanyaan itu malah berbalik, saat anak itu ngga mau terima pernyataan Mama minta ganti. Mama ngga minta pulsa, udah ngga musim katanya wkwkwkk.

Siapa anak itu? Tentulah aku. Hahaha.

Dari kejadian itu, aku berpikir. Kayanya sah sah aja deh punya rasa marah. Toh, setiap orang punya emosi/ perasaan masing-masing. Mungkin kalau diringkes, marah boleh, tapi ya ngga marah-marah, begitu. Karena marah dengan marah-marah nih malah bikin jelimet.

Yakin deh, setiap orang pernah ngerasain marah. Tapi keluarannya beda-beda.
Ada yang mendem sampe engap. Ada..
Ada yang jadi bawel. Ada...banyak hha
Ada yang bisa santai kaya dipantai. Ada...
Dan ada ... lainnya.

Keluaran/ ekspresi marah yang kurang tepat, bukan menyelesaikan persoalan tapi malah munculin masalah baru. Padahal sepele tapi jadi besar. Kadang berujung malu ataupun penyesalan. Kalau aku, seringnya sih yang kedua. Nah.. gara-gara ini, akhirnya mikir lagi. Kayanya bisa deh dikendaliin. Sampai aku menemukan quotes "Jika marah, Diamlah!". Aku pun lebih meyakinkan diriku dengan berpegang pada kepercayaan ajaran agamaku,

“Apabila seorang dari kalian marah saat berdiri, maka duduklah; Apabila marah telah hilang darinya (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).

Kata-kata ini aku pahami sebagai cara untuk mengendalikan marah. Menjauhkan diri melakukan sesuatu yang mengikuti dorongan kemarahan yang berakhir penyesalan. Meski susah dan masih sering meledak, tapi bisa. Bisa banget. (Yookk bisa yoook! Aku mencoba menyemangati diri).

Bagiku.. marah itu rasa ngga nyaman yang muncul saat suatu hal terjadi tapi ngga sesuai sama harapan. Ketika marah itu datang, rasanya seperti bergelut sama diri. Dan ketika marah ini berhasil ku kendalikan, akupun berasa jadi manusia terkuat di bumi hahahahha. "Hore! Aku berhasil melawan diriku!"

Lalu, bagaimana dengan cerita taperwer? Oh tentu saja ku ucap maaf dan ku gantikan yang baru dengan menyicil tanpa marah-marah. Hahahaha. 

You May Also Like