Dua hari yang lalu saya pergi ke pantai batu karas. sebenernya itu cukup terkenal namun masih asing di telingaku, masih di sekitaran pangandaran. saya tidak pergi sendirian, ditemani teman-teman saya dari jurusan film, saya jurusan bahasa sunda. bisa kenal karena kenal dari teman, yah seperti itulah, tali temali silaturahmi. kami berangkat pagi-pagi sekitar pukul 08.00 wib. suasana pagi sangat cerah, aku pergi ke gang minyak tanah ke rumah temanku, dia sudah menunggu dalam mobilnya, dan aku pun langsung berangkat, berangkat ke ujung berung terlebih dahulu karena harus menjemput teman saya yang lain. Lalu kami berangkat menuju leles garut, menjemput teman kami yang lain. perjalanan sangat jauh sekali ratusan kilometer harus kami tempuh, selama perjalanan kami mendengarkan musik-musik populer dan membahas perihal keaadan dari keadaan diri kita masing-masing. seru dan sangat menenangkan, namun di tengah perjalanan kami sempat tersesat, karena terlalu terpaku pada google maps, jalanan semakin sempit, dan semakin tidak bagus. aku pikir aku harus tetap melaju bersama-sama temanku, kami pun menanyakan ke penduduk setempat, jalan yang benar ke pangandaran kemana?. untungnya warga-warga disana sangat ramah dan mengarahkan jalan yang benar untuk menuju kawasan pangandaran. hari semakin redup, kami sempat panik karena takut kemalaman di jalan yang entah ada dimana, semuanya nampak hijau, kami dikelilingi oleh hutan belantara. namun syukur kami menemukan jalan besar. Kami tiba di jalan besar dan sudah terlihat ciri-ciri peradaban, jalan menuju batu karas sudah dekat. Setibanya di penginapan kami coba menghubungi pemilik villa, dia ada memegang hape, sebelumnya temanku memanggil dia "kang", namun ketika dia datang, terlihat seorang pria paruh baya, berpostur tinggi dan kulit putih serta rambut pirangnya yang khas, ternyata bule, namun sangat fasih berbahasa indonesia.
Kami pun beristirahat dan merebahkan badan, suasananya nampak sangat syahdu, dengan suara sungai yang terdengar riuh namun tenang. Aku menyempatkan dulu untuk berdiam di teras kamar, dan melihat langit yang begitu cerah, bulan sangat terang, bagus sekali. Di perjalananku ini, aku bukan sekedar bermain aku rasa, ada hal yang harus aku renungi, khususnya tentang kehidupan yang aku jalani.
Matahari telah naik ke atas, bersiap menemani berbagai aktivitas, begitupun kami, kami bersiap untuk berlari, olahraga, menggerakan kaki-kaki kita yang terlihat kokoh namun begitu rapuh, apalagi bila itu tentang melangkah ke masa depan. Kami berempat berlari, menuju pantai yang begitu mesranya berdialog dengan ombak laut, dan matahari masih terlihat cerah, tak bosannya ia menemani kita. Cukup lelah, kami pun memutuskan untuk meminum kopi di pagi hari. Aku memesan cappucino, enak sekali sumpah, sampai-sampai mataku terbuka lebar, bahkan bisa melihat ketidakadilan di sudut kehidupan manapun. Temanku ia ingin surfing katanya, dan kebetulan disana ada warga lokal yang sudah terlihat dari kulitnya yang begitu coklat serta rambutnya yang panjang, dan tato-tato kecil yang menghiasi tubuhnya, temanku bertanya pada dia, apakah dia bisa mengajarnya untuk berselancar, menaklukkan ombak yang ditiupkan oleh angin dari tuhan. Bisa katanya, temanku harus membayar 450rb rupiah untuk mendapatkan sewa selancara serta instruksi bagaimana berselancara dengan papan yang baik dan benar. Temanku sepakat, dan langsung diajari oleh...dia memperkenalkan dirinya Demnam, namun kami tak tau pasti nama aslinya siapa.
Temanku terlihat memperhatikan ketika Demnam memberikan instruksi, bagaimana agar bisa menjadi peselancar handal. Kami pun ikut memperhatikan. Terlihat mudah namun sebenarnya dibutuhkan ketelitian dan motorik yang fleksibel. Temanku bermain selancar dengan instruktur, aku dan teman-temanku yang lainnya melihat dari kejauhan.
Berselancar sangat seru sekali, walaupun hanya melihat, namun aku sangat menikmatinya dari kejauhan, sambil mendengarkan suara desir ombak.
Batu karas, sungguh tempat yang sangat indah dengan penduduknya yang ramah, aku bisa membayangkan tempat ini 10 tahun ke depan, pasti akan menjadi tempat wisata favorit. Sepertinya kami telah memelihara waras di batu karas. Liburan itu atau traveling sangat penting bagi aku, mengapa? karena kita bisa mengeksplor tempat baru dan menikmati perjalanan yang tidak dekat. Rutinitas yang membuat penat, tentunya harus dilakukan pelepasan stress, agar tetap selalu senantiasa memelihara kesadaran di dunia yang makin tidak waras. Cerita pengalamanku, hanya sebagian kecil cerita indah yang dialami oleh manusia, kita pun pasti mempunyai cerita kita masing-masing. Aku harap aku bisa mempunyai umuryang panjang untuk terus bisa bercerita, mengalami, bercerita, mengalami, begitu seterusnya hingga nafas terakhir telah aku hembuskan. Tetaplah hidup.....