Hari ini aku tutup dengan sebuah tulisan, yang belakangan ini menjadi irisan kecil untuk membuat aku bahagia. Mungkin tulisan kali ini agak personal, dan aku sangat senang sekali apabila ada yang berkenan untuk membacanya. Per hari ini aku baru saja menyelesaikan hari pertamaku magang di Smipa, kebetulan aku ditempatkan kembali di SD 6. Aku pun bertemu calon-calon orang hebat disana, dan mereka menyapaku seperti teman dekat. Wajah mereka nampak tersenyum lebar, sebagian lagi antusias mengobrol dengan temannya dengan volume yang sangat tinggi. Pembelajaran pun dimulai, ice breaking telebih dahulu membicarakan beberapa obrolan-obrolan santai perihal akhir pekan yang telah dijalani oleh para siswa, beberapa siswa menceritakan pengalamannya dengan begitu lugas. Aku mendengarkan.
Hari pertama magang di Smipa menjadi hal yang paling krusial bagiku, sudah lama aku tidak merasakan atmosfer bekerja seperti biasanya, berbeda dengan observasi, aku sekarang sudah resmi "bekerja" sekarang. Berat memang di usia saat ini pengangguran, banyak hal yang dipelajari, namun banyak juga hal yang terbuang. Yah sebelumnya aku juga mencoba untuk memasukan lamaran ke berbagai perusahaan namun seperti biasa hasilnya nihil, susah memang mencari kerja sekarang, kualifikasinya seperti ingin merekrut manusia setengah dewa saja, tak masuk akal.
Rupanya memang benar apa yang dikatakan salah saeorang kakak smipa padaku, beliau berkata "kalau masuk ke smipa pasti mulai dari nol". Dan aku jelas sekali merasakannya tempo hari, semuanya serba baru, dan aku harus pandai beradaptasi, melihat siswa-siswa yang bagiku mereka berbeda dengan siswa di sekolah kebanyakan. Namun kadang renunganku hari ini perihal itu, mungkin siswa itu memang seharusnya seperti ini deh, mengapa aku menilai siswa di smipa lebih "baik" dari siswa di sekolah-sekolah pada umumnya, aneh juga.
Kegiatan pun berjalan dengan lancara dan aku sempat memimpin untuk mengadakan games, iya aku mencoba untuk merancang games sedemikian rupa, walau banyak kecacatan ketika membuat gamesnya tapi para siswa menikmati dan tertawa. Banyak pertanyaan-pertanyaan perihal games yang diadakan dan juga banyak respon tanggap seperti cepat memahami apa yang aku arahkan kepada mereka. Rupanya betul hari ini aku bermain dengan orang-orang hebat. Aku salut pada mereka.
Dan setelah selesai......
Aku buka catatan yang sering aku simpan di saku baju, berniat untuk menuliskan apa yang telah aku jalani hari ini, dan apa yang aku dapatkan, tiba-tiba tidak sengaja halaman akhir dari catatan itu ada tulisan yang bentuknya sudah aku ketahui, tulisan itu adalah tulisan dari ibuku kira-kira bunyinya seperti ini "Tulisan teh meni butut jang izal, didoa"keun cing gede milik, ulah poho solat". Aku kira kalimat tadi lebih indah dari puisi apapun, bentuk do'a ibu adalah kata ilahiah yang menembus ruang dan waktu, menyapa semesta secara pelan dan perlahan dan mungkin secepat kilat tiba kepada Tuhan. Lalu aku berusaha untuk menahan nangis ketika didepan ada kakak sd 6 yang sedang mengobrol perihal kegiatan tadi. Aku semangat dari pagi hari dan masih semangat sampai sore hari dan berusaha ingin terus memahami bagaiaman cara mengajar di smipa, adalah bentuk rasa kasihku kepada orang tua. Dan aku pikir semua orang yang datang ke rumah belajar ini khususnya siswa, pasti terselip doa ibu mereka diantara dua buku pelajaran didalam tasnya, atau bahkan sedekat dagu dengan tenggorokan.
Untuk ibu-ibu diluar sana terima kasih, doa kalian adalah tekad kami untuk melangkah maka akan aku sisipkan lagu dari perunggu yang berjudul tapi.
Tapi
Dunia boleh saja menahanku
Atau perlahan bongkar mimpiku
Dunia boleh saja menahanku
Kupunya doa Ibu
Bandung 10 Maret 2025