AES 052 Last Dance
Rizalk47
Wednesday June 10 2026, 5:38 PM

Judulnya memang terdengar sangat sinematik ya, hahaha. Tapi entah kenapa judul itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Tahu tidak kapan aku memikirkannya? Saat bermain bebentengan bersama Teman Tuma dan orang tua mereka.

Aura perpisahan sebenarnya tidak terlalu terasa. Namun entah kenapa, saat aku melangkahkan kaki di lapang rumput itu, setiap langkah terasa sedikit melankolis. Setiap senyum Teman Tuma tampak begitu indah dan menenangkan hati. Mungkin karena segala kelelahan yang aku alami akhir-akhir ini seolah menguap begitu saja saat melihat mereka bermain.

Yang menginisiasi permainan bebentengan bersama orang tua hari ini justru Teman Tuma, bukan dari kakak-kakaknya. Aduh, campur aduk sekali ya perasaannya, hahaha.

Mungkin nanti aku akan merindukan langkah-langkah lincah mereka. Aku akan merindukan kegigihan mereka menjaga tiang yang mereka anggap sebagai benteng. Entah kenapa, rasanya bebentengan akan menjadi salah satu hal yang paling aku ingat dari mereka. Mereka tidak pernah bosan memainkan permainan itu.

Akhirnya semua bermuara pada pengharapan-pengharapanku untuk mereka di masa depan. Entah kenapa, aku memang sering memikirkan hal-hal yang sangat jauh ke depan. Aku berharap langkah-langkah lincah itu suatu hari akan menjadi langkah-langkah yang kuat. Langkah yang mampu membawa mereka menghadapi kehidupan dengan berani.

Walaupun bebentengan hanyalah sebuah permainan, Teman Tuma tidak pernah menganggapnya sekadar permainan. Mungkin di sanalah kebersamaan mereka hidup. Dalam tawa yang bercampur keringat, dalam kesal karena kalah, dalam bangga karena menang, dan dalam semangat untuk mencoba lagi.

Teman Tuma, barangkali hidup tidak jauh berbeda dari bebentengan. Ada saatnya kalian menang, ada saatnya kalah. Kadang tersungkur, kadang berhasil menyentuh benteng, lalu memulai semuanya lagi dari awal.

Barangkali hidup memang sesederhana itu.

Terima kasih ya, Teman Tuma, karena selalu memperlihatkan begitu banyak ekspresi saat bermain bebentengan di hari main. Maaf langkah Kak Rizal tidak selincah kalian. Entah karena realita yang menghalangi langkahku, entah karena hal lain yang aku sendiri tidak tahu. Namun melihat kalian membuat Kak Rizal ingin memiliki langkah yang lebih lincah. Tidak hanya dalam bebentengan, tetapi juga dalam menghadapi segala hal yang sedang Kak Rizal jalani saat ini.

Terima kasih ya, Teman Tuma. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bermain bebentengan bersama. Namun semoga kalian akan terus memainkannya di mana pun kalian berada. Tidak harus di Pendopo, tidak harus di lapang rumput. Aku hanya berharap bebentengan akan selalu hidup di sudut hati kalian yang paling dalam.

Teman Tuma, Kak Rizal belajar banyak sekali dari kalian selama satu tahun terakhir. Bukan belajar menjadi guru. Bukan belajar menjadi fasilitator di SMIPA. Lebih dari itu, Kak Rizal belajar menjadi manusia yang lebih utuh.

Aku akan merindukan senyuman kalian. Aku juga akan merindukan ekspresi ketus kalian saat harus diingatkan berkali-kali oleh Kak Rizal. Aku akan merindukan semuanya.

Barangkali hidup memang seperti itu ya. Kita menciptakan kenangan baik bersama, lalu belajar melepaskannya.

Walaupun kalian masih tetap berada di SMIPA, entah kenapa hari ini Kak Rizal merasa sangat melankolis.

Hari ini adalah salah satu hari yang paling berkesan bagiku.

Terima kasih sudah mengupayakan drama yang asyik dan lucu. Terima kasih sudah bermain bebentengan bersama.

Untuk orang tua Teman Tuma, terima kasih telah membesarkan anak-anak dengan begitu baik. Saya juga banyak belajar dari obrolan-obrolan bersama orang tua. Bahwa menjadi orang tua ternyata tidak mudah.

Sebenarnya terasa agak aneh ketika saya memberikan saran kepada kalian, sementara posisi saya tidak sama dengan posisi kalian. Saya hanya memiliki teori-teori yang masih sangat terbatas, sementara kalian memiliki pengalaman nyata yang akan terus bertambah setiap harinya sebagai orang tua.

Terima kasih juga untuk seluruh kakak SMIPA yang telah membersamai saya selama satu tahun di TP21. Pengalaman satu tahun ini sungguh menakjubkan. Penuh rasa suka, duka, ragu, semangat, dan berbagai perasaan lainnya yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Khususnya untuk kakak-kakak SD Besar, terima kasih sudah menerima saya sebagai Rizal yang apa adanya. Rizal yang kadang teledor, kadang pelupa, dan masih terus belajar.

Dan kembali lagi kepada Teman Tuma.

Kak Rizal akan selalu sayang kepada kalian.

Terima kasih telah mengajarkan cinta dalam bentuk yang lain. Bahkan dalam bentuk yang berbeda-beda setiap harinya.

Terima kasih, Teman Tuma.

Last dance.

Setidaknya untuk hari ini.

matheusaribowo
@matheusaribowo   3 days ago
The Last Dance!