Saya sudah mengikuti kegiatan di KPB sudah cukup lama, dari pertengahan tahun 2020, ini adalah masa-masa transisi saya ke jenjang SMA di Semipalar, disebut dengan nama lainnya yaitu KPB, (Kelompok Petualang Belajar). Kata Kelompok, kata ini disebutkan sebagai kata paling terdepan dari nama KPB sendiri, berkegiatan berkelompok adalah kegiatan yang biasa dilakukan selama di masa-masa pembelajaran KPB, contohnya dari awal masa pembelajaran di KPB kelas 10, kelas Sage. Semasa pembelajaran saya di kelas 10, saya difokuskan untuk berkegiatan dalam satu kelompok, sekelompok kelas 10, di kelas 10 angkatan ke-5 ini hanya terdapat total 6 orang saja, Bryan, Bintang, Thania, Haegen, Zacky dan saudara kembarnya Zocky. Angkatan ke-5 ini memiliki jumlah anggota yang cukup sedikit, karena hanya berenam, kami harus mencoba membiasakan untuk berkegiatan bersama, membangun koneksi dan keakraban dengan teman-teman saya. Di kelas 10 ini, kami semua masih berkegiatan bersama, melakukan proyek secara bersamaan, ditambah membiasakan prosedur dalam bekerja berkelompok, di awalnya belajar untuk mengenal satu sama lain anggota kelas ini, setelahnya kami berusaha untuk belajar membagi tugas dalam sebuah kelompok, berkoordinasi dan berkomunikasi.
Kegiatan di kelas 10 sepenuhnya masih dalam lingkup kelompok Kelas 10 terlebih dahulu, kadang-kala kami berkolaborasi dengan kelompok lainnya, dari kelas 11 dan kelas 12. Perbedaan senioritas tentunya masih ada, tetapi kami harus membiasakan untuk mau bekerja sama dan menyetarakan tingkat pertemanan kami dengan kelas lainnya, karena nantinya juga akan banyak terjadi kegiatan berkelompok bersama kelas lainnya, meski tidak terlalu banyak kolaborasi, tetapi kadang kala masih ada saja kegiatan yang memerlukan kontribusi kelas lainnya. Kontribusi dengan kelas lain, kontribusi dari kelas lain pada masa-masa di kelas 10 ini biasanya adalah kelas semesta, kelas 11 dan 12 kadang kala mengajarkan kami terkait proses dan kegiatan di KPB, ini adalah salah satu kegiatan orientasi bagi kami, tetapi di luar orientasi ada saja kegiatan kolaborasi seperti kelas 10 dengan kelas 11 yang berhubungan terkait mengurus kebun, proyek berkebun awalnya mau ada kolaborasi dengan kelas 11 yang kebetulan mempunyai proyek untuk mengolah sampah di kebun.
Masuk ke semester kedua di kelas 10 Sage, masa orientasi dan transisi sudah selesai, maka kami mulai fokus untuk membuat sebuah proyek baru, proyek pengolahan sampah kertas daur ulang, proyek ini sangat memerlukan kontribusi dalam kelompok, menjalankannya secara keseluruhan, semua anggota kelas 10 diberikan tugas dalam menjalankan proyek ini. Menjalankan kegiatan dalam model kelompok itu cukup sulit, berhubung juga kali ini panduan dari kakak menjadi lebih minim, sehingga sangat bergantung dengan anggota kelas 10 Sage sendiri, pada awal-awal menjalankan proyek ini, sering kali terjadi masalah, masalah yang seringkali muncul terkait pembagian tugas. Permasalahan ini cukup mempunyai dampak yang besar bagi kami semua, pembagian tugas yang dilakukan sejak awal semester 1 di K10 masih berdasarkan pilihan sendiri, tanpa melihat kapasitas keahlian dan memahami tugasnya masing-masing. Kesahalan ini membuat terjadi banyak perdebatan secara online, kami mencoba mencari permasalahnnya terlebih dahulu, mengecek sumbernya, setelah diketahui, kami menjadi lebih paham dengan permasalahannya, yaitu dari sisi komunikasi dan kapasitas diri, banyak yang memilih tugas dengan sistem paksa atau asal pilih, seringkali ada yang “underqualified” untuk tugasnya.
Masuk ke jenjang kelas 11, pada semester 1 di awal sesi pembelajaran di KPB K11 fokus kami beralih ke proyek individual, proyek yang difokuskan adalah proyek mandiri. Proyek mandiri ini sangat terfokuskan ke topik minat dan keterampilan masing anggota kelas kami, sehingga dalam beberapa bulan, proyeknya tidak ada kaitan dengan kelompok. Tetapi saat mencapai bulan September, kegiatan kami mulai fokus ke lingkup kelompok, dari menjalankan proyek kertas bersamaan di sekolah, memproduksi kertas di sekolah adalah salah satu kegiatan kelompok yang sering kami lakukan, di proyek kertas setengah dari anggota k11 dibagi ke beberapa orang, dari tim produksi, tim desain dan tim marketing, meski sudah dibagi seperti ini, kelompok kami masih mengalami permasalahan pembagian tugas, masalah yang lama kembali muncul, tetapi muncul juga beberapa masalah baru seperti, anggota yang tidak bertanggung jawab saat mengambil tugasnya, demikian banyak tugas dilepaskan saja, tidak dilaksanakan, sehingga banyak proses yang kacau dalam masa-masa ini. Di luar proyek kertas, kami baru saja diberikan tanggung jawab untuk mengurus proyek “Nyenack” yang sebelumnya masih dalam kendali anggota kelas 11 sebelumnya, di proyek ini setengah dari anggota k11 mendapatkan tanggung jawab untuk mengurusnya, proyek “Nyenack” adalah sebuah tugas baru, lingkup kelompoknya menjadi lebih luas, yaitu dengan adanya kolaborasi dengan kelas 12, kelas 12 kadang kala datang untuk membantu dan mengajarkan kami untuk mengurus proyek “nyenack”, topik yang seringkali bahas terkait konteks “marketing”, dari sistem penjualan dan “management-nya”.