"Boleh ga aku pulang aja naik gojek?" keluh seorang peserta saat merasa lelah dan matanya berkunang-kunang. Kusarankan ia untuk duduk dulu, mencari posisi senyaman mungkin, minum air mineral, dan mengatur kembali napasnya.
"Kayanya aku udah ga kuat, deh!" ucapnya lagi sambil menunduk lesu. Kawan jalan lain ada yang menawarkan coklat dan biskuit. Namun ia masih sibuk dengan pikirannya. Tentang merasa dirinya lemah dan gagal, rasa bersalah pada kami kawan jalan lain. Merasa ia menghambat perjalanan.
"Kak, boleh ga aku pulang aja." kalimat terakhir setelah sebelumnya puluhan kali ia mengatakan keinginannya untuk menyerah. Sekali lagi kukatakan, "Tak perlu memikirkan apa-apa dulu. Jangan membuat keputusan apapun sekarang. Fokus aja sama napas kamu. Napas dari hidung keluar hidung perlahan-lahan, ya."
Setelah jeda yang cukup lama, ia kembali berdiri dan merasa lebih siap untuk melanjutkan langkah. Di tengah hutan, di bawah teduhnya pinus-pinus di kawasan Patahan Lembang, kami mengajak para kawan jalan untuk waktu hening bersama. 23 orang sudah siap pada posisi ternyamannya. Ada yang duduk dan beberapa lagi tiduran. Matahari yang mulai merangkak naik seolah menggiring angin untuk bertiup lebih kencang. Jadilah tarian dedaunan yang mencipta senandung alam. Sisa-sisa angin sehabis menggoyangkan daun masih sempat menyapa kulit dan wajah kami yang tengah hening memejamkan mata.
"Entah kapan terakhir kali kita mengapresiasi tubuh kita, diri kita, dan mengajaknya berbincang. Saat ini, mari apresiasi dan ajak tubuh kita berbincang sekali lagi." Kalimat pembuka waktu hening ini semacam sihir yang ditabur oleh bantuan angin dan suara dedaunan. Terlihat beberapa kawan jalan meneteskan air mata dan melakukan gerakan tangan memeluk dirinya sendiri. Setidaknya simpul-simpul senyum tergambar di wajah mereka.
Perjalanan kami kurang lebih sejauh 16 km dalam sekitar 21 ribu langkah. Di titik akhir perjalanan, kami meminta setiap kawan jalan menceritakan kesan dan sejumput ceritanya. Semua bergantian bercerita dan mengapresiasi dirinya. Tak sedikit yang baru pertama kali trekking dengan jarak sejauh ini. Bahkan ada yang baru pertama kali trekking ke hutan. Bersyukur dan bangga pada apa yang dilalui bersama diri mereka masing-masing. "Patut dirayakan" kataku dalam hati. Dengan perayaan syukur yang sederhana dan intim bersama diri.
Tibalah pada seorang kawan yang hampir menyerah di awal perjalanan. "Jadi, berapa kali ingin menyerah tadi?" kutanyakan di sela diamnya setelah beberapa kesan dan ucapan syukurnya atas perjalanan ini. "Puluhan, mungkin ratusan kali kak." jawabnya sembari tersenyum. Kami semua memberinya tepuk tangan tanpa aba-aba. Di akhir ceritanya, ia sampaikan bahwa ia menjadi banyak berbincang dengan diri sendiri di perjalanan. Merasa selama ini tak pernah berbicara pada diri, jadi nggak kenal diri. Jadi nggak tahu kalau ternyata sebenarnya ia mampu. Seperti kebanyakan kawan jalan sebelumnya, ia juga menyampaikan keinginannya untuk ikut di rute-rute berikutnya.
"Ada yang tak pernah pergi namun sering terasa begitu jauh. Itu kah diri sendiri?"