Saat ini saya masuk dalam fase kebingungan, saya sempat mengalami fase “artblock” lagi, sebuah fase yang mengerikan bagi saya sendiri, di kondisi ini saya merasa kehabisan dengan sebuah ide atau inspirasi untuk objek menggambar. Fase ini berjalan cukup lama sekali, dari seminggu yang lalu, tepat setelah saya menuntaskan sebuah karya gambar digital, di saat itu saya mulai merasa jenuh dengan aktivitas menggambar, rasa ini biasanya muncul karena saking banyaknya ide yang mengumpul di pikiran saya, tetapi tidak dikeluarkan dengan secara langsung, ide-ide itu hanya sekedar ditulis di sehelai kertas saja. Menumpuknya ide di pikiran saya membuat saya bingung dengan karya mana dulu yang akan dibuat, semua ide yang dipikirkan sudah saya pikirkan secara realistis, dari cara pembuatan atau referensi gambar apa yang akan digunakan. Karena pengelolaan waktu yang buruk semua ide terhambat dan ditahan untuk sementara, dikerjakan di lain waktu sebagai materi portfolio proyek “Live plan” saja, atau dalam waktu lainnya saja.
Kini Masuk ke masa-masa akhir “artblock” saya berhasil keluar dari fase itu, dimulainya saya mulai melanjutkan karya gambar yang belum tuntas pada 3 hari lalu, memulai dari titik itu saya mencoba mengerjakannya secara perlahan dan maksimal. Prosesnya sendiri hanya memakan waktu sampai 3 jam untuk satu figur. Menuntaskan satu figur gambar itu adalah pertanda dan pembuktian saya untuk tetap melanjutkan proses menggambar saya, tetap memproduksi gambar dalam waktu yang singkat, berhasil maju dari titik hilang, kini bisa kembali membuat karya seperti biasanya tanpa ada kendala sama sekali. Titik mula itu memberikan harapan dan jalan bagi saya keluar dari titik itu, untuk bisa membantu seseorang untuk keluar dari sebuah kondisi yang merusak proses jalannya kerja.
Di luar itu semua, untuk saat ini saya bisa kembali berproses kembali mengerjakan gambar tanpa kendala “artblock”. Momen ini selalu mengingatkan saya untuk mengerjakan gambar dengan pengaturan waktu yang baik, kuncinya adalah untuk bijak dalam mengelola waktu, sayangnya keahlian itu belum bisa saya raih dengan baik, kini menjadi sebuah tantangan terbesar bagi saya.