AES048 Pasangan
Sanya
Tuesday November 26 2024, 11:10 PM
AES048 Pasangan

Katanya pasangan itu seperti cermin, satu sama lain serupa. Plek ketiplek. Siapa yang berdiri di depan cermin itulah yang dilihat, sama. Namun banyak juga orang yang mengeluh pasangannya berbeda jauh setelah bersama setelah kenal lebih jauh, persamaan lambat laun berubah menjadi perbedaan, sifatnya beda, kebalikan dengan kita.

Cermin memang memantulkan refleksi diri kita, tapi kadang orang melupakan satu hal penting tentang cermin yaitu bayangan. Bayangan yang dilihat oleh kita adalah kebalikannya. Kanan jadi kiri, kiri jadi kanan. Mirroring

Aku dan Fajrin sama-sama menyandang status anak kedua, anak tengah dari 3 bersaudara, kami memiliki sifat yang sama, karakter kami mirip. Kata orang, anak tengah adalah invisible child, kalah oleh kakak mengalah pada adik. Menjadikan kami anak yang mandiri namun keras kepala. Lucunya persamaan itu membuat kami bersama. Soal mengalah? Tidak, kami bukan saudara. Mempertahankan argumen sampai titik tengah adalah keseruan tersendiri. Begitulah sesama anak kedua, seperti menunjuk ke cermin. Menunjuk diri sendiri.

Dibalik banyak persamaan kami ada hal menarik yang bertolak belakang,

Aku orang Jawa yang suka pedas dan asin, dia orang Sunda yang suka santan dan manis. Saat kami pulang kampung ke tempatku dia begitu gembira. Menurutnya makanan khas Jawa yang legit dan medok merupakan kenikmatan hakiki, setiap hari dia pasti berkeliling untuk jajan. Sedangkan aku lebih baik masak saja di rumah, aku merindukan masakan khas Sunda pedas dan kulubannya.

Aku orangnya teratur, dia orangnya berantakan. Hasil didikan semi militer di rumah saat kecil membuatku disiplin dan teratur. Maklum ibu anak tentara, nenek di rumah juga hasil didikan ibu yang hidup dijaman kolonial. Mereka disiplin dan tegas. Rumah rapi dan tertata adalah kewajiban. Fajrin yang datang dari latar belakang berbeda tentu punya kebiasaan beda pula. Kehilangan barang sudah hal yang biasa. Sesederhana karena tidak terbiasa meletakkan kembali barang di tempat asalnya. 

Aku temannya itu-itu saja, dia temannya dimana-mana. Aku suka circle kecil, berbincang dengan 1-3 orang sudah cukup bagiku. Bertukar cerita lebih dekat dan lebih personal menyenangkan. Berbeda dengan fajrin yang suka berkumpul dengan teman-temannya. Reuni SD sampai kuliah pun masih sering dilakukan, untukku itu hal yang menakjubkan. Dia, si social butterfly.

Aku suka masakan rumahan, dia suka jajanan di pinggir jalan. Untukku makan ya sesuai dengan jam makan. 3x sehari dimanapun tempat makannya, menunya karbo+protein+sayur apapun jenisnya. Masakan rumahan yang hangat akan jadi pilihanku. Terbiasa mencari makan sendiri sejak sekolah, Fajrin lebih suka jajanan, makan saat perut terasa lapar.

Aku suka pergi terencana, dia suka pergi spontan. Yah karena aku terorganisir memiliki plan a sampai z melihat spontanitas dia yang gemar bertindak impulsif. Tiba-tiba pergi tanpa rencana, tiba-tiba harus packing lalu bertualang. Hahaha sedikit banyak sekarang aku sudah longgar, bisa mengikuti ritme bepergiannya.

Aku suka menghabiskan waktu di rumah, dia suka pergi jalan-jalan. Weekend dengan tenang bersantai di rumah, mengisi energi tanpa aktivitas di rumah itu part favoritku dalam seminggu. Berbeda dengan dia yang suka pergi jalan-jalan, baginya di rumah malas-malasan adalah suatu kerugian. Nah sekarang dia bersekongkol dengan anak-anak merayuku pergi keluar rumah saat weekend. Oh no. Aku harus bergerak.

Ini nih yang sepertinya sangat bertolak belakang. Aku sungkan kalau menawar barang, dia selalu menawar sampai membuatku malu. Kadar keberaniannya benar-benar diluar perkiraan. Menawar dengan harga jauh dibawah normal. Bernegosiasi seperti ibu-ibu penawar ulung. Hebat sekali. Kadang aku pergi agak jauh kalau dia sudah menawar. Pura-pura tidak kenal.

Tapi begitulah, setelah belasan tahun kenal makin mudah berkompromi atas kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namanya juga pasangan. Pas, angan. Pas seperti angan-angan hahaha

Kami bertemu karena persamaan, bersama karena saling melengkapi perbedaan. Daripada cermin, bukankah pasangan lebih cocok diibaratkan seperti seribu kepingan puzzle? Serupa tapi tak sama, seiring berjalannya waktu, perbedaanya melengkapi kepingan puzzle yang semakin berwujud.

 

joefelus
@joefelus   2 years ago
Justru kalo semua sama ga seru lagi..Hehehe