AES006 Yogyakarta ke-2
Tatha Wu
Sunday July 17 2022, 6:15 PM
AES006 Yogyakarta ke-2

Hari ini, tanggal 31 Desember 2021. Kami akan pergi ke Keraton, pastinya kami sarapan dulu. Di AES005 sebelumnya, aku mengatakan bahwa hari ini akan menyenangkan, karena kami akan menjalani petualangan pertama di kota ini! Yogyakarta sangat berbeda dengan provinsi lainnya, karena daerah ini memiliki nama Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Aceh. Kenapa? Karena pada saat belum bergabung dengan NKRI, Yogyakarta masih berupa Kesultanan dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Dan sampai sekarang Kesultanan ini masih diberi hak istimewa oleh pemerintah RI untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri. Sultan akan memiliki jabatan dan wewenang sebagai Gubernur, sementara Paku Alam menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Karena itu, aku sangat ingin mengunjungi kediaman Sultan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Fungsi dari Keraton ini adalah sebagai tempat tinggal dari para Sultan yang pertama sampai saat ini dalam menjalankan tradisi Kesultanan. Menurutku Kraton ini sangatlah besar, indah dan megah. Uniknya lagi, disini bangunan tempat tinggal perempuan dan laki-laki dipisah. Untuk bangunan perempuan bernama Keputren, dan bangunan untuk laki-laki bernama Bangsal Kasatrian. Ada hal yang menarik perhatianku saat baru memasuki bagian depan Kraton, yaitu ada dua buah patung yang sangat besar berwarna silver. Aku dijelaskan oleh local guidenya yang bernama Bu Sri bahwa patung ini bernama Cingkarabala dan Balaupata. Mereka melambangkan kepribadian baik manusia, yang selalu menggunakan suara hatinya agar selalu berbuat baik dan melarang perbuatan yang jahat. Fungsi dari kedua patung ini adalah menolak bala/menghalau bahaya, agar orang-orang tidak mengganggu dan mencelakai penghuni bangunan yang bersangkutan. 

Pada saat kami masuk, kami melihat ada sebuah bangunan yang dibatasi dengan sebuah tali. Ternyata bangunan tersebut adalah tempat tinggal Sultan dan keluarganya saat ini, dan di dekat bangunan tersebut ada sebuah pendopo besar yang dibatasi juga. Menurut Bu Sri, pendopo itu tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang karena tempatnya sakral. Lalu saat kami dijelaskan tentang pendopo tersebut, tiba-tiba ada anak kecil yang berlari ke dalam pendopo tersebut dan beberapa Abdi Dalem langsung menghampiri anak itu. Tapi untungnya ibu dari anak itu langsung menggendongnya. Abdi Dalem adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk bekerja kepada Sultan dengan mengikuti aturan yang ada, dan ternyata mereka mendapatkan gaji sedikit, bagi mereka mengabdi kepada Sultan yang diagungkan merupakan berkah luar biasa. Mereka tersebar di sekitaran Kraton, kebanyakan usianya sudah Lansia dan ada juga yang masih muda. Kalau aku perhatikan, semua Abdi Dalem tidak menggunakan alas kaki alias membumi.

Benda-benda disini sangatlah banyak dan memiliki nilai sejarah, beberapa merupakan hadiah dari negara luar dan ada yang hasil karya seorang seniman. Salah satunya adalah Raden Saleh, yang merupakan pelukis terkenal di Indonesia. Barang yang menarik perhatianku adalah sebuah jam dinding yang bertuliskan angka dalam aksara Jawa. Ternyata jam tersebut adalah peninggalan dari masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Seperti yang tadi kubilang ada barang-barang yang diberikan oleh negara luar, seperti guci yang berbahan keramik berwarna hijau tua dan bergambar wanita dan pria yang menggunakan pakaian tradisional China.

Di beberapa titik juga ada foto-foto Sultan Hamengkubuwono VII dan yang lainnya. Aku juga memfoto salah satunya, tapi aku lupa itu Sultan yang keberapa. Untuk sekedar info, setiap Sultan memiliki simbol yang kelihatan bentuknya sama, yaitu mahkota di bagian atas dan sayap berwarna emas di kanan-kirinya. Namun ternyata kalau diperhatikan lagi, masing-masing simbol tersebut memiliki jumlah bulu sayap yang berbeda. Contohnya, saat Yogya dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono IX, berarti jumlah bulu sayap dari simbol ada 9. Untuk sekedar info, alasan sebagian Kraton dijadikan museum adalah sebagai institusi budaya dan perjuangan bangsa yang berkewajiban untuk mendokumentasikannya kepada masyarakat. Museum Kraton sebenarnya sudah didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono VII dan VIII, dilanjutkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. 

Ada sebuah fakta tentang Sultan Hamengkubuwono IX untukku, karena beliau pernah menjadi wakil presiden ke-2 pada tahun 1973 sampai 1978 dan beliau dikenal sebagai Bapak pramuka Indonesia dan juga pernah menjabat ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Setelah dari Kraton, kami mencari makan dulu ke Bale Raos. Tempat ini tepat berada di belakang Kraton, dan bentuk bangunannya mirip-mirip dengan Kraton. Tempatnya luas dan terbuka, dan pada saat kami datang disana lumayan ramai. Disana ada taman kecil dengan kandang burung yang besar. Makanan yang disediakan disini adalah makanan favorit para Sultan dulu sampai sekarang. Salah satunya kami memesan Manuk Nom, puding rasa pandan bentuknya unik seperti burung dengan emping yang dibentuk seperti sayap, dan ada potongan cherry kecil di bagian tengah seperti paruh burung. 

Jujur aku kurang suka rasa puding pandan, tapi Papa dan Mama menyukai pudingnya. Setelahnya kami keluar ke parkiran untuk jalan ke tempat selanjutnya. Kami menemukan anjing yang bernama Bagas di parkiran, seekor anjing dengan RAS campuran milik ibu tukang parkiran. Tapi dia kurang tau Bagas itu campuran RAS apa. Tapi kalau dilihat-lihat menurutku dia mirip campuran Golden Retriever dan Corgi, karena dari warna bulunya warna emas dan kakinya pendek.

Tempat tujuan selanjutnya adalah Istana Air Taman Sari, kami hanya jalan kaki dari Bale Raos, karena tempatnya juga berdekatan. Kami sampai disana saat waktu sudah hampir jam 15:00 WIB, karena sudah mau tutup. Gerbang masuk Taman Sari berwarna krem, ukurannya sangat besar dan ukirannya bagus. Saat itu banyak orang yang berdatangan dan berfoto-foto. Pada saat kami masuk, aku kaget dengan pemandangan disini, karena di tengah area ada 2 kolam dan ada banyak koin yang di dasarnya. Taman Sari dibangun untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan Kraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan bau wangi dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di sekitarnya. Sesudahnya, kami menelusuri gang untuk menuju ke Sumur Gumuling. Kami melewati beberapa rumah dan toko kecil. Tidak lama kami sampai dan menuruni tangga untuk masuk ke dalamnya. Lorong di dalam sumur ini tinggi dan lumayan luas, suhunya dingin dan lembab. Tapi sayangnya beberapa lorong ada yang dihalangi dengan pagar, mungkin karena sudah mau tutup. Lalu kami keluar dari situ dan kembali ke parkiran, untuk menuju ke tempat selanjutnya. 

Sore hari kami ke Jalan Malioboro, untuk jalan-jalan dan sekalian mencari makan malam. Kukira suasananya akan sepi, ternyata kalau semakin malam semakin ramai orang-orang disini. Disini juga banyak orang yang berdagang, terutama pedagang kaki lima. Setelah jalan-jalan, kami makan malam di  Lesehan “Terang Bulan”. Kenapa namanya seperti itu? Karena disini tidak disediakan kursi hanya ada meja pendek dan karpet untuk duduk, tepat berada di depan toko Batik Terang Bulan. Makanan disini enak semuanya. Karena pada hari itu adalah malam tahun baru, teman Papa aku mengajak kami untuk berkunjung ke rumahnya untuk berkumpul dan bakar-bakaran jagung.

Sebelumnya, kami membeli jagung untuk dibakar nanti. Saat perjalanan kesana kami melewati Candi Prambanan, tadinya aku ingin melihat bentuk bangunannya dari luar tapi sayangnya tertutupi dengan pohon-pohon yang tinggi, walaupun puncaknya masih terlihat. Setelah kami sampai, Papa mengobrol dengan temannya, Mama membantu membakar jagung dengan orang-orang yang ada disana, dan aku memperhatikan bulan dan pohon-pohon. Karena aku suka melihat bulan dan serangga yang berada di pohon-pohon itu. Lalu kami makan, mengobrol dan merayakan pergantian tahun bersama. Sesudahnya, kami kembali ke hotel dan beristirahat untuk melanjutkan kegiatan yang menyenangkan pada esok harinya. 

Untitled design 8.jpg

Untitled design 9.jpg

Untitled design 19.jpg

Untitled design 18.jpg

Untitled design 30.jpg

Untitled design 4.jpg

Untitled design 3.jpg

Untitled design 7.jpg

Untitled design 11.jpg

Untitled design.jpg

Untitled design 2.jpg

Untitled design 1.jpg

Untitled design 1.jpg

Foto ke-1 : Patung Cingkarabala dan Balaupata

Foto ke-2 : Tempat tinggal Sultan dan keluarganya

Foto ke-3 : Jam dinding bertuliskan angka dalam aksara Jawa

Foto ke-4 : Guci yang diberikan oleh negara China

Foto ke-5 : Salah satu foto Sultan Hamengkubuwono

Foto ke-6 : Gerbang Bale raos

Foto ke-7 : Manuk Nom

Foto ke-8 : Bagas

Foto ke-9 : Istana Air Taman Sari

Foto ke-10 : Jalan ke Sumur Gumuling

Foto ke-11 : Sumur Gumuling

Foto ke-12 : Lesehan Terang Bulan

Foto ke-13 : Merayakan tahun baru dengan teman Papa

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Wah keren Tatha. Ceritanya lengkap. Menarik juga penceritaannya. 👍🙂👏🏼
Tatha Wu
@tatha-wu   4 years ago
Makasih Kak, sebenernya banyak revisi pas kerjain😅. Kalau ada masukan, tolong dikasih tau ya Kak 🙏🏻
Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Tatha, tulisan berikutnya coba kamu kerjakan tanpa direvisi. Lalu coba kamu baca ulang dan perbaiki sendiri. Itu masukan ka Andy. Kalau ada yang bisa kamu perbaiki, berarti itu keren. Kamu udah bisa memperbaiki tulisan kamu sendiri. Kalau itu bisa, kuncinya tinggal sering menulis. Kamu akan jadi hebat dalam menulis.