Di essay AES93 tentang penjelajahan aku sempat menyebutkan bahwa, hal paling penting dari penjelajahan adalah menghidupkan jiwa penjelajah pada setiap pribadi yang melakukannya, untuk menghidupkan jiwa penjelajah kami, satu mantra yang selalu kami ulang setiap malam ialah
“Setiap orang yang ditemui adalah narasumber, setiap kata yang mereka ucapkan adalah informasi dan setiap tempat bisa di jelajahi”
Informasi yang tentu saja perlu kita kurasi. Mantra itu membimbing kami menemui banyak hal tidak terduga, seperti perjalanan naik trans metro dewata yang kami lakukan setelah berbincang dengan salah satu pegawai negeri di Gianyar, juga Tenun Togog yang tidak sengaja kami temukan saat berjalan-jalan di sekitar tempat menginap dan 25 tempat lainnya yang kami sambangi dengan membawa mantra ini.
Penggambaran paling praktis dari mantra ini ialah, saat ada orang lain, kita akan fokus ke orang tersebut, tidak sibuk sendiri dengan memainkan telepon genggam misalnya, walaupun kita tidak tertarik dengan topik yang dibicarakan atau justru tidak merasa relate, tak apa dengarkan saja. Supaya orang lain akan merasa disambut, didengarkan dan dihargai, lalu biasanya mereka akan lebih terbuka, dibalik semuanya ceritanya akan selalu ada hal menarik yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran atau referensi.