Hari ini saya mengajak Nina ke luar kota sekalian menikmati mobil hybrid sewaan yang saya mulai jatuh cinta ini. Yang jelas sangat senyap di dalam, suara mesin hampir tidak terdengar dan konsumsi bahan bakar sangat rendah. Kedua, besok Nina akan menjalani operasi dan kemungkinan selama 2 minggu dia tidak akan bisa kemana-mana, jadi saya ajak dia makan Pho di restoran Vietnam kesukaan dia. Di luar kota sekitar 1 jam perjalanan.
Hari ini saya memang tidak berusaha terlalu serius dalam segala hal. Fokus saya ditujukan pada esok hari. Kalau melihat penjelasan dokter bedah beberapa waktu yang lalu, bahkan diperagakan dengan tulang-tulangan dari gelas. Dokter mengatakan bahwa tulang rawan di bagian persendian di lutut akan diganti dengan metal, lalu bantalan sendi akan diganti dengan plastik. Ya begitu prosedurnya. Operasi akan dilakukan pagi hari, kami akan meninggalkan rumah pukul 5 pagi. Semalam sebelumnya Nina harus puasa, dan mandi dengan larutan tertentu yang sudah disiapkan. Saya hanya sebagai penggembira dan bagian yang ketar-ketir nanti di luar. Ninanya sendiri mungkin tertidur sampai semua prosedur selesai. Kata dokter tengah hari besok Nina sudah boleh pulang! Loh? Ya begitulah di sini, rawat inap sangat jarang terjadi. Waktu Nina operasi batu empedu juga begitu. Pagi dioperasi, siang hari sudah harus pulang.
Ok. Itu buat besok. Hari ini tidak mau saya habiskan untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Hari ini saya ingin menikmati hari berasama Nina. Jadi sesudah mengantar Kano ke tempat kerja kami meluncur ke luar kota. Sengaja kami memilih jalan kecil, bukan highway sehingga tidak perlu terlalu ngebut dan juga banyak pemandangan indah. Sambil menikmati perjalanan saya memutar lagu-lagu tahun 80-an. Seru, biar merasa masih muda.
"Nah lagu ini mengingatkan saat ngepel lorong depan kamar di Sultan Agung." Kata saya. "Lagu ini saya rekam dari kaset pinjaman dari Donny. Karena tidak punya tape recorder, dan saya nemu 2 rolls tape recorder, jadi pake itu." Sambung saya ketika lagu Half a Minute serta Don't Blame It On That Girl-nya Matt Bianco berkumandang di dalam kendaraan. Ya waktu itu saya menemukan sebuat tape recorder sangat jadul. 2 roll pita recorder yang telanjang, tidak di dalam kaset yang saya gunakan. Seru sekali bisa menghidupkan kembali teknologi jaman generasi sebelum saya.
Banyak memang lagu-lagu jaman itu yang membangkitkan kembali masa-masa menyenangkan ketika masih duduk di bangku kuliah. Kami berdua ikut bersenandung sambil ngobrol, melihat pemandangan di luar dan mengemudi dengan santai. Jalan-jalan yang melalui pedesaan memang speed limitnya tidak tinggi, paling cepat saya hanya bisa mengemudi sekitar 65 miles/jam, atau setara dengan 104 km/jam. Jika di highway kebanyakan bisa mengemudi sekitar 80-an (128 km/jam) bahkan ada yang mengemudi di atas100 mph (160 km/jam). Mengemudi di highway memang tidak bisa santai. Kadang malah ngeri sebab saya hampir selalu menjumpai berbagai kecelakaan.
Suara Al Jarreau kemudian berkumandang, After All, kemudian diikuti Mornin', saya langsung bernostalgia mengingat tempat kos kecil di jalan-jalan kecil masuk kampung di sekitar Taman sari dekat ITB. Tukang baso pikul langganan yang setiap sore lewat, basonya yang kecil-kecil sebesar kelereng mengisi hari-hari saya menjadi mahasiswa miskin hahaha..
Ini gara-gara kemarin saya bercerita bahwa masa mahasiswa adalah masa yang indah walau setiap harinya penuh dengan keterbatasan. Naik sepeda motor merek Honda yang kemudian dicuri orang. Lalu selama sekian tahun terpaksa tergantung pada Damri dan Angkot hingga akhirnya bisa kredit lagi karena kemudian bisa mempunyai pekerjaan tetap sambil terus berusaha lulus jadi sarjana.
Kami berdua tertawa-tawa mengingat itu semua. Entah berapa kali saya pindah kos. Setidak-tidaknya 5 kali. Bahkan ada tempat kos yang selalu kebanjiran jika musim hujan. Waktu ternyata cepat sekali berlalu. Dan lagu demi lagu kami nikmati sambil melompat ke sana ke mari dari peristiwa suatu waktu tertentu ke peristiwa lainnya. Ini perjalanan siang hari yang sangat menyenangkan. Sesekali juga kami mengingat teman-teman kami di jaman itu. Setiap lagu punya kenangan masing-masing. Lagu demi lagu saling bersambung dan perjalanan 1 jam sama sekali tidak terasa. Hal yang sama kami lakukan dalam perjalanan pulang. Memang menyenangkan mengemudi di jalan yang relatif kosong, tidak ada kendaraan angkutan umum ataupun sepeda motor. Harus hati-hati saja karena kadang ada satwa liar yang melintas. Setidak-tidaknya saya melihat ada beberapa ekor raccoon yang terbaring mati dipinggir jalan karena tergilas kendaraan. Ini pemandangan umum. Jika di dalam kota malah setiap hari selalu ada squirell (tupai) mati. Ya begitulah tinggal di kota kecil yang banyak dikelilingi padang dan hutan.