Akhirnya aku menulis AES lagi setelah sekian lama, terakhir bulan Februari. Wow aku ga nyadar selama itu ga nulis AES. Dan kali ini aku akan menceritakan berbagai hal yang aku rasa, dapat, amati, dll selama dari awal proses sampai akhir proyek kelompok kami kelas Giri Gora Dahuru Daha, yang berupa Drama Musikal berjudul “Jas Merah: Misi ke Mandala”. Proses pengerjaan Drama ini sudah dimulai dari tahun lalu 2024, lupa tepatnya kapan tapi pada saat awal-awal KPB K10 semester 1. Sempat kami tampilkan drama ini di Pendopo tahun lalu juga pada akhir-akhir semester 1, namun baru ditampilkan setengah cerita. Dan akhirnya kami tampilkan cerita finalnya pada 11 Maret 2025 lalu hari Jumat, pukul 15:30 WIB start, lokasi di Padepokan Seni Mayang Sunda, jln. Peta No. 209.
Semua proses ini sangat berarti bagi kami ber 8, dan tentunya untuk masing-masing pribadi juga. Aku sendiri tidak menyangka drama musikal ini dari yang awalnya hanya hal biasa saja, menjadi hal yang luar biasa. Sampai sekarang aku masih tidak percaya semua hal ini terjadi dan mampu kita lakukan, dari yang awalnya tidak mengerti gimana-gimana tentang drama musikal, sehingga kami mempelajari ini itu bersama-sama. Bagaimana bisa muncul ide drama musikal untuk proyek kelompok kami? Waktu itu seingatku kami membuat Ikigai, diberi panduan oleh kak Leo untuk membuat itu. Dan kami semua menuliskan minat kita sesuai masing-masing kolom Ikigai, lalu kami kerucutkan ke “Seni”. Setelah mendapatkan kata Seni, kita diskusikan mau membuat apa yang berbau seni. Singkat cerita setelah melontarkan berbagai ide, kami menentukan untuk membuat drama musikal. Dalam rangka….. Eeeeeee waktu itu sih sepertinya karena mau mencoba dan belajar hal baru saja tentang drama.
Lalu, aku lupa tepatnya seperti apa tetapi kami memulai riset dengan menonton satu drama musikal yang diadakan di Rumentang Siang, jln. Baranang Siang. Drama yang kita tonton bertema komedi dan romansa (Mungkin hanya itu :-:). Walaupun tidak terlalu terdengar dialog yang diucapkan para pemain, tapi ekspresi, kejadian, gambaran lingkungan, dan gestur mereka bisa menceritakannya dengan jelas. Singkat cerita lagi, dari drama itu kami mendapatkan seorang mentor, yang kita panggil Bu Renny. Kalau dari yang kutangkap dan perhatiin, bu Renny adalah seorang seniman drama yang sering mengajar berbagai orang/kelompok cara bermain drama (Ah sudahlah bingung jelasinnya). Mungkin saja dia terkenal dalam bidang seni drama, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tapi aku ikuti saja arahannya karena aku percaya dia adalah orang yang profesional, dan bisa mengajarkan kami tentunya sesuai kemampuan kami juga.
Dari bu Renny kita banyak belajar hal, maupun itu baru atau tidak atau memang hal umum. Pertama kita belajar akting/mendalami peran. Oh iya aku lupa cerita, drama ini menceritakan seorang anak bupati bernama Bromo yang tidak mau meneruskan posisi ayahnya, Romo (yaitu menjadi bupati). Dan memilih untuk mencuri barang-barang antik yang akan diberikan oleh seorang kolektor barang tersebut, Nona Fei Li. Dan ia mendapatkan misi mencuri ke tempat yang jauh dari Solo (dia asal Solo), yaitu ke Mandala (kalau di kehidupan asli, di Banten). Namun setelah ia mendapatkan barangnya, ia terjebak tidak bisa kembali karena ada bencana alam ledakan gunung Krakatau (inspirasi: 1883). Dan disana dia diselamatkan dan bertemu dengan anak kembar rakyat Mandala asli, Karta & Karti. Singkat cerita Mandala adalah kota yang masih dipimpin oleh kesultanan, setiap keturunannya selalu bernama Jayakusuma, di saat itu yang memimpin adalah Jayakusuma II. Singkat cerita lagi lagi, Jayakusuma II tidak memperlakukan rakyatnya dengan baik dan adil, Bromo mau mengubah semua ini dengan mengajak Karta Karti. Singkat cerita lagi lagi lagi, Bromo, Karta Karti berhasil mengubah segala ketidak adilan dari sang Sultan ini, dan Bromo akhirnya bisa kembali ke Solo mau menjadi seorang Bupati.
Aku sendiri memerankan Karti. Lanjut lagi dengan pelajaran kita dalam drama, setelah belajar akting, kami belajar vocal/suara. Karena drama ini musikal, tentunya ada bernyanyi, dan sangat perlu berlatih vocal. Kami selalu berlatih drama di SMIPA, dan lumayan sering. Bahkan sempat hampir 1 minggu, setiap hari kami berlatih terus. Bisa dibilang latihan terus sampe muak wkwkwkwk. Dan iya kami pertama kali tampilkan drama ini di pendopo tahun lalu, dan baru setengah cerita yang kami tampilkan. Karena ceritanya belum tuntas, mepet juga untuk dilatih, jadi kami memilih untuk setengah dulu dan lanjutannya kapan kapan (Kapan? Kapan kapan). Lalu jeda libur semester. Dan akhirnya saat masuk semester 2, kami awalnya sempat berpikir-pikir dan mempertimbangkan apakah drama ini akan dilanjut atau tidak. Kalau dilanjut, ya pastinya bakal cape karena akan ada proyek masing-masing juga atau kesibukan lain. Kalau tidak dilanjut, penonton yang sebelumnya sedih karena tidak tuntas ceritanya (definisi penonton kecewa). Tapi karena kita masih ada semangat, kita tetap lanjut (yey).
Kali ini kami tidak sering-sering amat latihannya, 2 kali seminggu palingan. Beberapa kendala kami alami, salah satunya kita merasa sangat bosan dan jenuh. Jadinya proses drama tetap berjalan, tapi kita ga niat-niat amat. Rasa jenuh dan bosan itu muncul beberapa hari setelah kita menentukan mau melanjutkan drama ini. Dan kami tetap jalani ini dengan rasa terpaksa, kita yang memilih mau lanjut dan sudah telat untuk kembali lagi (sebenarnya bisa aja, tapi kalau harus ada kesepakatan kelompok beda cerita). Dan kagok juga gitu, kalau kata orang mah “Udah basah eh, kagok sekalian nyebur aja”, atau bahkan berenang aja ke dasar sekalian. Singkat cerita lagi karena kepanjangan ini, kita tetap lanjutin dan mencoba untuk enjoy aja dulu, lalu menentukan tempat tampil yaitu di Mayang Sunda, tanggal 11 Maret 2025, dll. Tentunya semakin berjalannya proses ini, ada ae kendala baru. Ternyata harus ada surat dari sekolah lah, surat keramaian, ke polsek, surat ini surat itu abdasdasdladasnkakdjasndkajsd banyak lah. Walaupun bukan bagian aku yang kerjain, dengernya aja pusing rasanya pengen nge-delete hal-hal itu dari dunia. Untungnya selesai kok, lancar (ga). Tapi kita jadi belajar lagi, kalau mau pentas di teater emang ribet ijinnya.
Kita sempat juga gladi kotor di Mayang Sunda H-1. Panggungnya luas, cahayanya terang sekali (Mata + kepala saya sakit). Untungnya kami bisa beradaptasi dengan baik. Hari H, kita sudah berkumpul di Mayang Sunda dari pagi, dan gladi bersih dan juga makeup. Makeup? Buat apa? Supaya muka kita ga pucet kalau kena cahaya lighting (karena terang banget juga). Tegang? Aku ga merasa tegang, lebih tegang kalau konser atau kompetisi piano malahan. Justru aku malah excited, aneh, tapi yaudahlah bagus. Atau karena sudah terbiasa. Dan ya, menjelang pentas dimulai, para penonton mulai bertambah yang duduk sambil ditemani MC yang sedang menjelaskan drama ini. Untuk MC kami meminta bantuan dari teman adik kelas kami (K9 dan K7), ga mungkin kita terus yang memegang semua peran. Dan pentas berjalan dengan lancar, tapi ada beberapa hal yang kami lupakan atau lalai. Beberapa kali ada prop yang belum sempat dikeluarkan dari panggung, padahal sudah ganti scene. Dan juga ada suara piring pecah di tengah-tengah pentas. Iya benar ada piring pecah betulan, bukan bagian dari pentas. Kalau kalian ingat, ada scene dimana Jayakusuma dan Romo ngobrol dalam rangka merayakan bahwa Jas Merah/Bromo sudah ditangkap, harusnya Romo dan Jayakusuma mengobrol sambil makan, namun tidak jadi karena piringnya pecah terkena tombak yang jatuh. Maklum sih banyak barang yang ketendang atau ada yang kesandung, karena di balik tirai sangatlah gelap, tidak ada lampu. Di backstage pun juga sama, palingan hanya di ruang ganti baju & makeup, dan toilet.
Tapi aku mau singkirkan berbagai macam kendala itu dulu, dan lebih fokus ke pelajaran-pelajaran dan hal-hal baik/positif bagi aku dan teman-teman. Aku sangat bangga setelah pentas selesai, bahkan hampir menangis saat lampu dinyalakan dan terlihat banyaknya jumlah penonton, dan juga ada yang standing applause (Terima kasih banyak). Aku juga bangga kepada diriku sendiri, bisa menerobos kebiasaan diriku yaitu bernyanyi, akting, didepan banyak orang (pede). Dan sangat sangat kaget ketika mendapatkan banyak apresiasi dari ortu, teman alumni SMIPA, kakak-kakak yang dekat/kenal, dan bahkan kakak-kakak yang tidak kukenal dan tidak pernah ketemu. Sambil bersalaman dengan mereka, aku bingung bertanya-tanya “Kakak siapa ya?”. Wkwkwk, kocak. Intinya, aku sangat sangat bangga dan berterima kasih kepada semuanya. Dan satu hal yang kudapat dan ingat sampai sekarang adalah,
~ Kalau ada konflik/kendala/masalah di suatu proses, seberat atau seringan apapun itu. Sangat tidak apa apa dan bagus. Karena disitulah kita jadi belajar hal baru dan bisa memperbaiki yang kurang, dan pada akhirnya hasilnya akan memuaskan ~
Terima kasih, Jas Merah dan semuanya siapapun itu