Karya kerap disebut sebagai hasil buah tangan seseorang. Ia merujuk kepada sebuah objek, seperti karya tulis (skripsi, jurnal), karya sastra (puisi, lagu), karya lukisan, patung, dll. Kini, esensi karya perlahan mulai berubah; ia menjadi lebih bermakna bila memiliki nilai fungsional atau dengan tujuan yang jelas. Terlebih, dewasa ini banyak slogan komersil yang mengusung kreativitas menjadi karya yang dilombakan. Dari situ kita bisa melihat jika karya yang dibuat pastinya harus direncanakan dan diolah sedemikian rupa hingga tujuannya tercapai. Akibatnya, esensi karya menjadi lebih sempit sebab ia harus terpapar langsung oleh nalar.
Bagi saya, karya adalah semua hal yang dibuat oleh seseorang. Entah itu berupa objek (benda) maupun keputusan yang dipilih dalam kehidupan. Saya orang yang menyukai kegiatan berkarya. Sebut saja membuat sketsa, melukis, membuat lagu, bernyanyi dan lainnya. Namun, tidak semua yang saya lakukan itu terencana. Tidak jarang karya yang dibuat itu mengalir begitu saja, tanpa memikirkan dengan pasti hasilnya akan seperti apa atau apakah ia fungsional. Namun, satu perasaan yang selalu saya rasakan saat membuat karya: melegakan hati karena mampu menyalurkan perasaan kita.
Bagi saya, perasaan menjadi hal yang sangat penting dalam membuat karya. Saat kita terbawa oleh perasaan, logika dan nalar seolah tersamarkan. Mungkin kita bisa melihat makna atau fungsi sebuah karya justru setelah ia berwujud. Dan mungkin pula bukan kita yang menemukannya, melainkan orang lain yang memiliki pemikiran berbeda dengan kita.
Jadi, segala sesuatu yang dihasilkan seseorang, itulah karya. Tidak peduli hal apa yang dirasakan ketika membuatnya. Entah itu senang atau sedih, indah atau buruk, benar atau salah. Panggilan untuk berkarya tidak selalu terencana dan tidak selalu harus dipikirkan.
Berkaryalah kapanpun, dimanapun, bagaimanapun caranya; sesuai dengan hati dan nurani kita.