Drama sudah selesai? Tak terasa tepat hari ini 2 minggu lalu kami ke Mayang Sunda untuk melakukan observasi pada pertama kalinya.
Dalam proses drama yang cukup lama, akhirnya pada tanggal 10 April lalu kami telah berhasil menampilkan pementasan Jas Merah: Misi ke Mandala. Tepuk tangan yang meriah dan apresiasi dari penonton itu seperti mendapat durian runtuh.
Tak kusangka ada banyak sekali kakak-kakak dan teman-teman yang hadir dan menonton pertunjukan kami. Ternyata, apa yang kami tunjukkan ini sangatlah keren dan dianggap oleh orang banyak.
Pada diriku sendiri, dengan proses dan semua hal yang harus diurus - penonton bukanlah sesuatu yang aku harapkan. Kami memulai proses ini sejak semester lalu, dengan hasil penampilan di bulan Desember di Pendopo.
Setelah itu kami melanjutkan prosesnya di semester ke 2.
‘Keren banget kalian! Bisa jadi panitia teknis, jualan merch, dan sekaligus pemain!’
Mungkin memang benar adanya, karena aku sendiri terlarut di dalam proses aku tak menyadari bahwa kami ber 8 ini telah melakukan sebuah perjalanan panjang dengan proses yang tak mudah. Kami pergi untuk cek kesediaan tempat di Mayang Sunda, membuat poster, pesan merch, latihan, gladi resik, membagi job desk panitia lain pada saat yang bersamaan.
Semakin lama aku menyadarinya, semakin aku sadar bahwa apa yang telah kita lalui bukanlah hal yang mudah. Dengan segala kendala dan dinamika kelompok pada akhirnya kami bisa melakukannya bersama-sama.
Aku belajar banyak di dalam proses ini. Aku belajar untuk menempatkan diriku di posisi orang lain yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Belajar untuk beradaptasi dan langsung sigap untuk menerjang apapun yang ada di depanku. Apapun itu, kita harus tetap lakukan. Tak ada yang bisa berubah jika kita tidak bergerak bersama.
Ternyata juga, membuat drama ‘sederhana’ seperti ini bukanlah hal yang mudah. Banyak proses yang tak pernah ku antisipasi di awal muncul di dalam prosesnya.
Ketika ditanya apakah proses yang dilalui dan hasil akhir di Mayang Sunda itu worth it?
Aku akan menjawab Ya. Begitu banyak yang kita lalui begitu banyak kata ternyata yang membuatku tersadar bahwa memang betul proses merupakan tempat pembelajaran yang tak bisa dilewatkan.
Aku belajar mengenal diriku sendiri, dan belajar untuk melihat segala opsi yang tersedia di depan mata. Ada kendala? Itu adalah hal yang normal dan ya mau tidak mau harus kita lakukan dan cari solusinya bersama.
Aku juga jadi tahu ternyata teman-teman bisa berubah dalam situasi tertentu, sama seperti diriku. Di mana kita tertekan kita akan ingin semuanya cepat selesai.
Memang jika kalau dilihat apa yang diperbaiki? Pasti banyak. Tapi aku rasa bahwa perbaikan pasti akan ada apapun yang kita lakukan. Tapi lihat? Apa yang kita bisa lihat lebih dalam dari proses drama itu sendiri.
Dari sebuah celutukan asal di belakang Bengkel hingga tampil di Mayang Sunda dengan 120an penonton. Ini adalah sebuah proses yang menakjubkan dan sungguh luar biasa. Skrip yang ditulis olehku dan Farzan dan akhirnya bisa ditampilkan bersama di depan panggung.
Bagiku, drama ini adalah sebuah cerita di mana kita bisa memilih sendiri jalan ceritanya. Dan jalan cerita yang aku pilih kali ini adalah……..jalani.
The show must go on…
Detik-detik awal sebelum aku masuk ke panggung, mendengar kata sambutan dari Bu Renny, keringat dingin membasahi pelipisku.
‘ADUH GIMANA INI KALAU JELEK ADUH, dig dag dig dug dig dag dig dug’
Aku tahu bahwa ini adalah ujung dari proses kami bersama selama 8 bulanan, pada saat itu aku tahu apa yang akan aku lakukan di panggung.
Entah apa nanti kata penonton, entah apa yang akan terjadi, nobody knows, nobody could predict the future…no one
Tapi aku tahu, aku bisa. Aku melangkah masuk dan di sanalah aku bertekad untuk menjalani drama ini dengan sepenuh hati. Tak lagi menyimpan rasa kekhawatiran dengan pertanyaan-pertanyaan.
That night, we as a team have prove ourself that we could do anything….
Thank you everyone!