AES015 Anchor
yulitjahyadi
Wednesday September 8 2021, 10:18 PM
AES015 Anchor

Hari ini, setiap kali tersadar akan napas, pasti sedang dalam embusan panjang. Entah kesadarannya yang membuat embusannya memanjang atau kebutuhan tubuh yang menyolek kesadarannyaa untuk mengembus panjang.

Tubuh seolah ingin jadi kosong. Seperti berusaha untuk selalu grounding. Perasaan ini sejak kemarin seperti sedang diburu sesuatu, ada yang seolah mengejar untuk dituntaskan tapi belum tau apa, sehingga rasanya seperti sedang ancang-ancang mau lari sprint. 

Lalu beberapa kali kulakukan embusan panjang itu sembari mengarahkan napas itu ke bawah, dengan mengempiskan perut, sehingga paru-paru terdorong untuk  mengeluarkan udara di dalamnya. Mengempisnya perut disertai dengan tergulungnya tulang ekor sedikit masuk sehingga tubuh bagian atas dari pundak ke bawah rasanya seperti ditarik ke arah tulang ekor. Usaha itu selain menjauhkan jarak antara bahu dan telinga sehingga leher terasa memanjang, juga mengokohkan kedua kaki yang jadi pondasi karena ruang di sendi pangkal paha jadi melebar.

Seluruh deskripsi di atas memang hanya bisa dirasakan saat melakukannya saja. Bila kita mulai sering menyadari napas, kita bisa sedikit demi sedikit mengintervensinya dengan usaha-usaha tertentu. Misalnya memanjangkan napas dengan cara menghitung napasnya. Jika ingin menyeimbangkan, samakan hitungan tarikan dan embusannya. Jika ingin merilekskan, gandakan hitungan embusannya jadi 2 kali lebih banyak daripada hitungan tarikannya. 

Saat ada usaha untuk mengintervensi, kita sekaligus mengaktifkan otot, sehingga selain pernapasan jadi lebih optimal dibanding sebelumnya, koneksi dengan tubuh akan lebih kuat. Kita jadi lebih grounding, napas akan jadi anchor, jangkar yang membuat kita lebih bisa mengakar ke tanah. Mengokohkan pondasi kita.

You May Also Like