Masih seputaran Feslit dan buku walau saya sebetulnya tidak pernah tahu apa yang terjadi di festival Literasi Smipa. Saya hanya bisa membayangkan dari cerita-cerita, blogs dan juga foto-foto dari teman-teman dan membayangkan seandainya saya bisa secara fisik ikut serta. Maklum saya pencinta buku dan doyan membaca sejak masih kecil. Kenapa saya senang membaca buku? Karena buku membuat saya dapat berimajinasi tanpa batas. Tidak seperti film yang terbatas secara visual, dengan membaca saya bisa berada dimanapun, bisa berpetualang bahkan dijaman purba. Saya bisa menjadi super hero, menjadi penyihir bahkan menjadi penjahat. Yang membatasi hanya imajinasi, selebihnya saya bisa bebas merdeka mau melakukan apapun dan menjadi siapapun.
Toko buku selalu menjadi salah satu tujuan saya bila berada di tempat baru. Semakin tua dan semakin unik toko buku itu, semakin menarik perhatian saya. Paling bahagia jika dapat memilih satu atau dua buku, lalu oleh penjaga kasir saya diberi pembatas buku yang khas toko itu! Itu seperti mendapat hadiah ekstra. Oh saya juga biasanya menyimpan struk pembayarannya dan disimpan di dalam buku itu hingga kadang tulisannya menghilang karena jaman sekarang struk pembayaran menggunakan kertas thermal yang tidak bisa bertahan lama. Semakin pudar tulisannya semakin berharga di mata saya. Sengaja kadang-kadang saya tambahi tulisan tangan biar jadi kekal hahaha.
Saya pernah cerita dulu di AES, lupa judulnya apa, tapi di awal-awal AES mulai bergulir, saya jaman kecil senang baca Enid Blyton lalu kisah 5 benua dan sebagainya. Jaman SD saya sudah tamat membaca buku berbahasa Inggris The Adventure Of Tom Sawyer karangan Mark Twain, lalu membayangkan bagaimana rasanya berpetualangan memasuki gua bertemu penjahat dan menemukan harta karun, malah pernah sengaja malam-malam ke kuburan seperti Tom sawyer dan Huckleberry Finn, tapi tidak membawa kucing mati hahahaha.. Begitu hidupnya imajinasi sehingga membuat kehidupan yang sangat sederhana menjadi begitu sangat menarik. Imajinasi memberikan warna dalam kehidupan. Bukan begitu?
Buku pertama yang sangat paling berkesan bagi saya adalah buku Bumi Manusia karangan Pramoedya. Sebetulnya saya mulai membaca itu di jaman masih di Biara tapi tidak selesai karena saya bersin-bersin sebab buku itu sangat tua. Nah saya akhirnya menyelesaikan buku itu bertahun-tahun kemudian dan saya pinjam dari perpustakaan University of Hawaii. Ya percaya atau tidak, universitas itu memiliki koleksi buku-buku sastra Indonesia yang lumayan lengkap. Kalau tidak percaya, nanti suatu waktu saya bisa menunjukkan video yang pernah saya ambil ketika saya masih tinggal di sana, di video itu saya sengaja close up buku-buku cerita silat Kho Ping Hoo!! Yaaaa.. di perpustakaan itu ada lengkap koleksi Kho Ping Hoo, yang jelas saya lalap habis semuanya, buku-buku Senopati Pamungkas, NH Dini, Hamka, Sanusi Pane, buku-buku karangan WS Rendra hingga majalah gadis dan Femina Hahahaha..
Oke, kembali ke Bumi Manusia, ini buku luar biasa! Saya menyelesaikan semua buku-buku nya termasuk Anak Semua Bangsa, Jejak langkah dan Rumah kaca. Tapi dari keempat buku itu Bumi manusia yang paling luar biasa hingga ketika saya menyelesaikan lembar terakhir saya harus ke luar rumah dan mengambil napas dalam-dalam karena dada saya hampir meledak. Saya bahkan membaca versi bahasa Inggrisnya. Yang saya suka juga karya Pramoedya adalah Arok Dedes. Ini buku menurut saya menyindir pemerintah Orba hahaha.. Ya walaupun diceritakan di jaman Ken Arok dan Ken Dedes, kita bisa melihat kesamaan dengan pergantian kekuasaan di jaman Soekarno ke Soeharto. Yah berbau parodi begitu. Buku memang luar biasa ya.. kalau saja saya jago nulis, saya punya keinginan untuk bisa bercerita hahaha.. sayang itu cuma angan-angan.
Nah buku apa yang membuat saya menangis? Tuesdays With Morrie, karangan Mitch Albom. Mungkin saya pernah cerita tentang ini, saya tidak ingat. Buku itu saya peroleh di salah satu toko buku ketika malam-malam di musim dingin saya berjalan kaki di dekat Central Park, New York. Duluuu sekali, ketika buku itu baru terbit hahaha. Karena kedinginan, saya mampir ke toko buku untuk menghangatkan diri, lalu iseng-iseng saya membuka buku itu, beberapa halaman pertama membuat saya berlinang air mata. Saat itu saya masih menganggap diri sebagai seorang guru, baru berhenti sekitar 2 tahun karena harus pindah ke rantau. Nah begitu menyentuhnya tulisan di buku itu di halaman-halaman awal, hingga buku itu tidak pernah saya kembalikan ke rak. Bahkan saya membeli beberapa buah lagi dan saya bagikan ke teman-teman dekat pada saat itu. Sekali lagi buku memang luar biasa.
Mengingat buku-buku saya berpikir sangat beruntung sekali warga Smipa yang bisa menyelenggarakan kegiatan yang luar biasa ini setiap tahun. Jarang ada sekolah, bahkan seingat saya selama saya menikmati bangku sekolah, belum pernah mengalami ini. Kalaupun ada biasanya hanya bursa buku-buku pelajaran yang biasanya minim peminat sebab buku pelajaran biasanya adalah buku yang justru paling terakhir dilirik hahaha.. Mudah-mudahan suatu waktu nanti walau saya hanya orang tua alumni, saya bisa ikut terlibat hanya sekedar mau menyaksikan bagaimana antusias anak-anak melihat dan memilih buku yang mereka inginkan, bukan apa-apa, dulu saya pernah bigitu bahkan rela tidak jajan selama berminggu-minggu supaya bisa menabung dan membeli buku Mahabarata hahaha...
Foto credit: timesofindia.indiatimes.com