[repost dari Ning]
Lima belas bulan sudah kita berada dalam situasi pandemi. Sementara kita berharap pandemi bakal berakhir, situasi tampaknya selalu memburuk... Hari-hari ini juga begitu, kasus COVID meledak di mana-mana, rumah sakit penuh, kematian semakin banyak belum lagi kabarnya ada varian baru virus yang ditemukan.
OK... lalu apa, lalu bagaimana? Sebetulnya kita selalu punya pilihan. Manusia selalu punya pilihan. Ini adalah keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Keistimewaan inilah yang menjadikan manusia bisa menjadi spesies yang paling dominan di planet ini. Masalahnya adalah seberapa jauh kita mau menelaah pilihan-pilihan apa yang kita punya, lalu apakah kita berani menentukan pilihan dan selanjutnya merealisasikan pilihan itu. Saya pribadi percaya tidak ada peristiwa kebetulan. Everything Happens for a Reason. Pandemi ini? Sami mawon. Ada pesan yang diberikan kepada kita. Kalau jalan kita mentok, ketemu penghalang yang ga bisa kita tembus atau lewati, berarti itu saatnya kita belok dan mencari jalan lain.
Tahun 2017 di Semi Palar kita punya kegiatan Smipa Solar Project - belajar dan berkenalan dengan enerji terbarukan. Selepas proyek itu, gagasan-gagasan bermunculan tentang PhD. PhD singkatan Pengen Hidup di Desa. Kita punya grup WA, dan ruang minatnya di sini di Ririungan Semi Palar. Untuk melihat apa isinya, silakan klik di sini.
Banyak inspirasi yang mendorong angan-angan ini muncul. Awalnya adalah sejak perjumpaan saya dengan Bumi Langit Institute di Imogiri Jogjakarta. Kisahnya ada di sini, di website Semi Palar : Berkenalan dengan Bumi Langit Institute. Tahun 2017 saya juga pergi ke Desa Kandangan di Temanggung, mengantar Rico untuk proyek mandirinya, magang di Spedagi - di bawah bimbingan mas Singgih Susilo Kartono, perancang radio kayu Magno dan Sepeda Bambu. Kisahnya ada di sini. Sepulang dari sana saya menulis blogpost saya yang berjudul (Ingin) Pindah ke Desa. Kenapa begitu? Karena saya melihat dan merasakan, bahwa kehidupan yang holistik memang bisa ada di sana, di desa. Di tempat yang sederhana, di mana kita masih bisa punya koneksi kuat dengan alam dan masyarakat yang hidup di sana. Saat ini di Semi Palar, kita terus berusaha Menggulirkan Pendidikan Holistik. Tapi di desa, kita bisa merasakan, mengalami Kehidupan yang Holistik.
Kalau saya ditanya, apakah ingin terus seperti sekarang ini seandainya pandemi berjalan dalam waktu yang panjang? Jawaban saya jelas. Tidak. Saya pribadi merasa kita punya pilihan. Daripada terus terkurung terus di rumah untuk mengindar dari pandemi, saya lebih memilih hidup di tempat sederhana yang jauh dari keriuhan - kerumunan orang, di tempat yang lebih luas dan terbuka, di tengah alam dan udara bebas, agar lebih sehat jiwa dan raga kita... Kita punya pilihan itu kok. Lagian di Semi Palar kita ga sendirian. Banyak yang berpikiran sama, punya angan-angan serupa. Kalau kita mau, saya yakin kita bisa mewujudkannya. Dari sini, kita bisa beralih dari Pendidikan Holistik ke Kehidupan Holistik, kehidupan yang lebih utuh dan lebih terkoneksi.
Melihat segala situasi yang ada, pandemi yang sudah sekian lama mengurung kita, saatnya kita bertanya, "Apakah ini Waktunya untuk Perubahan?"