AES 38 dinosaurus
vania
Tuesday May 26 2026, 4:36 PM
AES 38 dinosaurus

Hari Sabtu, aku mencoba suatu hal yang baru.

Aku mencoba menganyam keranjang, sendiri! Sebenarnya di minggu-minggu awal, aku sudah tertarik untuk membuatnya, tapi kelihatannya susah dan aku ragu aku akan bisa menyelesaikannya. 

Aku mencoba untuk membuat keranjang itu, awalnya memang sangat pusing. Ada bambu yang harus ke kiri, ke kanan, terus lanjut baris ke 2, gunting, banyak sekali yang harus diingat.

Tapi ternyata setelah mencoba beberapa baris, tidak sesusah itu. Aku pun menyelesaikan tas itu selama kurang lebih 1 jam. Kemudian karena masih ada waktu luang, aku lanjut membuat keranjang yang kedua.

Aku rasa pagi itu sangat prouduktif karena aku bisa membuat 2 keranjang anyam.

Karena mati listrik, sorenya kami main kartu lalu berjalan ke desa sebelah. Di sana kami mencari rumah Mbah Dio - beliau adalah salah satu pemain gamelan di pasar kemarin.

Setelah sampai di rumahnya, kata anaknya Mbah Dio masih di sawah. Jadi kami balik dan berjanji akan datang setelah maghrib.

Di tengah perjalanan kami mencium bau yang sedap. Ternyata di sana, ada sepasang suami istri yang sedang menggoreng keripik singkong.

Namanya Pak Soleh, dan istrinya (aku lupa namanya). Mereka sudah sangat lama membuat keripik singkong, karena bahan baku yang murah serta harga jual yang masuk ke pasar.

Dalam sehari mereka biasanya menggoreng 1 kintal singkong. Mereka menjual kemasan kecil dan besar. Kemasan kecilnya 6.000 harganya. Kami membeli 2 bungkus.

Ternyata, di belakang rumah mereka ada 19 ekor kambing, ayam, dan marmut. Di samping rumah juga ada kolam lele. Katanya beberapa hewan ini gunanya untuk memakan sisa produksi.

Malam hari setelah makan terong goreng, kami pergi ke rumah Mbah Dio. Ternyata di sana ada semacam arisan yang sedang berlangsung.

Tapi, ibu-ibu di sana tetap mengajak kami masuk. Kamu mengobrol dengan Mbah Rio mengenai asal usul gamelannya, peran yang dia miliki, dan pelestarian gamelan.

Bahan gamelab ada yang dari besi, kuningan, perunggu. Harganya ternyata juga sangat bervariasi, mulai dari 2 dijit hingga 3 dijit.

Pada saat pasar, pasti akan ada penampilan gamelan dari kelompok Mbah Dio ini. Mbah Dio dan kelompoknya juga sering dipanggil untuk pameran dan pentas di kota. Seperti di malam 1 suro nanti.

Gamelan berdampingan dengan kuda lumping, di mana harus ada 70 personil untuk penampilannya. Ternyata sekarang, drum juga ikut masuk ke dalam musik saat penampilan kuda lumping.

Kata Mbah Dio, ternyata sekarang banyak anak-anak muda yang tertarik untuk bermain gamelan. Malahan kayanya ada batasan umur antara yang muda dan yang tua.

Kami akhirnya berpamitan dan berjalan pulang melalui jalan di belakang area pasar. Kami mampir ke rumah Pak Muh dan membantunya mengikat tali serta mengelem bambu.

Kami mengobrol cukup lama, dengan segala kelucuan dan becandaannya. Ada pertanyaan garing dari Pak Muh, katanya, apa hewan yang paling besar di dunia?

Jawabannya adalah dinosaurus hamil kesengat lebah....

Akhirnya setelah puas tertawa dan mengobrol kami pulang ke rumah dan tidur.

Hari Minggu itu cukup santai, aku dan Dea pergi pagi-pagi untuk beribadah ke Gereja.

Aku misa di Gereja Santo Petrus dan Paulus Temanggung, tepat di seberang Indomaret. Meskipun hari itu adalah Hari Raya Pentakosta, misalnya hanya 1 jam. Berbeda bila aku misa di Bandung, mungkin akan memakan waktu 2 jam kurang.

Aku pun bertemu dengan teman dari komunitas dan mengobrol. Dea selesai ibadah dan kami pergi ke toko swalayan untuk membeli beras. Kami pulang dan beristirahat sebentar.

Kami pergi ke rumah Bu Ella, di sana sedang ada seminar tentang kekerasan seksual. Materinya cukup menarik dan banyak hal baru yang aku dapatkan selama seminar.

Di sana, aku makan wingko babat. Itu enak sekali, tapi kalau makan terlalu banyak jadi kenyang. Tapi sejauh ini, wingko babat adalah peringkat kedua makanan terenak sepanjang penjelajahan.

Setelah seminar selesai, kamu sempat mengobrol santai dengan Mbak Wening dan Mbak Siska.

Kami pulang ke rumah dan istirahat, malamnya kami tidak masak. Karena kami diundang oleh Bu Sanah yang berulang tahun untuk makan di rumahnya.

Di sana, kami main kartu 51 dan bohong-bohongan. Kalau main 51 tapi ditutup kartunya, itu susah sekali. Karena kita tidak tahu sama sekali apakah kartu yang kita ambil cocok dengan set yang kita miliki. 

Ternyata, kakak-kakak dari UMN membuat prank berantem. Bu Sanah tidak menebak bahwa itu adalah prank, namun dia tertawa setelahnya dan berpelukan dengan kami.

Kami mengobrol sebentar dan pulang ke rumah, bersiap untuk bangun pagi, karena esok subuh kami akan pergi ke kaki Gunung Prau!

You May Also Like