Tegukan pertama Kunyit Asem dalam hidupku terjadi di usia 4 tahun. Saat itu, Simbok, tukang jamu langganan Ibu selalu lewat setiap hari Rabu. Mungkin Ibu ingin memberikan kesan pertama tentang jamu sebagai sesuatu yang menyenangkan, makanya Kunyit Asem yang manis dan segar menjadi pilihan Beliau diantara jenis-jenis jamu lainnya. Kala itu belum muncul ketertarikan untuk tahu bagaimana proses pembuatan Kunyit Asem dan racikannya. Yang aku tahu hanya rasanya enak.
Beberapa dekade kemudian, barulah aku tahu bahwa racikan Kunyit Asem dibuat dari kunyit, sereh, jeruk dan gula merah. Kunyit yang tumbuh di bawah tanah adalah manifestasi dari Ibu Bumi. Kunyit adalah simbol dari kerendahan hati, bagian tanaman yang memberikan manfaat bagi kita tumbuh dengan cara tersembunyi dari mata manusia. Kunyit perlahan-lahan menyerap kasih sayang sang Ibu untuk memberikan ketangguhan hidup.
Sereh, yang tumbuh di permukaan adalah manifestasi dari hidup. Dia tumbuh bersama-sama menbentuk rumpun. Suatu komunitas. Sereh tak pernah tumbuh hanya sebatang. Sereh tak bisa sendirian.
Jeruk, buahnya yang menggantung adalah simbol dari angkasa. Langit. Langit yang menggelegar. Segar!
Gula merah, diolah manusia dari aren. Ketelatenan pengolah nira untuk memanjat pohon, menyadap aren dan memasaknya selama berjam-jam adalah manifestasi dari Ego manusia. Gula arenlah yang mengharmoniskan semua unsur Bumi, Hidup dan Langit menjadi Tunggal.
Seteguk Kunyit Asem berarti kita memasukkan unsur Alam Semesta ke dalam tubuh kita. Panas dan dingin tetap membawa bahagia.
Terima kasih Windu atas esai perdananya di Ririungan ini. Kontribusi cerita dan wacana di ruang belajar ini. Semoga berlanjut di esai selanjutnya. Salam. 🙏🏼🤗