Aku punya keponakan yang berselisih 8 bulan dengan anakku dan karena ia lahir mendekati akhir tahun maka kelasnya menjadi setahun di bawah anakku. Mereka tidak sering bertemu karena keponakanku tinggal di luar kota, tetapi setiap kali bertemu mereka seperti dua anak yang dibesarkan secara bersama. Banyak orang yang melihat pola asuh mereka serupa, cara mereka mengkritisi situasi juga mirip, bahkan kesukaan mereka pun hampir sama.
Setelah sebelumnya aku pernah dikagetkan oleh anakku yang tiba-tiba saja melontarkan sebuah pemikiran ketika makan siang, hari minggu kemarin giliran aku terhenyak mendengar cerita keponakan ini yang juga melontarkan sebuah kalimat saat sarapan dan sukses membuat aku dan ibunya menyadari kalau anak-anak kami sudah memiliki cara berpikirnya sendiri.
Dari anakku R; "Emosi itu seperti air dalam cangkir bu, butuh waktu untuk kembali tenang setelah dikocek"
Dari keponakanku T; "Seharusnya guru dan orangtua itu bisa melihat dari perspektif anak"
Menurut T yang terjadi di sekolah itu suka bias, enak untuk anak-anak atau enak untuk gurunya? Karena kalau anak-anak ditanya seru gak? Gak akan mungkin jawab gak seru. Pertanyaan berikutnya adalah sekolah mau buat orangtua senang atau anak senang? T ini sangat concern sekali dengan teman-temannya yang mungkin saja merasa bosan dengan penyampaian kakak (di sekolahnya memanggil guru dengan sebutan kakak juga), atau saat kakak memanggil anak yang jarang bicara, T sangat peduli pada perasaan temannya ini karena bisa saja jadi merasa kurang nyaman karena semua orang menunggu jawaban dia. Ditutup dengan pernyataan terakhir yang membuat cambuk bagiku, "Memang repot sih aku tahu, tapi kalau mau cari solusi ya harus mau repot"
Usai berbincang dengan ibunya aku berpikir antara hubunganku dengan anakku dan lalu hubunganku dengan anak didikku. Apakah selama ini aku hanya berpikir satu arah? Aku berpikir sendiri tanpa melibatkan mereka dalam merencakan apa yang menjadi program pembelajaran tanpa sekalipun bertanya apakah caraku sudah tepat atau belum? Karena bisa saja aku terlalu cepat menyampaikan? Dan sangat tidak menutup kemungkinan jawaban yang mereka berikan lebih kepada menjaga perasaanku sebagai pendamping mereka dikelas, bukan berdasar pada kebutuhan mereka terhadap asupan materi.
Sungguh hari yang luarbiasa! Dan tidak ada hal lain selain rasa terima kasihku karena diberikan kesempatan mengenal anak-anak hebat ini, membuatku terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.