Sejak engkau hadir, gundah tak lagi singgah
Aromamu yang sesekali melayang, tertangkap hidung tertelan senang
Tak perlu menuntut apapun, sebab tersedia apa yang aku perlu
Seperti pedati, langkah kakiku menuntun raga ini ke arahmu
Meski harus menunggu, penantianku tak pernah lahirkan ragu
Sapa dan senyum memercik teracik bagaikan bumbu
Canda dan temu teraduk lekat suarkan hangat
Rasa yang terhidang meramu syukur pada tiap suap
Hari berganti dan menu tak selalu sama
Dua hari tanpamu perutku hampa
Oh, Wosika! Ke mana laparku berlabuh saat kau tak ada?
Arah langkahku gontai mencari sesuap kepastian
Hingga saat engkau kembali, salatri takkan lagi menghinggapi.
Terima kasih Wosika
Wow cakep nih... muncul juga narasi tentang Wosika. Perlu diprint dan ditempel kak di Wosika... βπΌπ
Wosika adalah kita, kak. hehehe
Tulisannya asik sekali, kak Mamat. Ternyata wosika adalah pemadam kelaparan ya, kak π€
Nah, itu dia Bu. Tanpa wosika, bisa-bisa dilalap kobaran rasa lapar. hehe