Sudah mulai masuk penghujung tahun, aku melihat lembar yang tersisa dari buku jurnalku. Aku mengulang waktu ke saat pertama kali memutuskan membuat book binding, sederhana saja, aku ingin menulis sebagai sarana bagiku mengisi kekosongan. Tetapi seiring berjalannya waktu aku malah asik melebur dalam rutinitas baru. Ada satu rasa yang menarikku untuk selalu kembali melirik, mendekat, membuka, mengisi dan terakhir membaca ulang meski sebagin besar isinya berupa kumpulan jadwal, catatan rutin, serta beberapa pemahaman yang kutulis ulang seusai membaca atau mendengar sebuah diskusi.
Jika aku ditanya rencana, sejujurnya aku gak merasa punya rencana sepanjang tahun ini. Aku hanya mengisinya dengan keyakinan bahwa aku harus tetap bertumbuh kemana pun aku berjalan. Ya sebetulnya hampir mirip seperti rencana; saat punya tujuan pasti akan terpikir cara untuk sampai kesana, begitu pula ketika sedang menuju ke tempat tujuan maka aku sedang berjalan diatas rencana. Masalahnya, gak setiap rencana bisa terwujud mulus walaupun sudah disiapkan dengan baik. Selalu ada kemungkinan rencana itu melenceng jauh bahkan apa yang sudah disusun rapih harus berubah. Kurasa disitulah kita bertumbuh tanpa sadar. Ada kebenaran baru yang muncul seiring bertambahnya pemahaman.
Bisa jadi alasanku dulu ingin menulis jurnal telah berubah seiring berjalannya waktu. Ini seperti mengkonfirmasi ya, kalau diri bertumbuh dan ada saja tujuan-tujuan yang berubah. Maka betul juga kalau disebutkan bahwa satu-satunya kepastian dalam hidup adalah perubahan, namun aku meyakini yang absolut adalah waktu. Mau seperti apapun hidup berjalan, waktu ya begitu saja, siang jadi malam, malam jadi siang. Sedangkan manusia bergerak dalam limitasi. Kebentur sana, kebentur sini. Bisa bertahan? Ya bisa, cuma caranya berbeda untuk setiap orang.
Begini, maksudku kita punya waktu yang sama, tetapi apa yang diberikan dalam keterbatasan akan berbeda pada setiap orang. Sedikit atau banyak kan yang membuat takaran manusia, karena sedikitnya si anu dan si inu tidak pernah sama. Nah, saat mencatatkan semua rutin aku merasa seperti itu. Terheran sendiri karena ternyata masalahnya aku belum menggunakan waktuku dengan usaha yang maksimal. Namun sisi terbalik yang aku dapatkan, aku menjadi paham batasan diriku terhadap apa yang sedang menjadi tujuan. Singkatnya, perlu waktu lama menyadari hal yang dirasa hilang selama ini dan ternyata semua hanya soal sudut pandang saja. Kesimpulannya? Tuhan itu maha baik, hanya terkadang aku terlambat memahami pesan-Nya