Beberapa waktu lalu aku dibekali diagram penting genting oleh kak Wiwit. Menurutku cukup memadai untuk membedakan ruang-ruang mana saja yang boleh aku lewati untuk membantu anakku mengelola waktu.
Saat dijelaskan, terlihat mudah. Tetapi saat menempatkan mana hal yang genting ataupun penting nyatanya tidak semudah itu. Meski pada akhirnya diagram penting genting ini menjadi jalan keluar bagi kegalauanku perihal prioritas. Aku jadi berempati pada anakku karena dulu saat berbicara soal prioritas dan dia tidak mengerti karena aku tidak segamblang itu menggambarkannya. Begitu aku mengajaknya duduk bersama dengan mengaturkan apa-apa saja yang ada dalam kuadran I sampai IV itu, ia malah dengan mudahnya menyebutkan hal mana yang perlu diprioritaskan.
Secara sederhana kami meletakkan genting dalam fungsi waktu, mana yang saat ini harus disegerakan. Genting bisa menjadi penting dan penting belum tentu menjadi genting. Maka saat hal genting ini hilang dari list tentu efek besarnya bisa juga berdampak pada hal penting lainnya. Aku geli sendiri saat menjelaskan ini, sekian lama aku mencari cara dengan mengatakan "kerjakan ini dulu biar tenang mengerjakan yang lainnya" membutuhkan ekstra kesabaran sedangkan saat diagram tersebut ada dihadapan kami, sekejap saja segalanya terlihat jernih.
Oke, tapi aku tetap percaya kalau segala hal memang datang di waktu yang tepat. Begitu pula dengan pemahaman kami akan hal-hal seperti ini, serta kemampuan kami dalam berkomunikasi dengan cara-cara yang efektif.
Saat kami berdiskusi hal menarik yang muncul sebagai respon anakku adalah ia mengingatkan aku bahwa kesenangan itu sifatnya hanya sementara dan tidak menghilangkan/dapat menyelesaikan masalah. Hamdalah, sepaket kata sepakat hadir menyetujui cara yang pas dalam menyelesaikan semua hanya dengan menghadapinya. Terlepas apapun rasa yang hadir membersamai, ya dihadapi.
Kurasa selain fokus pada hal genting, kita juga perlu sesekali memprioritaskan hal penting. Bukan maksudnya mengabaikan apa yang menjadi sebuah deadline, tetapi kita perlu menyeimbangkan proporsi waktu. Bagi diriku sendiri disini aku jadi ikut belajar memahami terkadang aku lupa pada hal-hal penting yang mungkin memiliki nilai esensial juga karena terlalu fokus mengejar hal genting. Terutama dalam mengatur ritme kerja dan olahan diri.